Senin, 1 Juni 2026, pukul : 05:13 WIB
Surabaya
--°C

Dicari Salahnya, Justru Anies Tampak Benar: Formula E, dan Interpelasi Main-main

KEMPALAN: Formula E ajang internasional bergengsi. Rencana diselenggarakan tahun 2020 lalu. Karena pandemi Covid-19, tentu Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, lebih mementingkan keselamatan warganya, dan lalu menundanya. Menunda lho, bukan membatalkan.

Dua fraksi di DPRD DKI Jakarta, PDIP dan PSI, melihat celah menunda itu serasa punya kesempatan menggoreng isu pembatalan dengan hilangnya commitment fee yang sudah dibayarkan. Padahal menunda itu uang tidak hilang. Menunda itu beda dengan membatalkan.

Tapi ya itu tadi, lagi-lagi ya selalu saja fraksi PDIP dan PSI di DPRD DKI Jakarta, yang pencilaan seperti kerjanya bukan mengawasi kerja Gubernur, tapi mencoba menyalah-nyalahkan sesuatu yang tidak salah. Kelakuan konyol itu terus dipertontonkan, tentu memuakkan. Seperti tidak ada kerjaan saja.

Tahun 2021 pun penyelenggaraan Formula E juga ditunda karena belum memungkinkan untuk diselenggarakan, pandemi masih meninggi. Anies tentu memikirkan layak dan tidak layaknya menyelenggarakan ajang itu, kesehatan warganya tentu nomor satu. Tuduhan bahwa ada kerugian nominal yang tidak kecil karena “gagalnya” penyelenggaraan Formula E terus disuarakan, lagi-lagi dua partai tadi.

Ilustrasi, logo PSI dan PDIP (kolase Kempalan)

Tapi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melihat tidak demikian. Tidak ada kerugian atas tertundanya acara itu, dan Pemprov DKI Jakarta seperti biasanya mendapat penilaian Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

BACA JUGA  Paradoks: Gelombang Kekecewaan Pengusaha Terhadap Prabowo – Gibran Meluas

Instruksi Gubernur (Ingub) dikeluarkan, Formula E akan diselenggarakan Juni 2022. Tentu Ingub itu muncul dengan pertimbangan terukur. Pandemi sudah melandai, dan pada saat penyelenggaraan nanti warga Jakarta sudah semua divaksin. Langkah Anies dan Pemprov DKI Jakarta, itu bisa disebut langkah terukur.

Dengan penyelenggaraan ajang Formula E, tentu banyak hal positif yang akan didapat. Bukan sekadar nama Anies Baswedan yang menapak naik, tapi yang utama adalah Indonesia di mata internasional yang dianggap mampu menyelenggarakan ajang bergengsi. Terutama lagi, Indonesia di mata dunia bisa dilihat sebagai negara yang sudah aman dari pandemi Covid-19. Menjadi negara yang aman untuk dikunjungi.

Karenanya, apa yang diributkan dua partai tadi, PDIP dan PSI, ada nominal uang tidak kecil yang hilang bisa terjawab, bahwa dengan diselenggarakan ajang Formula E maka commitment fee tidak hilang.

Memang aneh sikapnya, menunda ajang Formula E karena pandemi Covid-19 meninggi, itu dimasalahkan dengan nominal uang yang tidak kecil hilang. Melihat Covid-19 melandai turun, lalu muncul Ingub penyelenggaraan ajang Formula E pada Juni 2022, eh kok malah dipermasalahkan dengan argumen seolah Anies lebih mengutamakan ajang Formula E ketimbang kesehatan masyarakat akibat pandemi. Anies tampak dibuat tidak ada benar-benarnya.

Melihat sikap dua fraksi DPRD DKI Jakarta, yang offside dengan selalu mencari kesalahan bukan pengawasan, dengan kredo “pokoknya” bagaimana Anies Baswedan salah, atau setidaknya tampak salah. Pendekatannya seperti pendekar mabuk yang nyasar gebuk apa saja tanpa nalar.

BACA JUGA  Baitul Mal Beda Dengan APBN, Ustadz…!

Nalar absurd itu ditampakkan dengan mengajukan interpelasi atas Ingub penyelenggaraan Formula E, dan yang lalu ditentang tujuh fraksi DPRD DKI Jakarta lainnya, yang nalarnya masih jalan sempurna. Gak sudi ikut-ikutan jadi pendekar mabuk. Hehehee…

Mencoba menjegal Anies Baswedan dengan interpelasi, itu jelas langkah politik. Semua analisa lalu menarik jauh kedepan, dan itu di tahun 2024. Anies Baswedan dianggap sebagai kandidat kuat menuju RI-1, maka upaya sekuat tenaga menjegalnya dengan apa saja dianggap jadi lumrah, termasuk juga menggagalkan ajang Formula E.

Interpelasi itu tampak main-main, dan dua partai langganan main-main (PDIP dan PSI) selalu menggoda dan mengganjal kerja-kerja Anies. Makin melakukan langkah main-main, subhanallah yang didapat Anies Baswedan jusru sikap simpati masyarakat, dan itu keuntungan tersendiri.

Menggoyang dan coba-coba menjegal Anies Baswedan akan terus dilakukan, meski gak pernah berhasil. Rasa gak kapok-kapok terus diperlihatkan. Kok gak malu ya… Heran gak belajar dari goyangan gak manjur yang terus diulang-ulang. Serius ngeliat lakunya benar-benar mblenek… (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.