Catatan Ekonomi Dr. Khairunnisa Musari

Sukuk Wakaf Ritel, Inovasi Indonesia untuk Wakaf Uang Produktif

  • Whatsapp

KEMPALAN: Belajar dari sejarah keuangan publik Islam di masa lalu, keterlibatan masyarakat pada saat krisis memainkan peran penting dalam pemulihan ekonomi. Sukuk wakaf ritel adalah instrumen keuangan publik berbasis syariah yang diterbitkan pemerintah Indonesia saat ini yang membutuhkan dukungan masyarakat.

Penerbitan Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) Ritel dengan nomor seri SWR-002 yang telah ditawarkan sejak 9 April lalu masih akan berakhir pada 3 Juni mendatang. Tahun ini adalah tahun kedua pemerintah menerbitkan CWLS untuk pasar ritel.

Sebelumnya, CWLS Ritel perdana dengan seri SWR-001 telah diterbitkan pada November 2020. Seperti halnya SWR-002, SWR-001 pun membidik individu dan institusi yang imbalannya disalurkan untuk program-program sosial.

Sebelumnya lagi, pemerintah sebenarnya juga sudah menerbitkan CWLS dengan seri SW-001 pada Maret 2020. Namun, instrumen ini bukan untuk pasar ritel. Diskonto dari SW-001 yang dibayarkan sekali pada awal transaksi telah digunakan untuk membangun Pusat Retina pada Rumah Sakit (RS) Wakaf Achmad Wardi di Serang.

Sementara, kupon yang dibayarkan setiap bulan digunakan untuk pelayanan operasi katarak gratis bagi kaum duafa dan pengadaan ambulans pada RS tersebut.

Tahun ini, SWR-002 bertenor 2 tahun ditawarkan dengan tingkat imbalan tetap sebesar 5,57% per tahun yang akan disalurkan pada sejumlah program sosial seperti klinik pada pesantren, membantu guru-guru, membiayai pendidikan siswa duafa/yatim duafa, beasiswa sarjana,  pembiayaan pengobatan pasien duafa, pembiayaan peternak sapi dan hewan ternak lainnya, lumbung beras wakaf, dan modal usaha mikro kecil menengah (UMKM).

CWLS sejatinya adalah wujud komitmen pemerintah dalam mendukung Gerakan Nasional Wakaf Uang. Potensi wakaf uang di Indonesia sangat besar dan belum banyak tergali. Diperkirakan nilainya mencapai Rp180 triliun lebih per tahun.

Wakaf uang

Dalam perwakafan uang di Indonesia, dikenal istilah ‘wakaf uang’ dan ‘wakaf melalui uang’.

Wakaf uang adalah wakaf berupa uang dalam bentuk rupiah yang dikelola secara produktif. Hasilnya nanti akan dimanfaatkan untuk mawquf ‘alayh.

Sedangkan wakaf melalui uang adalah wakaf dengan memberikan uang untuk dibelikan atau dijadikan harta benda tidak bergerak atau harta benda bergerak sesuai yang dikehendaki wakif atau program/proyek yang ditawarkan kepada wakif, baik untuk keperluan sosial maupun keperluan produktif atau investasi.

Untuk itu, saat menghimpun wakaf melalui uang, wakif harus menyebutkan peruntukannya. Pada wakaf jenis ini, harta benda wakaf adalah barang atau benda yang dibeli atau diwujudkan dengan dana yang berasal dari wakaf melalui uang yang harus dijaga kelestariannya, tidak boleh dijual, diwariskan atau dihibahkan.

Sedangkan saat penghimpunan wakaf uang, maka nazhir harus menyebutkan jenis atau bentuk investasinya atau menyampaikan program pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan mawquf ‘alayh.

Uang wakaf yang telah dihimpun merupakan harta benda wakaf yang nilai pokoknya harus dijaga dan wajib diinvestasikan pada sektor riil atau sektor keuangan yang sesuai syariah dan peraturan perundang-undangan.

Sedangkan investasi wakaf uang dimaksudkan untuk menjaga nilai pokoknya dan menghasilkan manfaat atau keuntungan untuk disalurkan kepada mawquf ‘alayh melalui program-program sosial.

Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa, pertama, wakaf uang dihimpun hanya untuk tujuan produktif atau investasi pada sektor riil maupun sektor keuangan. Sedangkan wakaf melalui uang dapat ditujukan untuk keperluan sosial atau produktif atau investasi.

Kedua, yang diberikan kepada mawquf ‘alayh pada wakaf uang adalah keuntungan atau hasil investasi, bukan uang wakafnya. Sedangkan wakaf melalui uang untuk keperluan sosial sehingga uangnya langsung dimanfaatkan.

Ketiga, investasi wakaf uang terbuka untuk semua jenis investasi yang aman, menguntungkan, dan sesuai syariah serta peraturan perundang-undangan serta tidak terikat pada satu jenis investasi. Sedangkan wakaf melalui uang terikat peruntukannya sesuai kehendak wakif atau program/proyek wakaf yang ditawarkan kepada wakif untuk tujuan sosial.

Keempat, harta benda wakaf pada wakaf uang adalah uang yang harus dijaga nilai pokoknya dengan menginvestasikannya. Jika diinvestasikan pada properti atau produksi barang, maka boleh dijual karena bukan sebagai harta benda wakaf.

Adapun harta benda wakaf pada wakaf melalui uang adalah barang/benda yang dibeli atau diwujudkan dengan uang yang harus dijaga, dilindungi, tidak boleh dijual, diwariskan, dan dihibahkan.

Wakaf produktif

Wakaf merupakan pengamalan hadis Rasulullah, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh” (HR. Muslim).

Demikian juga petunjuk Rasulullah kepada Umar bin Khattab untuk mewakafkan tanahnya di Khaibar dengan mengatakan: “Tahan pokok hartanya dan salurkan hasilnya” (HR. Nasa’i).

Selama ini tafsir tentang wujud wakaf masih didominasi dengan pemberian sebidang tanah untuk dikelola yayasan Islam yang digunakan untuk pembangunan masjid, musala, panti asuhan atau sekolah.

Belakangan, barulah wakaf sebagai penggerak roda ekonomi semakin bergaung seiring sosialisasi dan edukasi tentang wakaf produktif yang kian gencar disuarakan.

CWLS adalah salah satu wujud wakaf produktif. CWLS membantu pengembangan investasi sosial dan menjadi motor wakaf produktif di Indonesia.

Kesyariahan CWLS telah terpenuhi melalui Pernyataan Kesesuaian Syariah Cash Waqf Linked Sukuk dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) tanggal 6 Februari 2019.

Secara umum, CWLS dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu perpetual CWLS dan temporary CWLS. Bagi yang memilih temporary CWLS, maka dana wakaf akan kembali pada tahun yang ditentukan. Bagi yang memilih perpetual CWLS, dana wakaf akan ditempatkan kembali pada sukuk seri berikutnya atau diinvestasikan pada produk lembaga keuangan syariah atau instrumen keuangan syariah lainnya atau diinvestasikan secara langsung setelah periode sukuk berakhir.

Wakaf produktif memiliki akar sejarah panjang dan telah dipraktekkan langsung oleh Rasululah SAW dengan mewakafkan tujuh kebun kurma di Madinah.

Demikian juga dengan para sahabat seperti Umar bin Khattab yang mewakafkan sebidang tanah di Khaibar, Utsman bin Affan yang mewakafkan sumur Raumah, Ali bin Abi Thalib yang mewakafkan tanah Yanbu’, dan Abu Thalhah yang mewakafkan kebun kurma Bairoha. Bahkan menurut Jabir bin Abdullah, semua sahabat Rasulullah yang memiliki harta melakukan wakaf.

Membutuhkan dukungan publik

Jelas, kehadiran sukuk wakaf ritel tidak akan berhasil bila tidak didukung oleh publik. Keterlibatan publik, termasuk dalam mengawalnya, menjadi kunci keberhasilan instrumen keuangan syariah ini.

Jelas, bukan pemerintah yang mengelolanya, melainkan nazhir yang digandeng oleh bank syariah sebagai mitra distribusi. Para nazhir ini pun memiliki reputasi sehingga dana CWLS dapat dikelola untuk memberi manfaat sebesar-besarnya bagi mawquf ‘alayh.

Apalagi, CWLS ini pun sejalan dan ikut mendukung pencapaian program Sustainable Development Goals (SDGs) yang menjadi agenda bersama negara-negara di dunia yang antara lain meliputi: pengentasan kemiskinan, mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan perbaikan nutrisi, mendorong hidup sehat dan mendukung kesejahteraan, memastikan pendidikan berkualitas yang layak dan inklusif serta mendorong kesempatan belajar untuk seluruh lapisan masyarakat.

Melalui CWLS, diharapkan pula dapat semakin mendorong perkembangan sektor ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Selain mendukung market deepening Sukuk Negara dan inovasi pengelolaan wakaf produktif, instrumen ini juga dapat memberikan eksponensial manfaat bagi kelembagaan ekonomi dan keuangan syariah lainnya.

Lagi-lagi, mengambil pelajaran dari masa lalu, sejarah keuangan publik Islam menunjukkan  keterlibatan masyarakat pada saat krisis memainkan peran penting dalam pemulihan ekonomi, termasuk dalam mengawalnya.

Untuk itu, sukuk wakaf ritel pun membutuhkan dukungan dan kawalan dari masyarakat agar instrumen ini dapat bekerja sebaik mungkin memulihkan perekonomian Indonesia.

Wallahua’lam bish showab.

*Sebagian dari tulisan ini diambil dari ‘2020, CWLS: Gerakan Radikal Membangun Ekosistem Wakaf Produktif di Indonesia’ yang ditulis bersama dengan Dwi Irianti Hadiningdyah (Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan) dan Fahruroji (Komisioner Badan Wakaf Indonesia (BWI).

(Dr. Khairunnisa Musari, Dosen Tetap Prodi Ekonomi Syariah Pascasarjana UIN K. H. Achmad Shiddiq (KHAS), Jember; Wakil Koordinator Indonesia Bagian Tengah DPP IAEI; Lead Independent Associate Ambassador of Ventureethica)

 

Berita Terkait