Kamis, 30 April 2026, pukul : 08:25 WIB
Surabaya
--°C

Laboratorium ITS Kembangkan Serat Optik Pendeteksi Produk Babi

SURABAYA – KEMPALAN : Laboratorium Rekayasa Fotonika Departemen Teknik Fisika, Fakultas Teknik Industri dan Rekayasa Sistem (FTIRS) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengenalkan penggunaan serat optik dalam mendeteksi produk mengandung babi.

Mahasiswa asisten penelitian, Ika Puspita dalam disertasinya mengembangkan serat optik yang diklaim bekerja lebih cepat dan akurat dalam mendeteksi produk makanan mengandung babi. “Yang paling utama, sensor jenis ini dapat mendeteksi kandungan minyak babi dalam minyak nabati yang belum mampu dilakukan sensor sebelumnya,” terang Ika, Senin (21/6).

Ika juga mengklaim beberapa keunggulan lain dari sensor ini, yaitu tidak butuh perlakuan khusus terhadap sampel, biaya produksi murah, kompatibel, dan tahan terhadap interferensi elektromagnetik. Sifat serat optik yang mudah difabrikasi juga memudahkan perkembangan penelitian yang masih digali hingga saat ini.
Ika menjelaskan, serat optik merupakan perangkat yang bekerja dengan hukum pembiasan cahaya. Wajarnya, struktur serat optik yang banyak digunakan untuk keperluan telekomunikasi tersebut dibentuk dengan sangat rapat. “Namun, untuk mengubahnya sebagai sensor, struktur serat optik direkayasa agar cahaya dapat berinteraksi dengan sampel makanan,” paparnya.

Bentuk-bentuk modifikasi serat optik sehingga dapat menjadi sensor

Dengan kata lain, lanjut mahasiswa strata-3 (S-3) ITS tersebut, ada bagian serat optik yang sengaja dimodifikasi sehingga cahaya yang lewat akan tereksitasi atau mengalami kebocoran untuk berinteraksi dengan sampel. Ika menjabarkan modifikasi struktur serat optik bisa dilakukan dengan memberi lekukan, mereduksi ukuran, atau menggabung serat optik satu mode dengan serat optik dua mode.

“Ketika cahaya terganggu oleh sampel, sifat cahaya mengalami perubahan,” tambah Ika.
Laboratorium Rekayasa Fotonika ITS pernah menguji sampel berupa minyak zaitun yang ditetesi minyak babi.

Hasilnya, semakin banyak minyak babi yang diteteskan, semakin berkurang pula intensitas dan spektrum cahaya yang dihasilkan pada titik akhir.

Tapi Ika mengakui hingga saat ini Laboratorium Rekayasa Fotonika ITS masih menganalisis dan mengkarakterisasi berbagai bentuk modifikasi serat optik yang memungkinkan, seperti U-bend, taper dan MSM. Selain itu, dia menyadari ada banyak hal yang mempengaruhi proses pengidentifikasian sampel, di antaranya adalah temperatur dari sampel dan kompleksitas dari jenis sampel yang diidentifikasi.

“Sejauh ini masih belum dapat dikatakan apa yang menjadi tolak ukur penilaian sampel positif dan sampel negatif karena masih perlu dikaji lebih dalam terkait hal ini,” ungkapnya.

Guna pemanfaatan yang lebih besar, Ika menuturkan bahwa pengembangan teknologi sensor serat optik ini masih terus dilakukan di Laboratorium Rekayasa Fotonika ITS. “Kami (tim peneliti sensor serat optik, red) mengupayakan untuk memaksimalkan pemanfaatan teknologi sensor optik ini agar mendatangkan manfaat dalam berbagai bidang,” tandasnya optimistis. (Nani Mashita)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.