SURABAYA-KEMPALAN: “Sektor pariwisata di Jawa Timur merupakan salah satu sektor yang cukup memprihatinkan di era pandemi ini, sehingga berimbas pada menurunya omzet para pelaku usaha hotel dan resto yang ada di Jawa Timur khususnya,” kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Resto seluruh Indonesia (PHRI) Dwi Cahyono, kepada Kempalan.com, Sabtu(26/06/2021).
Pandemi awal pandemi 2020 periode Februari hingga Maret, hotel dan resto mengalami penurunan 10%, hingga lebaran tahun 2021, ini mulai hari raya ini masih mengalami penurunan 20% dibanding tahun lalu.
Berbagai cara sudah dilakukan, mulai dari penerapan protokol kesehatan, efisiensi, hingga melakukan promo mulai plus akomodasi tempat wisata hingga, ke kereta api sudah dilakukan, demi menarik minat pelanggan. Namun, tetap belum bisa membantu untuk meningkatkan omzet dari hotel dan Resto itu sendiri.
“Dikarenakan namanya pariwisata itu pergerakan orang dan apabila pergerakan itu dibatasi, oleh semacam ini halnya, maka orang tidak akan datang untuk berwisata. Maka salah satu jalan diambil adalah pasrah sampai pandemi selesai,” tambah Dwi.
Harapan untuk pemerintah bagi para pelaku usaha hotel dan resto, agar semakin tidak terpuruk di bisnis pariwisata ini, adalah agar permerintah dapat bisa mengupayakan untuk menurunkan anggaran pajak, biaya PLN, dan BPJS.
Dalam hal Ini PHRI sendiri tetap optimis bahwa pandemi akan segera berakhir. Walau tidak dipungkiri ini permasalahan menyangkut global yang entah kapan berakhirnya.
Dengan kebijakan pemerintah bahwa mudik dilarang tapi pariwisata boleh tetap belum bisa meningkatkan angka pariwisata yang berdampak pada hotel dan resto. “Dikarenakan pariwisata itu direncanakan, bukan sistem mendadak ramai seperti itu,” imbuh Dwi. (femal)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi