Senin, 20 April 2026, pukul : 13:22 WIB
Surabaya
--°C

Diskusi Fotografi Ubaya, Pakar Belanda pun Terkesan Keindahan Trawas

MOJOKERTO-KEMPALAN: Pemandangan Trawas sangat indah dan udaranya enak banget. Demikian yang diucapkan oleh Ki Lyn Tan dari Belanda saat ditanya kesannya tentang Trawas Mojokerto. Karena kesan yang baik itu Ki Lyn Tan langsung menyatakan bersedia menjadi nara sumber diskusi Fotografi Desa Penanggungan Kecamatan Trawas Mojokerto.

KiLyn Tan, pakar fotografi dari Belanda dan sekaligus Founder Click Click Community,  sering bertandang ke Indonesia. Hunting foto keindahan alam dan budaya adalah kegiatan yang dilakukannya. “Hunting foto sekaligus mempromosikan wisata Indonesia. Banyak spot wisata menarik di Indonesia. Saya pernah ke Papuma Jember, Bromo, Ubaya Trawas, Yogyakarta, Badui Banten, Bali, Lombok, dan Pulau Derawan-Kaltim”, kata Ki Lyn Tan yang beberapa kali mengajak anggota komunitas fotografi dari Negeri Kincir Angin itu untuk berwisata di Indonesia. Ki Lyn Tan juga pernah menjalin kerjasama dengan Teknik Informatika Ubaya mengembangkan aplikasi-aplikasi pembelajaran bagi pelajar sekolah dasar di Belanda.

Diskusi fotografi tentang Desa Penanggungan Trawas diselenggarakan pada tanggal 24 Agustus 2021. Salah satu kegiatan pengabdian pada masyarakat ini merupakan kerjasama Universitas Surabaya (Ubaya) dengan Komunitas Bumi Penanggungan.

Diskusi fotografi tentang Desa Penanggungan Trawas diselenggarakan pada tanggal 24 Agustus 2021. Salah satu kegiatan pengabdian pada masyarakat ini merupakan kerjasama Universitas Surabaya (Ubaya) dengan Komunitas Bumi Penanggungan. Diskusi secara daring ini diikuti anggota Komunitas Bumi Penanggungan, remaja desa Penanggungan, dan dosen prodi Teknik Informatika dan Fakultas Industri Kreatif Ubaya.

Sebagai nara sumber ini Ki Lyn Tan menyampaikan beberapa teknik dasar fotografi. “Salah satu hal yang penting adalah Point of Interest (POI). Atur obyek foto sedemikian hingga orang langsung melihat titik atau bagian dari foto yang menarik. Selain itu, komposisi juga perlu diperhatikan. Lakukan cropping untuk obyek yg tidak seharusnya ada pada frame. Perhatikan juga warna. Kadang-kadang kesalahan pengaturan lensa dan pencahayaan mengakibatkan warna menjadi tidak natural”, Ki Lyn tan menjelaskan ke peserta diskusi.

Sulis Abadi, pegiat budaya desa yang juga merupakan ketua Komunitas Bumi Penanggungan, mengatakan bahwa saat ini Desa Penanggungan berupaya mempromosikan potensi wisatanya melalui media sosial. Salah satunya dengan menggunakan aplikasi Instagram (IG) yang banyak diakses oleh remaja.

“Kami mendorong para remaja untuk mengisi akun IG masing-masing dengan foto dan video untuk mempromosikan wisata di Desa Penanggungan. Banyak obyek wisata yang menarik di sini. Ada Dadhak, Coban Watu Gilang, dsan Taman Bunga Refugia. Selain itu ada Brenjonk Kampung Organik atau biasa disebut kampung Brenjonk adalah salah satu wisata edukasi yang di dalamnya terdapat rumah warga yang dipenuhi kebun-kebun organik. Di Brenjonk pengunjung dapat menikmati pemandangan segar dan hamparan sayur dan buah organik,” papar Sulis Abadi.

Menurut Sulis Abadi masukan dari Ki Lyn Tan sangat menarik dan bermanfaat. Arahan dari nara sumber yang memiliki kapasitas di dunia fotografi harus bisa dimanfaatkan. “Apa yang disampaikan ini sangat membantu kami untuk membuat foto-foto yang lebih menarik kedepannya sehingga upaya memperkenalkan potensi wisata Desa Penanggungan dapat mencakup ke ranah yang lebih luas.  Saat ini, rata-rata generasi muda di desa sudah memiliki akses dan menjadi pengguna media digita. Harapan kami generasi muda di desa dapat turut andil dalam membangun wisata desa melalui gerakan-gerakan sederhana yang dapat dilakukan kapan pun menggunakan ponsel untuk mengabadikan pemandangan alam, aktifitas warga, tradisi masyarakat dan lain sebagainya. Kemudian dikemas dalam karya fotografi dam diupload ke media sosial. Kemudian desa ini diketahui banyak orang sehingga menarik minat untuk berkunjung ke Desa Penanggungan”, kata Sulis Abadi.

Diskusi yang menjadi satu rangkaian kegiatan workshop dan lomba bertema “Media Sosial untuk Promosi Desa Wisata” ini adalah bentuk dari Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilakukan oleh Ubaya. Ketua tim PkM Desa Penanggungan Mohammad Farid Naufal mengatakan bahwa banyak potensi di desa yang perlu dipublikasikan secara luas. Perlu memanfaatkan teknologi tepat guna, dalam hal ini teknologi informasi, untuk mengenalkan roduk pertanian, UMKM, serta potensi wisata desa.

“Juli lalu kami sudah menyelenggarakan workshop bagi para remaja Desa Penanggungan Trawas Mojokerto. Kami akan mendukung upaya promosi wisata melalui media sosial.  Penduduk Desa Penanggungan, khususnya para remaja perlu didorong dan difasilitasi memanfaatkan media sosial untuk melakukan kegiatan bermanfaat. Promosikan potensi wisata yang dimiliki. Semoga setelah pandemi bisa dikendalikan, akan banyak wisatawan yang mengunjungi desa penanggungan,” pungkas Mohammad Farid Naufal dosen Sistem Informasi Bisnis Teknik Informatika Ubaya. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.