TOKYO-KEMPALAN: Leani Ratri Oktila akan selalu teringat insiden naas yang menimpanya, sedekade silam. Sebab andaikan tidak ada musibah kecelakaan sepeda motor yang membuatnya kaki kirinya jadi lebih pendek 11 sentimeter, dia takkan bisa merasakan momen terindah dalam hidupnya.
Sabtu petang (4/9) di Yoyogi National Gymnasium, Tokyo, Ratri membawa Merah Putih naik ke podium tertinggi dalam cabor bulutangkis nomor ganda putri SL3-SU5. Berpasangan dengan Khalimatus Sadiyah, Ratri mempersembahkan emas pertama bagi Indonesia.

Saat final, Ratri-Khalimatus menundukkan ganda putri China Cheng Hefang-Ma Huihui dengan dua gim langsung, 21-18 21-12. ’’Saya selalu berkata bahwa saya akan tunjukkan semua yang terbaik dalam diri saya atas nama Indonesia, memberikan semuanya untuk rakyat Indonesia di tanah air,’’ ucap atlet para badminton berusia 30 tahun itu dalam situs resmi Olympics 2020.
’’Saya senang bisa berdiri di sini, di Paralimpiade dan untuk kali pertama saya bertanding di Paralimpiade,’’ tambah atlet para badminton kelahiran Bangkinang, Riau tersebut. Momen ini yang tak dia bayangkan ketika mengalami kejadian mengerikan pada 2011.
Ratri mungkin takkan bisa berdiri di podium teratas seperti Sabtu petang itu andaikan dia tidak mengalami kecelakaan motor itu. Saat itu, saat usianya masih 20 tahun, bertanding di ajang sekelas Olimpiade jadi impiannya. Sama seperti pebulutangkis belia lainnya.
Sayang gara-gara kecelakaan itu dia tidak bisa menuntaskan mimpinya jadi pebulutangkis di Olimpiade. ’’Sejak saya masih berusia tujuh tahun, saya sudah berlatih bulu tangkis,’’ kenang Ratri, seperti dikutip dari situs Badminton Asia.
Ratri beruntung punya orang tua yang selalu membangkitkan motivasinya ketika dirinya hampir kehilangan mimpi-mimpinya. Bahkan itu yang tetap dia rasakan sampai sekarang. ’’Jika tak ada dukungan dari keluarga, saya takkan bisa jadi seperti ini,’’ sebut Ratri.

Walaupun Ratri mengakui orang tuanya bukan orang-orang di lingkaran bulutangkis atau pecinta olahraga tepok bulu itu. Ayahnya hanya seorang petani. Sedangkan ibunya hanyalah ibu rumah tangga biasa. ’’Mereka selalu mendorongku mengejar setiap impianku,’’ imbuhnya.
Mimpi Ratri di Tokyo tidak berhenti sampai Sabtu petang. Minggu ini, dua final menanti Ratri. Yaitu final tunggal putri SL4 ketika dia menghadapi atlet para badminton China Cheng Hefang.
Lalu, Ratri juga membuka peluang hat-trick medali emas saat menemani Hary Susanto dalam final ganda campuran SL3-SU5. Di final, pasangan Ratri-Hary akan berhadapan dengan ganda campuran Prancis, Lucas Mazur-Faustine Noel. (Yunita Mega Pratiwi)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi