
KEMPALAN: Gas dan Rem, dua instrumen yang harus ada dan berfungsi baik dalam sebuah kendaraan. Harapannya tentu saja kendaraan tersebut dapat melaju dengan baik, memiliki keseimbangan dalam perjalanan supaya dapat sampai di tempat tujuan sesuai target yang telah ditetapkan.
Seperti itulah ideal sebuah kendaraan dijalankan, tidak berbeda dengan pembangunan ekonomi suatu negara digerakkan. Dengan terminal akhir kesejahteraan, yang untuk sampai pada tujuan tersebut tentu saja terdapat baseline dan target yang ditetapkan.
Di tengah hempasan pandemi Covid-19 yang belum juga mereda, kita meninggalkan tahun 2020 dengan catatan pertumbuhan ekonomi minus ber-label resesi. Setelah dilakukan revisi target pertumbuhan ekonomi berkali-kali, tentu capaian pertumbuhan di 2020 tersebut adalah sebuah kenang-kenangan yang sebenarnya tidak kita harapkan.
Selanjutnya memasuki menit-menit awal 2021, dengan langkah mantap satukan tekad tancap gas pemerintah memandang rentang angka outlook pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,5% sampai 5,3% untuk tahun 2021 cukup realistis. Beberapa skema pemulihan ekonomi di beberapa kementerian benar-benar menunjukkan adanya upaya yang baik semua pihak untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.
Stimulus direalisasikan insentif diberikan beragam bentuk bantuan digelontorkan. Keseluruhannya adalah bentuk-bentuk tancap gas injak gas kuat-kuat sebagai daya dukung pergerakan ekonomi dalam rangka pemulihan ekonomi nasional guna tercapainya target pertumbuhan yang sudah dicanangkan sejak awal 2021 ini. Sayang, di tengah seru-serunya tancap gas ternyata rem yang ada juga ditekan, bahkan terasa semakin kuat saja rem ini diinjak.
Saat media kita masih hiruk pikuk memberitakan obrakan kerumunan Saptol PP, kucing-kucingan dengan Dishub karena adanya penyekatan, juga head to head dengan aparat gabungan atas batasan mobilitas dan aktivitas, yang tentu saja semua ini adalah bentuk injak rem ekonomi, ternyata Singapura sudah siap berubah.
Dilansir The Strait Times yang selanjutnya berseliweran di banyak media online, Singapura yang selama ini diyakini sebagai rujukan beberapa negara berkembang ternyata siap memberlakukan Covid-19 layaknya penyakit endemik tak ubahnya flu dan virus kaki, tangan, dan mulut. Ada keputusan yang sudah disepakati bersama antar-kementerian yang keseluruhannya adalah representasi tancap gas ekonomi.
Situasi di kita memang tidak mudah, Triwulan II-2021 ini pemerintah berencana injak gas, salah satunya dengan memperpanjang insentif perpajakan, khususnya pembebasan pajak PPH Badan Pasal 21 untuk karyawan yang ditanggung pemerintah dan pajak korporasi dengan potongan 50% untuk angsuran PPH pasal 25. Ternyata, injakan gas ini dibarengi dengan agenda injak rem, pemberlakukan PPKM Skala Mikro yang semakin diperketat mulai 22 Juni hingga 5 Juli 2021 yang diyakini akan dapat diperpanjang lagi.
Begitulah, dalam situasi tertentu kadang kala injak gas dan injak rem bersamaan tak dapat dihindari, pergerakan ekonomi inginnya melaju kencang guna mengejar target pertumbuhan, tapi jika tidak di rem, tidak dibatasi pergerakannya dikhawatirkan penularan Covid-19 semakin merajalela. Fakta yang demikian sejatinya tidak beda dengan ketika berkendara, mobil ataupun motor. Berkendara dengan mesin kendaraan kurang prima yang mengharuskan gas harus diinjak kuat supaya mesin tidak mati, tentu perlu strategi tersendiri.
Ketika gas diinjak kuat dikhawatirkan kendaraan akan menabrak kendaraan lain di depannya, dengan asumsi situasi jalanan macet. Solusinya, tentu saja adalah injak gas dan rem bersamaan. Injak gas supaya kendaraan tetap jalan dan mesin tidak mati, sedang injak rem supaya kendaraan tidak menabrak yang lainnya.
Pertanyaannya, seperti itu kah gambaran ekonomi kita, yang harus injak gas dan injak rem secara bersamaan? Salam. (Bambang Budiarto–Redaktur Tamu Kempalan.com, Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi