Selasa, 16 Juni 2026, pukul : 21:58 WIB
Surabaya
--°C

Strategi Hit and Run Israel

KEMPALAN: Perang antara warga Palestina melawan pendudukan Israel selama sebelas hari berakhir dengan gencatan senjata.  Organisasi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa perang singkat ini menewaskan 30 orang Israel, dan dari pihak Palestina menewaskan 260 orang, 1500 orang luka, dan 2000an rumah hancur.

Akibat kehancuran yang terjadi, lebih dari 80 ribu orang Palestina mengungsi dari rumah mereka di Gaza, yang sekarang hanyalah tumpukan puing-puing di mana gedung-gedung tinggi dulu berdiri, dan separuh jairngan air bersih rusak akibat bombardir militer Israel selama sebelas hari penuh tersebut.

Pemerintahan Amerika Serikat (AS) yang dipimpin oleh Joe Biden telah mendesak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dari Israel untuk menerima gencatan senjata. Namun gencatan senjata itu baru mau dilakukan setelah mengetahui bahwa lebih dari 80 ribu orang Palestina mengungsi.

Joe Biden pun beralih ke bagaimana negara AS ini dapat membantu membangun kembali Jalur Gaza. Meski ironisnya, bom-bom yang digunakan oleh tentara Israel untuk menghancurkan Gaza adalah buatan dan atau dengan biaya dari Amerika Serikat yang mana setiap tahun AS memberikan bantuan militer USD 3 miliar kepada Israel.

Yang juga seolah menjadi sia-sia adalah banyaknya bantuan biaya dan kemanusiaan ke Palestina baik untuk makanan maupun infrastruktur yang kemudian hanya untuk menjadi sasaran diluluhlantakkannya oleh persenjataan Israel dan AS dalam perang-perang singkat yang terjadi setiap tahunnya.

Siklus ini pun terulang secara periodik setiap tahun dan menjadi sebuah pola tersendiri. Pola yang dipakai adalah Hit and Run. Yakni Israel melakukan serangan-serangan pendek dan berhenti setelah dirasa cukup kehancuran yang dubutuhkan, dan sedikit dari pihak Israel. Namun kehancuran sedikit demi sedikit dari pihak Palestina itu benar-benar dinikmati oleh kaum Zionis yang tak berhati nurani tersebut yang kemudian ditargetkan secara akumulatif akan menjadi keseluruhan.

Pada dasarnya Amerika Serikatlah yang menghancurkan Palestina dengan memanfaatkan Israel, namun juga kemudian Amerika Serikat yang membangun kembali Jalur Gaza. Ini menjadi sebuah paradoks yang mungkin sulit diterima akal. Tapi ini dilakukan oleh AS dan Israel.

BACA JUGA  Prof. Theodore Postol Mengeluarkan Peringatan Keras Soal Nuklir Iran
Kawasan Gaza yang luluh lantak akibat perang-perang singkat oleh Israel. Ini menjadikan Palestina “wasteland” atau tanah terbuang tak berpenghuni hang siap diambil alih Israel. (foto:ist)

Yang perlu dilihat secara jernih adalah itu bukan persoalan apa yang terjadi sekarang, bahwa Amerika Serikat membantu membangun kembali Palestina, tapi ini adalah sebuah pola terstruktur dan rapi yang pada jangka pendeknya menjadikan Palestina sebagai “wasteland,” tanah yang hancur, rusak, terbuang, yang tidak layak untuk dihuni. Ketika tidak ada penghuninya, kemudian didirikanlah permukiman baru oleh Zionis Israel secara pemanen dengan klaim bahwa tanah itu tak berpenghuni.

Jika dilihat dari konteks yang lebih dalam, maka sebenarnya itu adalah strategi penguasaan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel untuk menguasai seluruh wilayah Palestina. Dalam serangan selama dua pekan itu saja telah banyak warga Palestina yang terlah terusir dari rumahnya. Dan pasca terusirnya warga Palestina kemudian diiringi dengan pembangunan pemukiman kaum Yahudi yang baru.

Pola yang dikembangkan adalah tarik ulur. Amerika Serikat mengulur-ulur waktu dalam perang Palestina melawan Israel. Setelah dirasa cukup kerusakan kawasan yang terjadi dan orang-orang Palestina telah banyak yang terusir, baru kemudian AS mendesak Israel untuk gencatan senjata.

Meski menurut Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres bahwa pembangunan pemukiman oleh Israel di wilayah Palestina yang diduduki sejak tahun 1967, termasuk Yerusalem Timur, tidak memiliki validitas hukum dan merupakan pelanggaran yang mencolok menurut hukum internasional, namun pembagunan permukiman Yahudi itu terus berjalan dengan pola-pola yang sama setiap tahunnya. Sedikit demi sedikit wilayah Palestina dicaplok oleh Israel.

Bahkan ini menjadi pola setiap kali Zionis Israel akan melakukan aneksasi wilayah Palestina, yakni didahului dengan perang. Kadang perang ini diakhiri dengan kemenangan oleh Palestina, ataupun dengan gencatan senjata. Namun ini tidak berdampak apa-apa bagi Palestina yang bahkan ribuan penduduknya harus mengungsi akibat tanahnya sudah menjadi wasteland.

Selain perang tersebut, pola reportasi satu pihak yang dilakukan oleh media Israel dan mendia pendukung Israel adalah dari para jurnalis terkenal adalah contoh sempurna bagaimana kekerasan struktural dipertahankan dan dipelihara di Israel.

BACA JUGA  Wahai Ummat Islam: Apa Maumu?

Pola lainnya yang dikembangkan adalah dengan menyasar kaum mudanya. Sebagai contoh adalah sosok Obaida Jawabra, seorang pemuda berusia 17 tahun yang ditembak mati oleh tentara Israel. Obaida pernah dipenjara pada usia 14 tahun dan dibunuh pada usia 17 tahun. Awal minggu ini Obaida ditempak tepat di dadanya di kawasan pengungsi Al Arroub, Tepi Barat kota Hebron.

Saksi mata mengungkapkan bahwa para tentara Israel menhan ambulans yang berusaha menolong Obaida. Obaida dibawa sebuah mobil ke rumah sakit terdekat, namun ajal mendahului para dokter yang akan menolongnya. Pembunuhan Obaida Jawabra menunjukkan brutalitas tentara Israel ketika mereka membidik anak-anak ini. Obaida dalah satu dari sekian banyak pemuda Palestina yang menjadi sasaran Israel.

Argumentasi bahwa Israel melakukan serangan untuk membela diri adalah sebuah absurditas. Argumentasi membela diri tidaklah berlaku secara hukum terhadap bagi mereka melakukan pendudukan suatu daerah. Hal inilah yang seringkali dilupakan oleh orang-orang yang termakan oleh propaganda Israel dan membela Israel.

Israel menjadi anak emas Amerika Serikat karena membawa keuntungan berupa perpecahan bagi kalangan umat Islam, dan jazirah Arab yang mayoritas Islam.

Jika memang Amerika Serikat dan negara-negara pendukung Israel tidak menginginkan itu terjadi, sepatutnya tidak ada lagi pembiayaan/bantuan militer, jual beli senjata, yang dalam konteks ini adalah untuk menghancurkan Palestina. Jika memang tidak ada itikad baik ini, maka selamanaya perang ini akan terjadi hingga keseluruhan wilayah Palestina menjadi Israel. Warga Palestina akan mati perlahan-lahan dalam siksaan. Ini akan kejahatan terbesar umat manusia. Namun, siapa yang bisa menghentikannya?

(Dr. Kumara Adji Kusuma adalah Redaktur kempalan.com, Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, dan Penanggung Jawab LKBH Umsida)

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.