Minggu, 5 Juli 2026, pukul : 23:26 WIB
Surabaya
--°C

Siasat Bola

Oleh: Abdul Muntholib
Wartawan tinggal di Kota Malang

KEMPALAN: Wacana akuisisi Arema Indonesia yang digulirkan Presiden Arema FC Gilang Widya Pramana bikin heboh. Baik heboh di dunia maya maupun di dunia nyata. Kenapa heboh, karena isu dualisme Arema ini sedang hangat-hangatnya. Masih ada pro-kontra. Ada pihak yang menginginkan dualisme Arema ini berakhir. Artinya hanya ada satu Arema di Malang. Di sisi lain, dua kubu Arema juga kukuh menjaga eksistensinya. Karena keduanya juga sah secara hukum dan diakui PSSI meski beda kasta.

Niatan Gilang itu bisa saja dianggap sebagai solusi. Karena bila itu terwujud, hanya ada satu Arema. Namun di sisi lain, dengan sistem akuisisi itu, bisa saja jadi masalah baru. Karena sepak bola punya bahasa berbeda dengan dunia usaha. Tidak bisa semata punya dana lalu asal beli klub begitu saja. Karena klub bola itu sesungguhnya bukan barang mati seperti kendaraan atau rumah. Klub itu ada intangible value (nilai yang tidak terwujud). Kalau aset bisa dihitung secara matematis, namun kalau nilai yang tidak terwujud itu, butuh bahasa khusus untuk mendapatkannya. Perlu ada siasat bola. Bahasa yang dipakai pun bahasa bola. Bukan bahasa pengusaha.

BACA JUGA  Jateng Berjaya di Surabaya, Kawinkan Gelar Juara LSI Wilayah 2

Cara yang dilakukan Gilang itu, seperti pernah dilakukan PT Bentoel kala mengelola Arema. Dulu, ketika akan merekrut pemain, manajemen dari PT Bentoel memasang iklan lowongan pemain Arema. Mirip seperti akan mencari karyawan pabrik rokok. Hasilnya apa? tidak ada satu pun pemain profesional yang tertarik dengan lowongan ala Bentoel kala itu. Ini karena bukan itu cara komunikasi yang dipakai dalam sepak bola. Pemain bola tentu tidak mau disamakan dengan karyawan buruh pabrik rokok.

Karena itu siasat bola yang dipakai Gilang dengan melempar wacana akan membeli Arema Indonesia, kurang tepat. Ini seakan dengan uang bisa membeli segalanya. Tak salah jika respons yang diberikan pihak Arema Indonesia menjadi kurang baik. Ini hanya soal cara. Kenapa tidak melakukan pendekatan intens secara baik dengan bahasa bola, bukan dengan cara-cara transaksional begitu. Apalagi dilempar secara vulgar ke publik.

BACA JUGA  UNESA Petanque Tournament, Arena Lahirnya Juara Masa Depan Indonesia

Butuh jam terbang yang cukup bagi Gilang untuk lebih menyelami dunia bola. Kiranya, orang-orang yang sudah berpengalaman, harusnya sukarela memberikan masukan pada Gilang. Tapi, apapun semua harus memberi apresiasi kepada Gilang yang sudah bersedia menjadi pengelola Arema FC di saat kompetisi yang sedang lesu ini. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.