Persatuan ini prasyarat bagi perputaran haluan kapal NKRI ini, sekaligus pemupukan kekuatan ekonomi ummat yang kemudian menjadi syarat bagi pemupukan kekuatan politiknya.
Oleh: Daniel Mohammad Rosyid
KEMPALAN: Hari ini adalah hari Arafah. Jutaan jamaah haji berkumpul di padang seluas sekitar 1.000 Ha, 25 km di Timur Mekkah ini untuk prosesi wukuf sebagai inti dari hajj.
Saat haji wada’ – haji Muhammad Rasulullah Saw yang pertama dan terakhir – ini, Rasulullah memberi pidato yang sulit untuk tidak diartikan sebagai pidato politik sebagai kebajikan publik.
Rasulillah Saw berpesan tentang: 1) kesetaraan manusia yang berasal dari berbagai suku dan bangsa, 2) perlindungan atas harta, jiwa, dan kehormatan, 3) penghapusan riba, 4) penghormatan terhadap perempuan, dan 5) agar menjadikan Al Qur’an dan sunnahnya sebagai pedoman hidup.
Pesan ini agar diteruskan pada ummat yang tidak berhaji. Jika pesan ini dicermati dengan seksama maka memisahkan Islam dari politik adalah cara terpenting guna merusak Islam dan merusak manusia.
Pesan Rasulullah saw ini masih sangat relevan bagi kita saat ini yang justru sedang hidup bertentangan dengan ke 5 pesan tersebut.
Kelima pesan itu jika dilaksanakan secara sungguh-sungguh akan mewujudkan dunia yang damai di atas keadilan.
Namun saat ini spesies manusia justru sedang saling mengancam atas eksistensi masing-masing atas nama tribalism atau nasionalisme sebagai a glorified tribalism yang sempit, riba yang merajalela memiskinkan dan memperbudak, penghinaan terhadap perempuan, dan Islam yang dijauhkan dari urusan publik, lalu direduksi menjadi sekedar pelipur lara dengah harga murah.
Ummat Islam bangsa Indonesia terjerumus ke dalam kondisi marjinal secara ekonomi, dan politik. Akibat UUD 10/8/2002 ummat Islam tidak cukup terwakili di lembaga-lembaga tinggi negara segera setelah MPR bukan lagi lembaga tertinggi negara pelaksana kedaulatan rakyat.
Bahkan selama 10 tahun era Joko Widodo, ummat Islam dituduh sebagai anti-Pancasila, dan anti-NKRI, bahkan pelaku kejahatan HAM berat pada peristiwa G30S/PKI, sedangkan PKI ditempatkan sebagai korbannya.
Presiden Prabowo Subianto sedang berusaha memutar haluan kapal besar NKRI ini kembali ke haluan UUD 18/8/1945 rumusan para ulama faqih dan zahid serta para cendekia negarawan terbaik di masanya.
Para tokoh-tokoh Islam hendaknya rela menyembelih egonya masing-masing, menyisihkan perbedaan-perbedaan semu yang tidak esensial untuk mewujudkan tugas taqwa (QS Al Hajj : 37):
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya: Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
Sedang tugas pertama dan utama para muttaquun adalah (QS Ali Imron : 103):
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ
Artinya: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,….
Persatuan ini prasyarat bagi perputaran haluan kapal NKRI ini, sekaligus pemupukan kekuatan ekonomi ummat yang kemudian menjadi syarat bagi pemupukan kekuatan politiknya.
Hanya dengan jalan ini ummat Islam mampu melaksanakan pesan Rasulullah saw di Haj al wada’ itu secara murni dan konsekuen sebagai misi para hajjan mabruuran.
*) Daniel Mohammad Rosyid, @Rosyid College of Arts, Guru Besar Departemen Teknik Kelautan ITS, PTDI Jawa Timur
Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi