Gagasan Bosch sejalan dengan uraian Read. Menurut Read, sejak 4000 tahun lalu, jejak pelaut Nusantara telah terekam di kerajaan Mesir, Fir’aun dinasti ke-12, Sesoteris III. Lewat data arkeolog mengenai transaksi Mesir dalam mengimpor dupa, kayu eboni, kemenyan, gading, dari daratan misterius tempat “Punt” berasal. Meski dukungan arkeologis sangat kurang, negeri “Punt” dapat diidentifikasi setelah Giorgio Buccellati menemukan wadah yang berisi benda seperti cengkih di Efrat tengah. Pada masa 1.700 SM itu, cengkih hanya terdapat di kepulauan Maluku. Dengan ditemukannya sisa-sisa kambing di situs pemukiman Pulau Timor, menjadi bukti perdagangan pelaut Austronesia dengan Timur tengah dan kemungkinan kuat menggunakan kano atau perahu untuk pengangkutannya.
Dengan memberikan begitu banyak bukti arkeologis, Read juga menunjukan tentang bagaimana para pelaut Nusantara terlibat dalam perdagangan bangsa Cina. Menurut Read, bangsa Cina saat itu boleh saja mahir dalam banyak hal, tetapi tidak dalam bidang kelautan. Karena itu, mereka memanfaatkan jasa para pelaut Nusantara yang menggunakan perahu dengan sebutan “Kun Lun” untuk mencari obat panjang usia, dan membantu Cina dalam pengiriman cargo dari Persia, Sri Langka dan India sekitar Abad 6 M.

Dan tanpa sadar, aku pun menyenandungkan salah satu tembang karya Ibu Sud …….
“Nenek moyangku orang pelaut gemar mengarung luas samudra menerjang ombak tiada takut menempuh badai sudah biasa”
Dari buku Slamet Muljana, anganku pun mengembangan hingga Kerajaan Sriwijaya yang dalam peta sejarah Asia Tenggara lama, namanya nyaris menjadi mitos dari sebuah kebesaran dan keagungan. Selain dikenal sebagai kerajaan maritim terbesar di tanah Sumatera, nama Sriwijaya pun terdengar harum karena keterbukaannya kepada dunia luar. Reputasi Sriwijaya sebagai kerajaan yang berbudaya juga dikenal luas, karena di Sirwijayalah untuk pertama kalinya agama Buddha berkembang pesat.
Konon, Sriwijaya membangun armada lautnya dari pelaut nomaden. Menurut Read, armada laut yang perkasa itu sangat boleh jadi adalah para pelaut Bajau. “Mereka mengarungi lautan seperti layaknya burung-burung laut,” kata pelancong bernama Rayomond Kennedy, sebagaimana dikutip Read.
Asal-usul orang Bajo erat kaitannya dengan pelaut lain, yaitu bangsa Bugis (Bugi atau Buki), orang Mandar dan orang Makassar. Mereka mempunyai kekerabatan dengan tau-Wugi. Meski berasal dari Bugis, kebiasaan-kebiasaanya bervariasi, tergantung tempat yang ia diami. Mereka mampu beradaptasi dan dengan cepat menguasai bahasa penduduk lokal. Orang Bajo ada yang tinggal di perahu kecil atau rumah terapung. Mereka dilahirkan, tinggal, makan, tumbuh, dan meninggal di perahunya. Ada juga yang tinggal di kapal bercadik yang memiliki tiga atau empat penyangga.
Di abad ke-7, orang Tionghoa…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi