
KEMPALAN: Hari ke-2 setelah menikah ada acara Tilik-an, yaitu acara rombongan kerabat mempelai perempuan bertandang ke rumah mempelai laki-laki. Acara mengantar mempelai perempuan dengan membawa aneka makanan, lauk pauk dan nasi. Lalu Hera akan ditinggal tidak ikut pulang ke rumah simbahnya. Hera akan bermalam di rumah Danang. Rombongan tamu disambut secara sederhana oleh keluarga pak Camat saja tidak ada keluarga lain. Semua rombongan makan bersama makanan yang dibawa dari keluarga Hera.
Kali pertama Hera masuk di ruang tengah rumah Danang dengan kamar-kamar yang banyak. Hera ditinggal di rumah Danang. Hera tidak tahu harus tidur bersama Danang di kamar yang mana, Hera manut saja. Sejatinya hati Hera masih tidak tenang teringat soal kerisnya simbah yang lolos dari kerangkanya dan pindah di balik bantal Hera. Di rumah pak Camat, benda- benda seperti keris dan sejenisnya pasti ada mungkin lebih ndrawasi. Setengah berbisik Hera bilang ke Danang.
“Mas kita nanti tidur di kamar mana? ” tanya Hera.
” di kamar depan saja yang terpisah dari kamar lain” , jawab Danang.
” Aku trauma dengan kerisnya simbah, coba yakinkan di kamar depan itu apakah ada tersimpan keris nya bapak?” pinta Hera serius.
” Iya, biasanya bapak simpan di lemari.”
” Berarti saya nggak mau tidur disitu”, Hera tegas menjawab.
“Gak apa-apa, tenang aja nanti saya bilang bapak supaya mindahin”, jawab Danang.
” Kalau gak mau pindah?” Hera penasaran.
” Ya maulah wong yang mindahin pemiliknya”, Danang menjelaskan.
Malam itu Hera dan Danang jadi tidur di kamar paling depan dekar ruang tamu.
Desa Danang sangat terpencil dan sepi desanya kecil hanya ada beberapa rumah. Sangat berbeda dengan desa Hera yang besar dan rejo alias ramai. Malam terasa nyenyet daun jatuhpun seperti terdengar gerit dan desau rumpun bambu belakang rumah sayup-sayup seperti musik alam yang aneh. Angin yang menerpa dedaunan bambu dan saling bergesekan, menimbulkan suara alam yang indah dan menciptakan suasana hening yang berirama. Hera membiarkan dirinya di dekap Danang dengan kegemuruhannya. Tiada sekat dan batas. Ini adalah tahun kesembilan sejak mereka bertemu dan saling jatuh cinta. Binih cinta yang tetap terpelihara akan mereka tanamkan di malam itu, dengan semangat yang menggelora. Hera karena kejiwaannya dan tempaan hidupnya yang beragam, membuat Hera biasa saja, tapi berusaha mengimbangi walau lamban. Perlu exersice yang lebih lama. Barangkali karena situasi kondisi, tempat serta kejiwaan Hera mempengaruhi hubungan dua sejoli malam itu. Danang tidak mempermasalahkan. Masih banyak waktu di Jakarta.
Hera merasa lebih indah dan romantis saat berpacaran karena lebih natural mengalir. Tetapi tidak dipungkiri, ada gelora cinta yang dahsyat, penyatuan yang syah tercurah dua malam di rumah Danang. Sebuah sejarah penting bagi sejoli anak manusia, penyatuan dan peleburan dua jiwa, bersama-sama mengolah lahan dan menanam benih dengan restu alam semesta. Dedaunan meliuk menari teriring musik alam dari pepohonan serta restu dari para malaikat. Berharap dengan ridhoNya benih yang ditanam akan tumbuh subur. Menghasilkan buah yang bermanfaat.
Cukup tiga hari dua malam Hera berada di rumah Danang. Mereka harus segera kembali ke Jakarta bekerja, karena hanya dapat cuti seminggu. Di Jakarta Hera menempati rumah kontrakan sebuah pavilliun, bagian dari rumah induk, yang dikontrakan oleh pemiliknya. Lokasinya tidak jauh dari rumah ibunya hanya berbeda RT masih di RW yang sama, mas Eko adalah RW nya. Hampir semua kakak sepupu Hera yang juga anaknya wong bambu jadi ketua RT dan RW. Mereka memiliki leadership yang bagus dan tulus mengabdi masyarakat.
Pavilliun kontrakan Hera tidak besar hanya ada ruang tamu, satu kamar dapur kecil dan kamar mandi. Di rumah kecilnya Hera merasa merdeka. Merasa nyaman, walau hidupnya sederhana. Gaji tidak banyak hanya cukup buat transport makan sehari-hari dan sedikit ditabung untuk keperluan mendesak. Tapi tetap lebih baik daripada hidup di desa yang serba lamban pergerakannya. Atau mungkin sengaja dibuat begitu. Tidak ada supermarket atau mini market, adanya warung yang varian barang dagangannya sangat terbatas. Sembako saja utamanya. Petani hidupnya tetap susah, sawah nya sering dimakan hama wereng, sering tidak panen. Jika tidak punya beras makan sego aking, dari kerak nasi atau intip yang dijemur sampai kering lalu disimpan dalam sack atau bagor. Orang desa jarang makan intip yang di goreng mungkin karena membutuhkan banyak minyak goreng jadi boros atau sayang karena intip sebagai persediaan. Jika tidak panen intip di rendam air panas lalu kukus dibumbu kelapa atau dijadikan sebagai nasi. Sego aking dan sego intip itu enak, lebih gurih. Bagi orang kepepet tentunya.
Di Jakarta orang tidak mengenal sego atau nasi aking. Walaupun tidak bisa hidup mewah tapi di kota besar hidup serba mudah dan cepat dinamis. Karena itulah banyak orang merantau ke Jakarta. Kelak kemajuan teknologi dan peradaban akan sama merata di seluruh negeri sehingga di pelosok manapun, komunikasi bisa terjalin dan kemajuan segala bidang bisa dirasakan sama. Tidak perlu lagi masyarakat berurbanisasi berbondong-bondong ke kota. Karena Kawasan industri menyebar ke daerah-daerah dan menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitar. Pemerataan ekonomi menyebar dan tersebar.
Tidak terasa sudah tiga bulan, Hera Danang dan makluk kecil di dalam perut Hera menghuni rumah pavilliun kontrakan. Hwra tidak ada perubahan, dia sosok yang tangguh ngebo tidak ada ritual muntah-muntah atau pusing. Hanya ada perubahan secara psikologis yang sangat aneh, Hera dalam nyidamnya sangat membenci laki-laki. Ayahnya dan adik bontotnya Tino yang manja sering menjadi sasaran kemarahannya tanpa sebab. Hera bahkan sering meracau kalo nanti anaknya lahir laki-laki akan dia buang. Kata-kata ini sering diucapkan lalu ibunya bilang : “iya nanti ibu yang ambil, ibu yang urus”
Hera ingin anak pertamanya perempuan tapi feelingnya laki-laki. Hera sangat emosional dengan segala sesuatu yang terbau gender laki-laki. Saat Hera hamil ada berita kecelakaan mikrolet yang membawa ibu-ibu dan anak-anak terjungkal di kali Sunter yang pekat dan berbau semua penumpang tewas tenggelam mayoritas ibu-ibu dan anak-anak. Peristiwa itu terjadi di bulan puasa seminggu menjelang lebaran, ibu-ibu itu pulang belanja dari pasar Tanah Abang. Hera menulis untuk surat pembaca sebuah media nasional mengkritisi Organda yang harusnya memberikan penataran pendidikan karakter kepada para sopir, bahwa sebagai pelayan pemberi jasa, tidak hanya dikejar memenuhi setoran, mengejar tapi juga harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap nyawa penumpang yang telah membayarnya. Hera sangat geram dengan para sopir yang ugal-ugalan salip-salipan sana sini dan kejar-kejaran sesama mikrolet untuk merebut penumpang. Dan Hera sering mengalami hal itu saat pulang pergi kerja. Ini membuat psikologis Hera makin payah, sering sekali ngomel-ngomel. Hera tidak tahu bagaimana para sopir berada pada pihak yang kepepet sehingga mereka harus kejar setoran karena ditarget oleh pemilik angkutan. Pemilik angkutan pun tidak mau rugi karena banyaknya pungutan liar baik oleh para pejabat atau preman penguasa jalanan. Serba susah mengurai persoalan angkutan. Yang jadi korban adalah para pengguna jasa angkutan itu. Satu-satunya laki-laki di dunia yang Hera sukai saat hamil hanyalah Simbah Kakungnya. Secara di bawah sadar dia sangat menikmati kebiasaan aneh itu.
Kepekaan sosial dan gender Hera saat hamil sangat menonjol, sehingga malah merepotkan. Hera pernah memanggil tukang jualan meja yang di pikul, tukang cobek batu yang dipikul, tukang rujak bebeg, tukang jual abu. Gajinya seminggu habis untuk membeli sesuatu hanya karena kasihan. Bagaimana mau punya tabungan. Gaji yang harus diatur secara disiplin menjadi tidak terkelola dengan baik. Danang diam saja tidak bisa melarang. Hera pasti akan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan Danang yakin, dia bisa mencari solusinya.
(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi