Satu Abad Soeharto

Mengenang 100 Tahun Soeharto, Pihak Keluarga Adakan Doa Bersama

  • Whatsapp
Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto, Presiden Kedua Republik Indonesia.

JAKARTA-KEMPALAN: Hari Selasa (8/6), tepat 100 tahun kelahiran Presiden kedua Indonesia, yaitu Soeharto. Sosok Jenderal Besar TNI yang lahir 8 Juni 1921 ini, menjabat sebagai pemimpin tertinggi bangsa ini sejak kurun waktu 1967 hingga 1998 silam.

Dengan segala kontroversi yang melingkupinya, Soeharto diberi julukan sebagai “The Similing General” atau Jenderal yang tersenyum. Julukan ini bukan tanpa alasan, mimik wajahnya yang murah senyum dan menunjukkan keramahan di depan publik membuatnya dijuluki Jenderal yang tersenyum.

Akan tetapi, mungkin yang membekas dipikiran kita mengenai rezim Soeharto adalah sistem pemerintahan yang otoriter. Di masa orde baru, pemerintah acap kali sering melakukan pembungkaman bahkan bersifat represif dan koersif terhadap pihak yang kritis atau bersebrangan terhadapnya.

Bagaimanpun, pro-kontra yang menyelimuti namanya, Soeharto tetap masuk jajaran orang yang berjasa untuk bangsa ini. Terobosannya di awal pemerintahan, membuat nama Indonesia berkibar di kancah dunia internasional.

Dalam rangka mengenang 100 tahun Soeharto lahir di dunia, keluarga besar menggelar doa bersama di Masjid At-Tin pada Selasa (8/6) sore ini.
“Kami mengajak masyarakat berkumpul memanjatkan doa bersama untuk almarhum Pak Harto serta membacakan Yasin, tahmid, dan tahlil,” ujar Arissetyanto Nugroho selaku Ketua Harian Panitia Doa Bersama, dalam keterangan resminya.

Arissetyanto Nugroho melihat, bahwa ada sekitar ratusan peserta yang akan iktu dalam rangkai acara secara fisik dengan regulasi protokoler kesehatan yang ketat. Begitupun ketika melantunkan doa, panitia juga akan menerapkan sistem hybrid atau mengkombinasikan antara offline dan menggunakan media daring. Sehingga para peserta di berbagai wilayan dan masjid di tanah air dapat mengikuti doa bersama ini.

Dalam doa bersama ini, Ahmad Fauzi Lubis akan memimpin acara doa bersama dan Saifullah Ismail bertindak sebagai pemimpin tahlil. Lalu untuk penceramah, panitia mengamanahkan kepada Nasaruddin Umar selaku Imam Besar Masjid Istiqlal.

“Pada saat itu juga diserahkan buku Profil 999 Masjid Pak Harto yang dilakukan oleh Panji Adhikumoro Soeharto kepada keluarga. Buku selanjutnya diberikan kepada sejumlah tokoh, antara lain (Menteri Pertahanan) Prabowo Subianto, (Ketua MPR) Bambang Soesatyo, dan (Gubernur DKI Jakarta) Anies Baswedan,” tambahnya.

Terakhir, ia mengaharpkan agar 100 tahun kelahiran Soeharto dapat menjadi momentum untuk memantik semangat, menemukan, dan meraih keteladanan dari segala kiprah dari Presiden Soeharto semasa hidup. (Rafi Aufa Mawardi)

Berita Terkait