Bisnis Ritel

Giant Resmi Tutup Gerai, Bagaimana Penjelasan Ahli?

  • Whatsapp
Ilustrasi toko swalayan Giant

JAKARTA-KEMPALAN: Giant dikenal sebagai toko swalayan yang memiliki banyak gerai di Indonesia. Selain department store yang menjual produk sandang seperti makanan, Giant juga memiliki gerai supermarket yang menjajakan kebutuhan hidup sehari-hari.

Supermarket yang sahamnya dimiliki oleh Hero Supermarket Group sejak tahun 2010, telah dibuka 46 hypermarket Ginat dan 104 gerai supermarket di seluruh Indonesia. Namun baru-baru ini, Giant resmi menutup gerainya di seluruh daerah di Indonesia.

Perilaku masyarakat yang konsumtif dan dinamis, sebenarnya menjadi penyebab fundamental dimana toko swalayan berbasis hypermarket dan supermarket tidak memiliki umur yang panjang di Indonesia.

Ditambah, era teknologi menyebabkan ada perubahan perilaku konsumtif dari para konsumen. Merebaknya platform e-commerce jual-beli online menstimulus para konsumen untuk berbelanja online. Hal ini berdampak pada toko konvensional yang semakin sepi dan akhirnya merugi.

Fenomena ini yang sebenarnya cukup lumrah, jika melihat beberapa toko swalayan seperti Giant akhrinya tutup. Perubahan perilaku konsumen juga tidak diiringi dengan revolusi toko berformat besar sehingga penutupan gerai seperti Giant menjadi hal yang lumrah ditemui.

“Format big box sudah dua dekade tidak berevolusi. Isinya hanya perang harga saja. Di luar penjualan produk grocery, pengelola kurang pandai untuk membuat pengalaman belanja lebih menarik,” ujar Yongky Susilo selaku Pengamat Ritel sekaligus Staf Ahli Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippind), Selasa (25/5).

Yongky melihat bahwa format hypermarket telah tertindas akibat pertumbuhan negatif dalam beberapa tahun terakhir. Dimana, hal ini tidak terlepas dari konstruksi konsumen kelas menengah atas yang mengedepankan nilai efisiensi dan efektivitas. \

“Masyarakat menengah ke atas arahnya ke belanja gaya. Makanya yang lebih naik daun format supermarket seperti grup Ranch Market, Foodhall, Grand Lucky dan sebagainya. Format memang perlu diperkecil jika di kota-kota besar,” imbuhnya.

Ia menilai bahwa format hypermarket tetap memiliki peluang, terkhusus di kota-kota secondary dan tertiary dengan masyarakat kelas menengah yang tertarik di konsep toko-toko besar. Sementara di kota-kota besar, pelaku usaha harus memberikan pengelaman berbelanja yang baik. (Rafi Aufa Mawardi)

Berita Terkait