
KEMPALAN: Lintasan informasi tentang pandemi mengalir deras bertumpah ruah bagai air bah, berserakan diberbagai media, bik itu media sosial maupun media arus utama. Kita bisa dapatkan berbagai informasi tentang apa saja yang berhubungan dengan penanganan covid 19. Mulai dengan informasi statistik jumlah terkonfirmasi, sembuh dan yang mengalami kematian. Ada juga informasi bagaimana menghadapi gejala gejala covid dengan berbagai tips dan cara mengatasinya. Derasnya informasi itu tentu berkecenderungan untuk menekan alam bawah sadar mersepon sesuai dengan kebutuhan masing – masing. Ada yang panik, ada yang tenang dan biasa biasa saja dan adalagi yang cenderung cuek serta mengabaikan bahkan melawan.
Mengapa bisa terjadi seperti itu ? Semakin sering sebuah simbol ditanamkan pada alam bawah sadar manusia maka akan secara otomatis ketika melihat dan mendengar simbol tersebut, alam bawah sadar memunculkan kesan yang dilihat atau yang dialami. Saya ambil sebuah contoh ketika kita mendengar bunyi sirine maka akan secara otomatis kesan yang kita munculkan adalah ada mobil pemadam kebakaran, ambulance atau mobil polisi, meski pada setiap kesan yang muncul juga akan ada kesan peristiwa yang berbeda.
Satu hal yang menarik terjadi di Surabaya adalah pesan prokes untuk membangun kesadaran masyarakat agar taat. Adalah yang dilakukan oleh Eri Cahyadi Walikota Surabaya yang kemudian ditindak lanjuti oleh Anang Suharto, Kepala Dinas sosial Kota Surabaya dengan paket tour of the duty bagi pelanggar prokes. Meningkatnya jumlah pasien dan banyaknya kematian dalam satu bulan ini sekitar 500 an, memaksa Pemerintah Kota Surabaya lebih intens melakukan sosialisasi membangun kesadaran prokes agar bisa menekan laju penyebaran virus yang konon katanya sudah bermutasi menjadi varian baru.
Dalam rangka membangun kesadaran itu, tak pelak, Walikota Surabaya melakukan dua hal ekstrim yang berdiametral, yang pertama adalah dengan menyiapkan lapangan tembak yang berada di Kedung Cowek sebagai rumah sakit lapangan untuk melayani warga dan satunya dengan menyediakan peti mati serta tempat pemulasaraan karena prihatin dengan lamanya penanganan di rumah sakit akibat antrian. Pada pesan pertama bahwa penyediaan rumah sakit lapangan menimbulkan kesan adanya semangat optimis bahwa Surabaya mampu melayani warganya dan hal yang kedua terkesan bahwa ujung dari semua ini adalah maut, sehingga niat baik Pemkot mengingatkan masyarakat agar taat prokes kadang bisa bermakna sebuah keparahan dan ketakmampuan. Bila ini yang terjadi maka akan menimbulkan keparahan psikologis baru didalam masyarakat, kecemasan dan ketakutan.
Eric Berne, Ahli dalam transaksional Analyzis mengatakan sebuah transaksi komunikasi akan menimbulkan 4 model gaya, yaitu gaya ” I am okey, you are okey “, I am okey, you are not okey “, ” I am not ok, you are ok “, ” I am not okey, you are not okey “. Tentu saja gaya komunikasi yang kita dambakan adalah model yang ” I am okey, You are okey “, bukan ketiga yang lainnya. Mengapa ? Karena yang pertama antara pemberi dan penerima pesan memaknai sebuah kesepahaman. Nah dalam pesan komunikasi prokes terlihat pendekatan gaya komunikasi lebih memilih ketiga yang lainnya. Sehingga cenderung terjadi Pemkot berkomunikasi dengan maunya, masyarakat juga cenderung dengan maunya sendiri, sehingga bisa dimaknai simbol yang dimunculkan oleh Pemkot akibat sikap pembangkangan warga. Maksud baik Pemkot tidak tersampaikan secara baik dan justru menimbulkan kesan ancaman dan kepasrahan, masyarakat yang sudah merasakan kesusahan akibat kebijakan prokes, cenderung akan melawan.
Tentu kita semua bersepakat bahwa wabah ini harus berakhir, sinergi antara pemerintah kota dan warganya harus dirajut dan dikuatkan. Saling memahami adalah sebuah keniscayaan. Oleh karenanya dalam menyusun pesan, pemerintah kota juga harus hati hati dalam memilih simbol. Agar niat baik tidak berujung pada kesan pesimis dan kekalahan. Sudah saatnya pemerintah kota Surabaya mendaya gunakan sinergisitas berbagai komponen yang dimiliki, seperti Infokom, humas, ahli bidang komunikasi dan psikologi dalam menyebarkan pesan pesan prokes agar sampai ke masyarakat. Pesan yang membahagiakan dan optimis akan cenderung lebih mudah diterima masyarakat dibanding yang bernada mengancam dan menakut nakuti. Yuk jangan ditambah lagi beban kita dengan hal hal psikologis lain yang justru kita menjadi tidak fokus melakukan upaya upaya penanganan pencegahan wabah Covid.
Contoh baik yang sudah dilakukan oleh Pemkot Surabaya di masa pandemi awal awal dengan membuka dapur umum yang terpusat di Balai Kota, ini menimbulkan sikap optimis dan kebersamaan, sehingga masyarakat merasakan kehadiran pemerintah dimasa masa sulit nya, meski yang dilakukan adalah dengan menyediakan minuman herbal dan pemberian telur. Nah saya kira, hal baik ini bisa dilanjutkan dengan bentuk yang sama tapi pendekatan nya bisa terpusat di kecamatan atau kelurahan, sehingga kehadiran pemkot lebih dekat dirasakan. Tugas Walikota lebih pada meng harmoni peran peran kehadiran pemkot di masyarakat, pada akhirnya pemerintah akan selalu dirasakan kehadirannya dan masyarakat merasa terlindungi dan bahagia.
Kita pasti bisa !
Surabaya, 6 Juli 2021
M. Isa Ansori
Dosen Psikologi Komunikasi di STT Malang dan Anggota Dewan Pendidikan Jatim

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi