Rabu, 29 April 2026, pukul : 19:24 WIB
Surabaya
--°C

Konflik Panjang, dan Syaikh Jarra Bukanlah Akhir dari Itu Semua

KEMPALAN: Donald Trump, memang bekerja penuh dan sungguh-sungguh untuk kepentingan Israel. Di ujung pemerintahannya, ia masih memuluskan sebuah Kesepakatan 4 Negara Arab dengan Israel, di Washington. Kesepakatan yang dinamakan dengan nama seorang Nabi, simbol yang menandai dua saudara akur kembali. Kesepakatan Abraham (Abraham Accords), namanya.

Empat negara Arab itu adalah United Arab Emirat (UEA), Bahrain, Maroko dan Sudan. Kesepakatan yang membuat Palestina skeptis melihat bagaimana saudara sendiri mampu meninggalkan saudaranya yang tengah memperjuangkan kemerdekaannya. Palestina seolah ditinggal sendirian tertatih-tatih menentukan nasibnya sendiri.

Kesepakatan Abraham, tidak saja mengikat sepakat pada perdamaian, tapi juga keamanan, bidang intelejen, perdagangan, pariwisata, ekonomi hijau, riset medis dan lainnya.

Beberapa pekan lalu Etihad, maskapai penerbangan milik UEA, terbang langsung ke Israel. Dan sebelumnya kunjungan kepala intelejen luar negeri Mossad, ke Dubai, ibu kota UEA. Kunjungan yang disambut dengan karpet merah, layaknya penyambutan tamu agung.

Kesepakatan Abraham, itu seperti upaya melupakan sejarah konflik berkepanjangan Arab-Israel. Dan itu tentang Palestina. Bermesraan dengan lawan masa lalu dan abadi (Israel), sembari meninggalkan saudara sendiri. Tampaknya kepentingan pragmatis itu jadi model antarnegara di kawasan. Menjadikan kohesivitas regional kawasan yang tadinya kuat menjadi lemah.

Tidak lagi bicara kawasan, tidak lagi bicara entitas Arab, tapi lebih bicara negara. Dan itu pada kepentingan sempit sebuah negara. Pragmatisme seolah berlomba didekatkan oleh situasi kawasan yang ada. Dan itu tentu tidak lepas dari kerja Amerika untuk “menyeret” negara-negara di kawasan itu mau tidak mau harus berdamai dengan Israel.

Amerika punya kemampuan memaksa, karena melihat celah yang dipunyai negara-negara di kawasan Timur Tengah. Dan itu biasanya tentang dua isu saja, demokrasi dan HAM, yang memang tidak pernah diregulasi. Amerika akan tutup mata dan tidak mengusik lagi hal-hal tadi, jika negara-negara itu mau nurut dan duduk bersama dalam perundingan dengan Israel.

Memainkan psikologis negara-negara yang disasarnya dengan isu-isu yang dimunculkan, Amerika memang jagonya. Tapi isu-isu tadi akan hilang jika apa yang diinginkannya tercapai. Dan khusus di kawasan Timur Tengah, sekali lagi, itu semata untuk melindungi kepentingan Israel.

Perasaan Tidak Nyaman

Tapi sebentar dulu, ada kesuntukan yang dalam yang dirasakan negara-negara itu, terutama UEA dan Bahrain, melihat tayangan televisi 24 jam bagaimana Israel membombardir Gaza. Maka Kesepakatan Abraham akan “terhenti” sementara, atau setidaknya diteruskan dengan sembunyi-sembunyi dalam balik layar, mustahil dilanjutkan terang-terangan jika gempuran Israel terus dilakukan.

Bahrain dengan suara yang nyaris “tercekik” mengeluarkan sikap, bahwa negaranya bersama Palestina. Tidak tahu persis itu suara sebenarnya yang disuarakan, meski parau, atau karena suara rakyat di negaranya “berontak” melihat kesewenang-wenangan Israel terhadap Palestina. Tidak tahu persis.

Rakyat di negara-negara kawasan memang melakukan protes dan merasakan kesuntukan luar biasa, melihat Israel menggempur sasaran sipil di Gaza, dengan korban meninggal tidak kecil. Pongahnya polisi memperlakukan jamaah yang ingin beribadah di masjid Al-Aqsa dengan begitu brutalnya. Dan mempersaksikan, bagaimana pemilik sah sebuah negeri diusir dari rumahnya sendiri di kawasan Jerusalem Timur.

Di belahan dunia Islam lainnya, protes dan demonstrasi atas kebiadaban zionis Israel dilakukan. Bahkan di Barat demo pembelaan atas Palestina dan mengutuk Israel pun dilakukan. Di Inggris para pendemo hingga bentrok dengan polisi. Di Perancis, negara yang akhir-akhir ini amat islamophobia, jelas melarang demo itu. Tapi demo tetap dilaksanakan.

Demonstrasi di London Bela Palestina

Selanjutnya, muncul inisiatif dari negara Mesir, Qatar dan Yordania, yang memang punya kedekatan komunikasi dengan Hamas, dengan cekatan mengadakan pertemuan, mengupayakan genjatan senjata. Belum tahu apa respon Hamas. Meski sebelumnya, Mesir lewat Menteri Luar Negeri nya, pada awal-awal konflik, meminta Israel untuk menghentikan serangannya ke Gaza, tapi tidak diindahkan.

Hamas memang kurang disuka negara-negara Arab, karena sikapnya yang tanpa kompromi. Melihat celah itu, maka Iran yang lalu mendekat pada Hamas, dan memberi bantuan. Bantuan dan kerjasama dengan Iran itu dimasalahkan, terutama oleh Saudi Arabia, yang tidak membantu (Hamas) tapi ikut menampakkan ketidaksukaan atas hubungannya dengan Iran. Aneh.

Mestinya, jika tidak suka kedekatan Hamas dengan Iran, seharusnya ada perhatian pada Hamas. Jika Saudi Arabia jengah, bisa pakai negara lainnya untuk mendekati, dan Saudi cukup mengucurkan bantuannya secara diam-diam. Selesai.

Peran Amerika yang Memanjakan

Konflik Palestina-Israel, setidaknya pekan ini, dipicu oleh pengusiran dan penggusuran rumah milik muslim Arab di Syaikh Jarra. Maka terjadilah perlawanan bahkan bentrok tidak seimbang antara penduduk sipil dan polisi dengan perlengkapan senjata yang siap menyalak.

Melihat konflik Israel-Palestina selalu ada peran utama Amerika, yang menyokong penuh Israel baik pendanaan maupun upaya diplomatik. Tanpa Amerika, Israel tak mungkin berani menampilkan kepongahannya.

Itu hal umum yang semua memahaminya. Tapi jika yang bicara itu seorang Noam Chomsky, seorang yahudi Amerika yang paling tidak disuka yahudi dan dicekal Israel, menjadi beda dan menunjukkan nuansa kebenaran yang absolut.

Chomsky, adalah Profesor linguistik di University of Arizona. Dan Profesor Emeritus di MIT. Meski usia tidak mudah lagi, Chomsky masih dianggap salah satu analis politik Timur Tengah paling menonjol, khususnya pada konflik Israel-Palestina.

Noam Chomsky

“Amerika selalu membantu secara material dan diplomatik penuh dan terus-menerus pada Israel,” itu katanya, saat diwawancara berkenaan dengan konflik Israel-Palestina teranyar.

Disamping tentu saja, tiadanya rasa persatuan lagi pada negara-negara Arab dalam membela Palestina, semacam dalam konflik terbuka dengan Israel (1967 dan 1973). Negara-negara Arab terikat dengan berbagai perjanjian dengan Israel, yang itu mengunci ketakberdayaan leluasa dalam membantu perjuangan Palestina.

Maka yang terjadi adalah kesewenang-wenangan Israel memperlakukan pengusiran penduduk asli Palestina yang sudah hidup bergenerasi di rumah dan tanahnya sendiri. Digusurnya dengan paksa, dan itu untuk pendirian rumah-rumah bagi kaum yahudi. Emigrasi yahudi dari Eropa terus berdatangan di “tanah yang dijanjikan”. Maka otoritas Israel sibuk mempersiapkan dan membangunkan rumah-rumah bagi pendatang dengan konsekuensi mengusir khususnya warga muslim di Jerusalem Timur.

Itu sesuai dengan tesis Chomsky, bahwa tujuan zionisme, menurutnya, untuk menyingkirkan negara Palestina dan menggantikan mereka dengan pemukiman Yahudi, yang tampil seolah sebagai “pemilik sah tanah” bagi mereka yang kembali ke kampung halamannya, setelah ribuan tahun hidup di pengasingan.

Konflik Israel-Palestina, itu utamanya lebih pada perebutan kota tua “tiga iman” Jerusalem: Yahudi, Kristen dan Islam. Sebuah buku karya Karen Armstrong, Jerusalem, One City, Three Faith (Jerusalem Satu Kota Tiga Iman, Edisi Indonesia, Penerbit Risalah Gusti), dimana Israel menghendaki hanya satu-satunya agama Yahudi yang menguasainya.

Karena itulah atas sokongan Amerika, Jerusalem menjadi ibu kota Israel. Dan memaksa satu persatu negara-negara yang menjalin hubungan diplomatik dengannya untuk memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Jerusalem.

Ada ungkapan menarik dari buku Karen Armstrong itu, yang memperlihatkan betapa kompleksnya konflik Arab-Israel. Layak disampaikan sebagai penggambaran begitu rumit dan panjangnya Jerusalem mewarnai perjalanan tiga iman itu, dan tentu sekaligus untuk menutup tulisan ini.

“Kisah yang kompleks, kekisruhan spiritual dan transformasi politik sejak menjadi ibukota pada masa Raja Daud sampai sebagai basis kecil administratif militer pada masa Imperium Romawi, dari kota metropolitan yang dikuduskan oleh Kristus sampai menjadi pusat spiritual yang ditaklukkan dan dimuliakan oleh kaum Muslimin, dari piala kemenangan yang gemilang bagi Pasukan Salib Eropa sampai menjadi simbol konflik Arab-Israel penuh dengan desingan peluru sampai saat ini”.

Dan memang benar, dan entah sampai kapan konflik panjang itu berakhir. Syaikh Jarra tentu bukanlah konflik terakhir… Wallahu a’lam. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.