Di abad ke-7, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan di Sumatera dan tiga kerajaan di Jawa yang menjadi bagian imperium Sriwijaya. Di akhir abad ke8 beberapa kerajaan di Jawa, antara lain Tarumanegara (Jawa Barat) dan Holing/Kalingga (Jawa Tengah) berada di bawah pengaruh Sriwijaya. Pada masa ini pula wangsa Budha Sailendra di Jawa Tengah berada di bawah dominasi Sriwijaya. Berdasarkan prasasti Kota Kapur, imperium ini menguasai bagian selatan Sumatera hingga Lampung, mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Laut China Selatan, Laut Jawa dan Selat Karimata.
Pada masa Samaratungga (792-835), ekspansi kerajaan mulai dihentikan. Sejak itu pula Samaratungga mulai memperkuat kekuasaannya di Jawa, dan membangun Candi Borobudur. Candi ini, saya kira, bukan sekadar tetenger atau bangunan yang disusun oleh lebih dari 2.000.000 blok batu dan bervolum 56.000 m3, tetapi, sekali lagi saya kira, inilah sebuah “textbook” raksasa ajaran Buddha untuk membantu manusia mencapai pencerahan.
Candi dengan bentuk teratai kuncup ini terbagi tiga: Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu; mencerminkan esensi kosmologi dan alam semesta. Relief dinding Borobudur yang panjangnya lebih dari dua mil ini juga mengukir kenangan indah riwayat hidup Buddha Sakyamuni, prinsip-prinsip ajaran Buddha, hingga kehidupan masyarakat lokal di sekitar Borobudur, serta tak pula lupa, pahatan perjalanan pelaut ulung Nusantara dengan perahu bercadik, dari Nusantara – Samudra Hindia – Maldives – Seychelles – Madagaskar – Good Hope (Tanjung Harapan, Afrika Selatan) – hingga Ghana di Afrika Barat.
Menurut Jainal D Rosul, pada abad ke-12, wilayah imperium Sriwijaya meliputi Sumatra, Sri Lanka, Semenanjung Malaka, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Philipna. Dengan penguasaan tersebut, kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan maritim yang hebat hingga abad ke-13. Mungkin karena itu pula, Bung Karno, dalam pidatonya pada 1 Juni 1945 menyatakan bahwa, “……bukan semua negeri-negeri di tanah air kita yang merdeka di jaman dahulu adalah nationale staat. Kita hanya 2 kali mengalami nationale staat, yaitu di zaman Sriwijaya dan zaman Majapahit. Di luar itu kita tidak mengalami nationale staat…….”
Kala itu, seperti dituliskan Pramoedya Ananta Toer, “arus bergerak dari selatan ke utara, dari Nusantara ke Atas Angin. Majapahit adalah kerajaan laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi. Kapal-kapalnya, muatan-muatannya, manusianya, amal dan perbuatannya, cita-citanya—semua itu—lah arus selatan ke utara. Segala-galanya datang dari selatan. Lalu, Majapahit jatuh. Sekarang orang tak mampu lagi membuat kapal besar. Kapal kita makin lama makin kecil, seperti kerajaannya. Karena, ya, kapal besar hanya bisa dibikin oleh kerajaan besar. Kapal kecil dan kerajaan kecil menyebabkan arus tidak bergerak ke utara, sebaliknya, dari utara sekarang ke selatan, karena Atas Angin lebih unggul, membawa segala-galanya ke Jawa, termasuk penghancuran, penindasan dan penipuan. Makin lama, kapal-kapal kita akan semakin kecil untuk kemudian tidak mempunyai samasekali.”
Pengerdilan ini terus…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi