KEMPALAN: Nalar seperti ingin digiring untuk menyebutnya sebagai pahlawan, atau setidaknya melihatnya sebagai orang yang terzalimi, sehingga saat keluar dari “hotel prodeo” ia layak disambut selayaknya. Tidak cuma media infotainment yang memang biasa menjual berita selebritis, tapi media serius pun asyik juga memberitakan, seolah sesuatu dan penting.
Media khususnya televisi, memang lihai membentuk opini sesuai dengan yang diinginkan. Menggiring pemirsanya guna meyakinkan apa yang disampaikan benar adanya. Disampaikan tentu tidak sekali pemberitaan, tapi berkali-kali, semacam kisah berseri. Sehingga opini yang dijejalkan terbentuk, membuat oleng pemirsanya.
Pahlawan pun seolah bisa dibentuk lewat pemberitaan yang bertubi-tubi, meski yang diberitakan itu bukan yang pantas diberitakan bak pahlawan, disebabkan perbuatan masa lalu yang menjijikkan. Media mestinya bertanggung jawab atas pemberitaan dalam menggiring pemirsanya untuk mempercayai apa yang diberitakan.
Media televisi acap memberitakan berita yang hanya disuka pemirsanya. Atau setidaknya disesuaikan dengan yang disuka pemirsanya. Fungsi media sebagai alat kontrol dan edukasi terabaikan. Setidaknya itu jadi pilihan, dan itu demi ratting tinggi.
Hari-hari ini kita disuguhi berita selebriti seolah pahlawan olah raga peraih medali emas, yang disambut selayaknya, penuh kebanggaan. Tidak disambut di bandara, tapi dari pintu gerbang penjara/lapas.
Sambutan dengan kalungan bunga, dan tak ketinggalan bunga tangan lumayan besar dan mewah, itu jika dibanding yang didapat Greysia Polii dan Apriyani Rahayu, peraih medali emas bulu tangkis ganda wanita Olimpiade Tokyo, 2020. Disiapkan mobil sport warna merah, dan sang “pahlawan” berdiri di mobil itu dengan penuh keriangan, masker pun diturunkan ke janggutnya agar wajah nyengirnya tampak benderang. Lebih heroik lagi, kedua tangannya mengepal dan diangkatnya tinggi-tinggi, menyambut elu-eluan fans yang sudah menanti menyambutnya.
Media infotainment mengikuti perhelatan itu dengan rencana yang sudah diatur sebaik mungkin, mengikuti arah pergerakan ke manapun mobil melaju, dan menyulap jadi berita yang menggiring pemirsa menganggapnya ia layaknya pahlawan.

Maka dosa masa lalu, peristiwa sekitar 6 tahun yang menghebokan jagat pemberitaan, itu coba dihilangkan dalam pemberitaan-pemberitaan televisi. Seolah ia dihukum karena kasus tidak seberapa, dan kita diminta untuk bisa memahami.
Karenanya, penyambutan atasnya dibuat sesemarak mungkin. Akunya, beberapa televisi siap dengan program acara yang telah disiapkan untuknya. Maka, reaksi masyarakat luas menolak lewat petisi agar yang bersangkutan tidak dihadirkan pada acara apapun. Lebih dari 200 ribu orang yang menandatangani petisi itu.
Sebenarnya, ia berhak mendapat pekerjaan apapun itu. Ia sudah menjalani hukumannya lebih dari 5 tahun. Ia adalah Saipul Jamil, penyanyi dangdut, yang dihukum karena melakukan kejahatan seksual. Dan itu pada anak lelaki dibawa umur, yang tinggal dengannya, itu di tahun 2016.
Peristiwa menjijikkan yang mengguncang jagat publik kala itu, seperti ingin dikubur rapat-rapat, dan lalu ingin dihadirkan Saipul Jamil yang baru, yang sudah berubah dan seterusnya. Awam dicekoki pemberitaan tentangnya, seolah itu sesuatu, penting dan perlu.
Saipul Jamil nemang punya hak untuk hidup, itu tidak ada yang boleh melarang. Ia boleh bekerja apa saja yang dimaui. Tapi publik luas pun juga punya hak untuk menentukan pilihan tayangan yang pas untuknya. Maka jika muncul petisi penolakan atasnya, itu juga mestinya jadi perhatian media untuk mempertimbangkan. Dah, itu saja! (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi