KEMPALAN: Ramadhan yang sebentar lagi akan meninggalkan kita bisa sebagai evaluasi diri, apakah ibadah dan amalan-amalan kita sudah memenuhi persyaratan optimalisasi sebagaimana yang disyariatkan. Jawaban jujur kita bisa menjadi tolok ukur, lulus atau tidaknya kita dalam “madrasah” Ramadhan.
Jika evaluasi diri menyatakan lulus, maka akan tampak pada sikap keberagamaan, meski Ramadhan telah berlalu. Mengejawantah dalam menjaga ibadah dan amalan-amalan kebaikan lainnya, maka puasa sunah di luar Ramadhan akan menjadi kebiasaan yang dilakukan. Qiyamul-lail pun selama Ramadhan akan membekas, dan lantas menjadi kebiasaan yang dilakukan, meski dengan durasi waktu yang tidak panjang.
Kelulusan kita dalam “madrasah” Ramadhan akan menjadi modal di bulan-bulan selanjutnya. Itu bukti konsistensi sikap (istiqamah) dalam menjalankan perintah dan sekaligus menjauhi larangan-Nya.
Tujuan yang hendak dicapai dalam berpuasa di bulan Ramadhan adalah ketakwaan. Inilah tujuan utama yang ingin dicapai tiap pribadi muslim yang berpuasa (sha’imin).
Takwa sebagaimana kita pahami adalah tindakan seorang hamba yang mencoba mengambil jarak antara dirinya dengan sesuatu yang dilarang. Sembari memposisikan diri senantiasa menjalankan perintah-perintah-Nya. Inilah yang disebut muttaqin.
Muttaqin itu predikat yang disematkan Allah pada hamba-Nya yang bertakwa. Suatu predikat terhormat yang didapatkan dalam “madrasah” Ramadhan, yang membuahkan pribadi pada jalan “lurus”, meski Ramadhan sudah berlalu.

Merekalah para Kekasih Allah, sebagaimana penjelasan al-Qur’an, Surat 9: 4, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” Yang dicintai itulah Kekasih-kekasih Allah.
Mereka itu juga akan menduduki maqam spiritual tertinggi, yaitu “kebersamaan” dengan Allah (maiyatuLlah), sebagaimana dijelaskan al-Qur’an dalam Surat 9: 36, “Ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”
Mereka yang bertakwa juga akan mendapatkan standar penilaian untuk membedakan yang haq dan batil. Inilah yang disebut furqan, sebagaimana dijelaskan al-Qur’an, Surat 8: 29. Dan puncak dari itu semua adalah “pencapaian surga yang telah dijanjikan-Nya” (QS 19: 72).
Ada ungkapan yang begitu baik berkenaan dengan takwa, yang disampaikan Umar bin Abdul Aziz Radhiyallahu Anhu, “Takwa itu tidak semata dimaknai dengan sekadar puasa di siang hari dan qiyamul-lail di malam harinya. Takwa itu penghindaran diri dari apa saja yang diharamkan, dan mengerjakan apa saja yang diwajibkan Allah. Karenanya, sikap kebaikan itu akan mendorong pada sikap kebaikan lainnya (khairun ila khairin).”

Penjelasan berkenaan dengan takwa dari para Salafush-Shalih, redaksinya beragam namun substansinya lebih kurang sama. Ada yang menarik dari penjelasan Sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, Abu Darda’ Radhiyallahu Anhu, “Kesempurnaan takwa ditunjukkan dengan sikap menjaga diri dari hal-hal yang dihalalkan sekalipun. Itu agar yang bersangkutan tidak sampai terperosok kepada hal-hal yang dilarang Allah, yakni sesuatu yang haram.”
Semoga kita tidak termasuk golongan yang gagal dalam “madrasah” Ramadhan, yang dicirikan–selepas bulan Ramadhan–dengan kembali melakukan perbuatan tercela, lalai dan abai dalam beribadah, dan cenderung pada amalan-amalan buruk yang menuai dosa.
Sekitar sepekan lagi Ramadhan akan meninggalkan kita. Dan kita pun sebagaimana biasanya akan melakukan rutinitas yang biasa dikerjakan, tentu spirit Ramadhan akan terus kita bawa dan amalkan. Yuk, terus berburu lailatul-qadr, insya Allah masih ada waktu untuk mendapatkannya. (Ady Amar)


Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi