Opini Teguh Santoso

Mengenang Errol Jonathans, Menatap Masa Depan Radio Suara Surabaya

  • Whatsapp
Teguh Santoso

KEMPALAN: Tanpa mengecilkan peran pendiri dan awak Suara Surabaya lainnya, derap Radio Suara Surabaya selama ini tentu tak bisa lepas dari sosok Errol Jonathans (awas, jangan salah eja…Jonathans memang harus ada huruf s-nya, bukan berarti jamak, huruf S di nama itu menandakan keturunan klan ‘Depok Belanda’ begitu tutur beliau suat saat mengoreksi kesalahan saya dalam menuliskan namanya). Begitulah sosok Mas Errol yang saya kenal selama ini, selalu lugas bernas tapi tetap santun dan menjunjung tinggi etika. Konsistensi dan kedisiplinan beliau menjadi teladan tersendiri, khususnya bagi para mitra kerja maupun jajaran Radio SS.

Mas Errol Jonathans telah berpulang tanggal 25 Mei yang lalu, meninggalkan keluarga terkasih dan segenap legacy yang mesti kita jaga dan lanjut-kembangkan bersama (terkhusus soal pemanggilan ‘Mas Errol’ memang diminta oleh beliau, mungkin agar terasa akrab, memangkas jarak sosial sembari tetap menjunjung tinggi profesionalisme, kata terakhir ini sungguh dimaknai dan dihidupinya hingga akhir). Warisan yang amat penting tak hanya bagi Radio SS dan Suara Surabaya Media, tetapi juga bagi segenap Kota Pahlawan yang terus maju dan berbenah. Khususnya bila kita cermati dan akui bahwa hari-hari ini, masyarakat kita sedang diperhadapkan pada persoalan ‘klasik’ yang cukup pelik.

Klasik karena sudah pernah terjadi, sering terjadi, dan sulit untuk memprediksi bahwa hal serupa tak akan (pernah) lagi terjadi. Pelik karena melibatkan berbagai komponen masyarakat dan acap memecah tatanan social, mengoyak keguyuban, dan merusak keadaban publik sebagai suatu komunitas bangsa Indonesia. Persoalan tersebut adalah persoalan ke-beragam-an dan kebernalar-an. Celakanya, lebih banyak sang empunya otoritas dan institusi berwenang tak berbuat apa-apa, kecuali melayani saling-lapor nan kian membingungkan. Celakanya lagi, masyarakat hanya bisa mengelus dada sembari menggumamkan umpatan, baik secara nyata ataupun secara virtual/digital. Bangsa ini seolah tak henti berputar dari satu ironi ke ironi lainnya, melompat berjumpalitan dari satu abzurditas ke abzurditas lainnya tanpa jeda, tanpa tanda jemu, apalagi muak….seolah ironi dan abzurditas telah jadi jamak.

Jagat maya segendang-sepenarian dengan dunia nyata. Media sosial dijadikan ajang pembenaran sudut pandang masing-masing sembari menghujat pihak lain yang berseberangan. Lebih runyam bila hal itu segera dilakukan bersama deru emosi tinimbang melakukan klarifikasi atau tabayyun. Warganet kerap kali menumpahkan segala uneg-uneg tanpa bekal literasi yang cukup, demikian pernah disampaikan Mas Errol Jonathans saat webinar bersama saya bulan November 2020 lalu.

Nyaris semua hal yang senada dengan pemikiran sendiri langsung disebarkan (sharing) tanpa konfirmasi dan klarifikasi. Berita-berita yang belum tentu benar pun dikabarkan ke penghuni jagat maya tanpa menguji kebenaran sumbernya. Jadilah jagat maya penuh kebenaran berbaur sesak dengan kebohongan. Era post-truth hadir dalam semangat serba instan, menelikung, membius nalar sehat yang memang membutuhkan upaya (effort) lebih. Pada gilirannya, makin keringlah lahan lahirnya gagasan alternatif nan kreatif dibelenggu kedangkalan-kedangkalan atas nama keberhasilan instan banyaknya likes dan subscribes beserta derivasi bentuk-bentuk kedangkalan lainnya nan serba rupa-rupa menawan serta ramah pasar. Suatu ironi tak terpermanai tatkala para selebritas youtuber bergelimang harta mewah sembari memanfaatkan kedunguan adab publik dengan konten-konten tak mendidik apalagi mencerahkan. Pada titik inilah, Radio Suara Surabaya dan jajaran Suara Suara Media hadir sebagai suluh penerang, menjernihkan hoax dan menegakkan kewarasan akal sehat publik nyaris 38 tahun lamanya.

What Next?

Lantas, bagaimana masa depan Radio SS dan Suara Surabaya Media selanjutnya? Hal ini menjadi tanda tanya sekaligus harapan publik kota Surabaya dan sekitarnya agar eksistensi Radio SS tetap konsisten dan terus tiada henti menyuarakan kesejatian warta tanpa menghamba pada gemerincing rupiah walau diakui kita semua membutuhkan hal tersebut. Apakah insan-insan Radio SS dan jajarannya bakal siap meneruskan dan mengembangkan estafet kepemimpinan Mas Errol Jonathans secara mulus, konsisten, dan berkesinambungan? Kita layak menunggunya, menanti saat para pemegang saham dan Komisaris Utama bertemu dan memutuskannya.

Mencari pengganti Errol Jonathans pastilah mustahil dan tiada guna. Sosoknya hanya satu dan tak tergantikan. Akan lebih tepat bila kita sama berharap dan berdoa akan ditemukan dan dimunculkan sosok baru dengan elan vital dan ‘ruh’ perjuangan Mas Errol Jonathans berhembus terus menghidupi dan dihidupi segenap kawan-kawan Radio SS tanpa jeda. Besar harapan kami, sepak-terjang SS kian berkibar, kian konsisten menjaga keadaban akal sehat di tengah makin banalnya nalar. Amin.

Surabaya, 10 Juni 2021

*) Teguh Santoso, dosen LB di Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Surabaya, pemikir bebas,  dan pernah di-mentor-i oleh Mas Errol Jonathans

Berita Terkait