KABUL-KEMPALAN: Beberapa hari setelah Taliban merebut sebuah distrik terpencil di utara Afghanistan, mereka mengeluarkan perintah pertama mereka dalam bentuk surat kepada imam setempat.
“Dikatakan perempuan tidak bisa pergi ke pasar tanpa pendamping laki-laki, dan laki-laki tidak boleh mencukur jenggot mereka,” kata Sefatullah, seorang warga distrik Kalafgan.
Para pemberontak juga melarang merokok, tambahnya, dan memperingatkan siapa pun yang melanggar aturan “akan ditindak secara serius”.
Melansir Dawn, Taliban membuat kemajuan besar di seluruh negeri saat mereka memanfaatkan penarikan terakhir pasukan asing — merebut distrik, merebut penyeberangan perbatasan utama, dan mengepung ibu kota provinsi.
Di beberapa daerah, mereka kembali memperkenalkan interpretasi keras dari aturan Islam yang membuat mereka terkenal sampai digulingkan oleh invasi pimpinan AS yang usai serangan 11 September 2001.
Bulan lalu, mereka mengambil Shir Khan Bandar, sebuah pos bea cukai utara yang menghubungkan negara itu dengan Tajikistan melalui jembatan yang didanai AS yang membentang di sungai Panj.
“Setelah Shir Khan Bandar jatuh, Taliban memerintahkan para wanita untuk tidak keluar dari rumah mereka,” kata Sajeda kepada AFP bahwa dia bekerja di sebuah pabrik lokal pada saat itu.
Ia menambahkan ada banyak perempuan dan pemudi bekerja membuat sepatu dan menjahit serta ketakutan karena aturan dari Taliban. Aturan agar perempuan tetap di rumah dan hanya keluar jika ada lelaki yang menemani sudah diterapkan Taliban semenjak menguasai Afghanistan dari 1996 hingga 2001.
Laki-laki relatif lebih bebas tetapi diperintahkan untuk tidak bercukur, akan dipukuli jika tidak menghadiri sholat, dan disuruh hanya memakai pakaian adat.
Selain itu, ada sebuah pernyataan yang mengaku datang dari Taliban, beredar di media sosial minggu ini, memerintahkan penduduk desa untuk menikahkan anak perempuan dan janda mereka dengan prajurit Taliban.
“Semua imam dan mullah di daerah yang direbut harus memberi Taliban daftar anak perempuan di atas 15 tahun dan janda di bawah 45 tahun untuk menikah dengan pejuang Taliban,” kata surat itu, yang dikeluarkan atas nama komisi budaya Taliban.
Hal itu membawa kembali kenangan pahit dari dekrit yang dikeluarkan oleh Kementerian Penyebaran Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan selama tugas pertama Taliban berkuasa.
Akan tetapi, juru bicara Taliban, Zahibullah Mujahid menolak bahwa kelompoknya mengeluarkan pernyataan apapun dan menganggap pernyataan yang beredar sebagai propaganda.
“Mereka (surat pernyataan) adalah rumor-rumor yang disebarkan menggunakan surat buatan,” ujarnya.
Sementara di beberapa wilayah yang berhasil diambil alih Taliban, seperti di distrik Yawan, para penduduk dikumpulkan di masjid setempat dan diberitahu mereka tidak diperbolehkan keluar rumah pada malam hari.
Hal ini diperkuat dengan pernyataan Mohammad Nazir, seorang penduduk setempat yang diwawancarai oleh AFP News dan mengatakan tidak ada yang boleh pergi malam hari dan para penduduk dilarang menggunakan pakaian berwarna merah dan hijau yang mengacu pada warna bendera resmi Pemerintah Afghanistan.
“Semua orang harus memakai sorban dan tidak ada orang yang bisa bercukur,” kata Mohammad seraya menambahkan gadis yang sekolah di atas kelas enam dilarang masuk sekolah.
Keadaan Afghanistan semakin memanas semenjak mundurnya pasukan Amerika Serikat dan sekutunya dari medan itu setelah 20 tahun bercokol di sana. Hal ini diikuti dengan perundingan damai yang stagnan antara Taliban dengan Pemerintah Afghanistan. (Dawn, reza hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi