Catatan Rafi Aufa Mawardi

Manusia, Sosial Media, dan Hiperealitas

  • Whatsapp
Ilustrasi Hiperealitas.
Rafi Aufa Mawardi, Mahasiswa Sosiologi, FISIP, Universitas Airlangga.

KEMPALAN: Dewasa ini, siapa yang tidak menggunakan sosial media. Orang yang tidak menggunakan sosial media, akan dicap sebagai seseorang yang jadul, ketinggalan zaman, tidak keren, dan tradisional. Sosial media memang menjadi suatu medium yang secara tidak langsung menghegemoni manusia secara universal. Sosial media diciptakan tentu bukan tanpa alasan, sosial media lahir dari sebuah keadaan yang problematis dan dilematis. Oleh karena itu, sosial media muncul sebagai sebuah solusi dari keadaan yang serba sulit.

Secara harfiah, sosial media adalah sebuah ruang berbasis digital yang memungkinkan para pengguna untuk bersosialisasi (interaksi-komunikasi) dengan pengguna lain tanpa terbatas ruang dan waktu. Dalam perkembangannya, sosial media mengalami kategorisasi yang cukup terstruktur akibat dari polaritas yang sifatnya fungsional. Seperti, kategori “Social Networks” yang mencakup sosial media yang memiliki fungsi sebagai medium sosialisasi yang interaktif. Dalam hal ini, seperti pada Facebook, Twitter, Instagram, dan lain sebagainya.

BACA JUGA

Lalu ada kategori “Discuss” yang menjadi fasilitator bagi himpunan pengguna yang akan melakukan diskusi (obrolan dan rapat), contohnya, Google Meet, Zoom, Yahoo!, dan seterusnya. Kemudian ada kategori “Share”, yang mana menjadi layanan berbagai dalam konteks video, file, musik, dan lain sebagainya, bagi para pengguna. Seperti, aplikasi Youtube, Slideshare, Vidio dan seterusnya. Kategorisasi ini menjadi daftar yang panjang untuk dijabarkan secara komperehensif, namun intinya, kedua kategori ini dapat menjadi parameter dalam kompleksitas sosial media yang sangat beragam.

Fenomena yang tidak dapat terhindarkan dalam bingkai modernitas ini, mengingatkan penulis pada gagasan salah seorang filsuf-sosiolog dari Prancis, bernama Jean Baudrillad. Ia secara teoritis melakukan analisa mengenai modernisasi yang secara masif mewarnai kehidupan sosial ini. Salah satu idenya yang substansial, yaitu mengenai Hiperealitas. Hiperealitas adalah sebuah kondisi dimana manusia tidak mampu lagi untuk membedakan realitas (kenyataan) dan fantasi (imajinasi), sehingga berdampak pada keabsahan, kebenaran, bahkan kebohongan sulit untuk dibedakan.

Jean Baudrillad juga memperkenalkan istilah yang cukup penting dalam menginterpretasi Hiperealitas, yaitu Simulasi dan Simulacra. Simulasi adalah kondisi dimana gambaran dan representasi dari objek menjadi lebih penting dari pada objek itu sendiri. Sedangkan Simulacra adalah sebuah entitas duplikasi yang secara realitas tidak pernah ada, sehingga perbedaan antara duplikasi dan fakta menjadi “abu-abu”.

Di era postmodern, sosial media sebagai sebuah arena yang secara tidak langsung mencipatakan kondisi yang bernama Hiperealitas ini. Dapat dilihat di sekeliling kita, banyak orang-orang yang kemudian mendokumentasikan makanannya sebelum makan lalu diupload di sosial media untuk dipamerkan kepada followernya. Atau misalnya, teman-teman kita yang membuat snapgram dengan memamerkan jam tangan mahalnya yang baru saja dibeli dari luar negeri. Keadaan ini sangat mencerminkan apa yang oleh Jean Baudrillad disebut sebagai Simulacra. Mereka melakukan tindakan tersebut untuk memperkokok eksistensinya sebagai manusia. Yang secara tidak langsung, tujuan utama dari objek tidaklah penting dari pada hasil potret dan snapgram dari objek itu sendiri.

Tidak hanya kondisi yang sangat inheren dengan tindakan konsumtif, sosial media juga sebagai medium untuk memproduksi berita-berita hoax. Dalam akun Facebook atau Instagram kita misalnya, bertaburan berita-berita mengenai hal-hal yang diklaim aktual dan faktual. Namun apakah itu realitanya, atau malah berita-berita yang kita konsumsi setiap harinya adalah fantasi (hoax) semata. Kita banyak termakan oleh berita-berita hoax yang akhirnya terkonstruksi dalam pikiran kita. Kita kesulitan untuk membedakan keabsahan dan keaslian dari berita-berita tersebut. Dalam kondisi ini, kita telah terjerembab dalam jurang Hiperealitas yang jauh akan realitas nyata.

Era yang serba modern memang memberikan kebermanfaatan bagi manusia dalam berbagai sendi kehidupan dengan produk teknologinya. Namun jika telisik lebih kritis lagi, era ini juga seakan menjadi “Juggernaut” baru dalam kehidupan kita. Juggernaut adalah tank raksasa pada Perang Dunia Kedua yang diilustrasikan oleh Anthony Giddens dalam mengilustrasikan teknologi di era modern. Teknologi yang diawal sebagai solusi dari kondisi yang stagnan menjadi kondisi yang dinamis dan maju. Namun, nyatanya teknologi menjelma sebagai sebuah instrumen yang mendikte manusia. Dulu manusia yang mengontrol teknologi, namun sekarang teknologi yang secara tidak langsung mengontrol manusia. (Rafi Aufa Mawardi)

Berita Terkait