ISLAMABAD-KEMPALAN: Akhirnya Amerika Serikat setuju untuk melepaskan aset Iran yang dibekukan, diperkirakan nilainya mencapai $ 120 miliar.
Sebelumnya AS juga sepakat bahwa Iran tidak boleh membuka kembali Selat Hormuz karena ‘Keterbatasan Teknis’.
Araghchi benar-benar bermain Catur 6D, Donald Trump benar-benar terlihat tidak berdaya sekarang. Sejarah akan mengingat Araghchi sebagai orang yang mengakhiri arogansi Negara Adidaya AS
Washington dan Teheran telah mencapai titik balik yang jarang terlihat sejak era JCPOA 2015.
Menurut sumber intelijen yang dekat dengan lingkaran dalam Gedung Putih dan Kementerian Luar Negeri Iran, Presiden Donald Trump secara diam-diam telah menyetujui empat prasyarat utama yang diajukan pihak Iran sebagai syarat awal sebelum pembicaraan nuklir dan keamanan regional memasuki fase formal.
Kesepakatan prinsip ini dikonfirmasi melalui saluran back-channel di Oman dan Qatar selama dua pekan terakhir.
Prasyarat tersebut bukan sekadar daftar tuntutan teknis, melainkan paket komprehensif yang dirancang untuk mengunci posisi strategis Iran sekaligus membatasi ruang gerak militer AS di Teluk Persia.
Melansir Majalah Intelijen, berikut rincian lengkap yang diperolehnya dari sumber-sumber independen di ketiga ibu kota:
1. Pelepasan Aset Iran yang Dibekukan
Trump telah memberikan lampu hijau untuk pencairan aset Iran senilai lebih dari US$ 10 miliar yang masih terkunci di bank-bank Eropa dan Asia akibat sanksi maksimum era pertama kepresidenannya. Dana ini mencakup hasil penjualan minyak sebelum 2018 serta cadangan mata uang asing.
Pelepasan dilakukan secara bertahap melalui mekanisme escrow yang telah diawasi oleh Bank Sentral Swiss, dengan klausul “snap-back” otomatis jika Iran melanggar komitmen nuklir tahap awal.
2. Gencatan Senjata Total di Lebanon
Prasyarat kedua menuntut gencatan senjata permanen juga di front Lebanon selatan. Israel dan Hizbullah diwajibkan menghentikan segala bentuk operasi ofensif dan defensif mulai 48 jam setelah pengumuman resmi.
Sumber intelijen Israel yang dihubungi secara terpisah menyebutkan bahwa Tel Aviv telah menerima tekanan kuat dari Washington untuk menyetujui garis biru yang direvisi, termasuk penarikan pasukan IDF hingga 10 km dari perbatasan. Iran, melalui Hizbullah, diharuskan membatasi pengiriman roket dan drone ke level “defensif minimum”.
3. Pembatasan Lalu Lintas Selat Hormuz Menjadi 15 Kapal Per Hari dengan Pembayaran Transit
Ini adalah klausul paling inovatif sekaligus paling kontroversial. Iran diizinkan memberlakukan kuota resmi maksimal 15 kapal tanker dan kargo per hari melewati Selat Hormuz – penurunan drastis dari rata-rata historis 40–50 kapal.
Bahwa setiap kapal yang melintas wajib membayar “biaya transit keamanan” langsung ke rekening yang dikendalikan oleh Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC). Mekanisme ini secara efektif memberikan Iran kendali finansial dan operasional atas arteri utama pasokan minyak dunia, sekaligus membuka sumber pendapatan baru yang tidak dapat disanksi langsung oleh Barat.
4. Larangan Pengerahan Kembali Pasukan dan Peralatan AS
Prasyarat terakhir secara eksplisit melarang Pentagon mengerahkan kembali pasukan dan juga peralatan militer ke wilayah Teluk Persia atau pangkalan-pangkalan di Irak dan Suriah yang pernah dikosongkan pasca-2024.
Artinya, setiap pengiriman baru – baik pasukan, rudal, maupun kapal induk – harus mendapat persetujuan Teheran terlebih dahulu. Sumber di Pentagon menyebut klausul ini sebagai “jaminan non-eskalasi” yang paling menyakitkan bagi kalangan hawkish di Partai Republik.
Mengapa Trump Mengalah?
Para analis senior di komunitas intelijen Amerika menilai keputusan Trump sebagai kalkulasi politik jangka pendek yang brilian, namun berisiko tinggi. Dengan menerima paket ini, Presiden Trump berhasil menarik Iran ke meja perundingan sebelum musim panas 2026.
Sehingga ia dapat mengklaim “kesepakatan terbesar abad ini” menjelang pemilu paruh waktu. Namun, harga yang dibayar adalah pengakuan de facto atas pengaruh Iran di Lebanon dan Selat Hormuz – dua wilayah yang selama ini menjadi garis merah Washington.
Sumber di Tel Aviv menyatakan kekhawatiran mendalam bahwa gencatan senjata Lebanon hanya memberi Hizbullah waktu untuk re-arming di bawah payung diplomatik baru.
Sementara itu, analis energi di London memperingatkan bahwa pembatasan Hormuz 15-kapal/hari berpotensi menaikkan harga minyak Brent hingga US$ 120 per barel dalam hitungan minggu jika terjadi gangguan kecil saja.
Kesepakatan prinsip ini dijadwalkan diumumkan secara resmi dalam waktu 10 hari ke depan, kemungkinan besar melalui pernyataan bersama di Muskat, Oman. Namun, seperti biasa dalam diplomasi Timur Tengah, “kesepakatan di atas kertas” seringkali berbeda dengan realitas di lapangan.
Satu-satunya yang pasti: peta kekuasaan di Teluk Persia baru saja digambar ulang – kali ini dengan tinta yang disetujui langsung oleh Donald Trump. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi