Minggu, 14 Juni 2026, pukul : 09:13 WIB
Surabaya
--°C

Menlu Rusia Kritik Tatanan Dunia Barat sebagai Perwujudan Standar Ganda

MOSKOW-KEMPALAN: Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengkritik piagam Atlantik Anglo-Amerika dan mengecam tatanan dunia berdasar aturan yang dipromosikan oleh Barat.

Hal ini disampaikan Lavrov pada Senin (28/6) dalam artikel di Kommersant, media Rusia. Ia mengatakan tatanan berdasar aturan tidak dieja dengan benar dan tidak memiliki konten khusus, memungkinkan tuduhan “pelanggaran aturan” ketika bertentangan dengan keinginan Barat.

“Semakin kurang spesifik yang mereka dapatkan, semakin bebas tangan mereka untuk melakukan praktik sewenang-wenang menggunakan taktik kotor sebagai cara untuk menekan pesaing,” tulis Lavrov seperti yang dikutip Kempalan dari Anadolu Agency.

Ia menambahkan, KTT G7 dan NATO baru-baru ini menunjukkan Barat akan melakukan dalam urusan internasional hanya apa yang dianggap benar dan akan mendorong orang lain untuk mengikuti jejaknya.

Lavrov secara khusus menyebutkan Piagam Atlantik Anglo-Amerika yang disetujui oleh Presiden AS Joe Biden dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada 10 Juni 2021 di sela-sela KTT G7, dengan mengatakan hal itu telah dirancang sebagai titik awal untuk membangun tatanan dunia baru, dipandu semata-mata oleh “aturan” Barat.

BACA JUGA  Mengapa Rudal-rudal Iran Seolah Tidak Ada Habisnya?

“Dokumen-dokumen yang diadopsi pada KTT Cornwall dan Brussels memperkuat konsep tatanan dunia berbasis aturan sebagai penyeimbang prinsip-prinsip universal hukum internasional dengan Piagam PBB sebagai sumber utamanya,” tambahnya.

Lavrov mengecam tatanan berbasis aturan sebagai “perwujudan standar ganda” seraya mengatakan hak untuk menentukan nasib sendiri hanya diakui bila digunakan untuk keuntungan negara-negara Barat, misalnya untuk melestarikan kedaulatan Inggris atas bekas jajahannya, Kepulauan Malvinas, atau Falklands.

Menurutnya, konsep “aturan” dari Barat ini menyerang seluruh agama di dunia, “kunci dari kode genetis peradaban di planet ini”. Ia menyebut aturan itu sebagai serangan terhadap Kristen.

“Upaya oleh politisi yang masuk akal untuk melindungi generasi muda dari propaganda agresif LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) disambut dengan protes keras dari “Eropa yang tercerahkan,” kata Lavrov.

BACA JUGA  Ketika Lampu Singapura Menyala dari Selatan

Ia juga menambahkan bahwa tatanan dunia ala Barat itu memandang Rusia dan China sebagai “penghambat utama” dalam menerapkan tatanan dunia baru tersebut.

“Beijing dituduh terlalu tegas dalam mengejar kepentingan ekonominya (Belt and Road Initiatives), serta memperluas militernya dan, secara umum, kekuatan teknologi dengan maksud untuk meningkatkan pengaruhnya,” tambah Menlu Rusia itu.

Ia menyatakan pemerintahnya berdiri bersama negara-negara yang menjadi korban permainan Barat, menjadi sasaran teroris internasional, dan beresiko tidak lagi menjadi negara dengan mencontohkan Suriah.

“Kami akan selalu terbuka untuk dialog jujur ​​dengan siapa pun yang menunjukkan kesiapan timbal balik untuk menemukan keseimbangan kepentingan yang berakar kuat dalam hukum internasional,” tutur Lavrov seraya menambahkan bahwa negara yang menghormati dirinya sendiri hanya berunding dengan posisi yang setara dengan lawan bicaranya. (Anadolu Agency, reza hikam)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.