Jumat, 26 Juni 2026, pukul : 07:34 WIB
Surabaya
--°C

Mempidatokan Diri Sendiri, Gambaran Kepercayaan Diri yang Luar Biasa

KEMPALAN: Tak lama banyak warganet maupun mahasiswa yang geram dengan kemunculan gelar Honoris Causa (H.C) yang diterima mantan presiden kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri. Awalnya saya tak ambil pusing, karena gelar H.C memang seringkali diumbar kepada politisi, kepada MI misalnya pada beberapa tahun lalu.

Tapi ada yang membuat saya cukup terkejut, ialah pidato mengenai keberhasilan dirinya sendiri, nampaknya ini adalah fenomena menarik yang patut dicontoh orang Indonesia: Kepercayaan Diri Luar Biasa (KDLB). Hal ini dimiliki hampir oleh semua politisi di negeri khatulistiwa ini, bahkan kalau ndak KDLB, susah menjadi politisi, urusan keadilan itu masalah nanti kalau sudah jadi pejabat.

Politisi, terutama ketua umum partai, biasanya membutuhkan dua hal, kalau bukan uang ya KDLB, lebih bagus kalau ada kedua-duanya, biar KDLB-nya tidak sekedar dalam bentuk PDF yang dibagi-bagikan terus dihujat. Kalau kata orang Jawa: ngomong ae, gak onok duwik e (banyak bicara nggak ada duitnya).

KDLB sendiri perlu ada kadar tertentu. Menyampaikan keberhasilan dalam pidato itu biasa, salah satu strategi pemasaran politik, biar masyarakat yakin bahwa yang dipilih bermanfaat bagi mereka (atau setidaknya untuk pemanis dari serangan fajar yang muncul sebelum dan/atau sesudah pidato).

BACA JUGA  Jalan Maju Finlandia

Menurut saya, sebagai anak presiden Sukarno, berhak Bu Mega untuk mempidatokan dirinya sendiri, biar tidak hidup di bawah bayang-bayang ayahnya. Siapa juga anak yang ingin selalu dibandingkan dengan orang tuanya, toh, orang tua yang baik pasti ingin anaknya melebihi diri mereka sendiri. Bung Karno pasti (mungkin) bangga dengan anaknya.

Menariknya, sejumlah orang mempermasalahkan pemberian gelar Honoris Causa oleh Universitas Pertahanan (Unhan) kepada Bu Mega, kenapa politisi tidak boleh punya kebanggaan pada dirinya sendiri? Kenapa sih harus mempermasalahkan rezeki orang lain? Saya yakin kalian yang mempermasalahkan juga bisa kok berkembang di jalur lain, daripada mempermasalahkan Bu Mega, lebih baik makaryo (bekerja), cari uang yang banyak, bangun universitas sendiri, lalu berikan gelar HC kepada diri sendiri. Hal itu akan lebih bermanfaat, setidaknya juga dapat HC.

Tidak perlu menghujat atau mempermasalahkan Bu Mega atau Unhan terkait gelar Honoris Causa, karena gelar tidak dibawa mati kok. Itu hanya status duniawi. Jangan terlalu dianggap serius, nanti capek sendiri untuk mempermasalahkan, memperdebatkan, menghina, menghujat, dan meng- meng- lainnya. Daripada meramaikan jagad dunia maya dengan gelar Honoris Causa yang diterima Bu Mega, lebih baik kita memikirkan: “Bagaimana kita bisa mendapat Honoris Causa?” Jangan-jangan tujuan Bu Mega diberikan Honoris Causa biar menginspirasi khalayak umum untuk mengejar mimpi setinggi langit, walaupun tak lulus S1 kalian bisa menjadi profesor dan doktor melalui Honoris Causa. “Banyak jalan menuju Roma.”

BACA JUGA  Apresiasi Langkah Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Liburan Sekolah, Saatnya Orang Tua Kembali Menjadi Guru Kehidupan

Tapi, Honoris Causa bukan seperti jabatan politik pada umumnya yang cukup didasarkan pada pencapaian politik, tanpa perlu capaian akademis atau pengabdian masyarakat, mungkin itu yang dipermasalahkan ketika muncul Honoris Causa. Memang susah kalau berhubungan dengan dunia akademis, lulus saja harus membuat karya akademis yang namanya skripsi, tesis dan disertasi. Mungkin Bu Mega hanya ingin mendapatkan itu dengan mudah, toh, beliau juga banyak pikiran memimpin partai pemenang di Indonesia. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.