KEMPALAN: (Ngabuburit di Ramadhan hari ke-13 ini, berkisah tentang Kesederhanaan dan Persahabatan, yang saat ini sudah langka bisa ditemukan. Semoga bisa jadi santapan ruhani yang nikmat menjelang buka puasa).
***
Ini kisah lelaki sederhana. Kisah berpuluh tahun lalu. Kisah yang masih tetap relevan diangkat, karena kerinduan munculnya sosok semacamnya di tengah pusaran politik pragmatis seperti sekarang ini.
Sebagai pemimpin partai politik, tokoh yang sedang kita bicarakan, ini tidak punya kehausan pada kekuasaan. Karenanya, ia menjadi tidak serasi dengan cara-cara pemimpin politik yang bersaing dalam merebut kekuasaan.
Inilah paradoks eksistensial yang menyelimuti dirinya. Dimana ia tidak berambisi akan kekuasaan, dan karenanya ia memiliki kebebasan batin menakjubkan untuk tidak tergoda oleh jabatan.
Ia memang bukan jenis politisi yang mencari dan menumpuk materi, disebabkan jabatan politiknya. Ia hanya berjuang untuk agama, bangsa dan negaranya.
Semua itu tampak dari cara hidupnya yang amat sederhana, meski ia pernah menjabat sebagai mantan Wakil Perdana Menteri dan mantan Wakil Ketua Konstituante. Jabatan prestisius, yang jika ia minat pada materi maka hidupnya akan mapan.
Ada kesaksian menarik tentang “tokoh” yang sedang kita bicarakan ini. Kesaksian Siti Sjamsiar, putri sulungnya.
“Menjelang pembubaran Masyumi, suatu hari saya diminta Bapak untuk menisik (menambal) kerah baju koko putih beliau. Saya bertanya, untuk apa? Beliau menjawab, untuk ke istana.
Keesokan harinya Presiden Soekarno memanggil para pimpinan Partai Islam Masyumi, dan Partai Sosialis Indonesia. Semua yang hadir di istana saat itu mengenakan setelan resmi berjas lengkap, berdasi dan bersepatu, kecuali Bapak yang hadir dengan sarung, baju koko tua dan sandal kulit.”
Siapakah pribadi yang luar biasa itu, yang hidup dan kehidupannya sarat dengan kesederhanaan?
Dialah Prawoto Mangkusasmito, salah satu pendiri Partai Islam Masyumi, bersama M. Natsir dan yang lainnya. Dan beliau adalah Ketua Umum Partai Masyumi terakhir, sebelum partai itu dibubarkan rezim otoriter Soekarno, di tahun 1960.

Kesaksian Mereka yang Mengenalnya
Semua yang mengenal pribadi yang satu ini, akan memberikan kesaksian menakjubkan tentang kesederhanaannya.
Adalah Mochtar Lubis, pemimpin surat kabar “Indonesia Raya”, yang diberangus rezim Soekarno, dan lalu oleh rezim Soeharto, mengatakan, “Jenggot dan kumisnya, peci, kacamata dan kain sarung yang paling suka dipakainya setiap hari memberi kesan khas pribadi Prawoto Mangkusasmito yang amat sederhana.”

Rekan separtainya pun, Mohammad Roem, mengatakan demikian tentang Prawoto, “… Kita telah mengenal pak Prawoto dengan jenggotnya yang setengah memutih, dan dengan peci hitamnya dan sarung yang acap dikenakannya. Bagi saya, gambaran tentang beliau sudah cukup, yang akan saya simpan selama hidup. Pribadi yang sempurna, nyaris tidak kurang suatu apapun.”
Keteguhan sikap dalam memegang prinsip, dan sikapnya yang suka mendengarkan lawan bicara, sembari membuka ruang diskusi yang sehat guna mencari titik temu pada suatu perbedaan, itulah kelebihan pribadi Prawoto Mangkusasmito.
Persahabatannya yang tulus baik kepada kawan maupun lawan politiknya amatlah terjaga. Inilah pribadi yang tidak cuma bisa menjadi contoh politisi yang lahir belakangan, tetapi pada masanya juga mengantarkannya pada sikap empati berbagai pihak padanya.

Ada ungkapan lain tentang kepribadian Prawoto, dan itu disampaikan Tahi Bonar (TB) Simatupang, yang menulis demikian, “Saudara Prawoto adalah orang yang sangat tenang. Saya tidak pernah melihat beliau marah, gusar atau tergesa-gesa,” yang termuat dalam bukunya, Laporan dari Bunaran.
Membeli Rumah dengan Saweran
Ada kisah yang diceritakan banyak pihak dalam berbagai versi, bahwa Prawoto tidak memiliki rumah sendiri. Rumah yang ditempatinya adalah rumah yang ditinggalkan pemiliknya berketurunan Tionghoa, berkewarganegaraan Belanda, yang kembali ke Belanda tahun ’50 an.
Setelah ditemukan pemiliknya, maka Prawoto ingin membelinya. Hanya saja ia tidak punya uang yang cukup untuk membelinya, meski ia telah menjual beberapa harta yang tidak seberapa, yang dimilikinya, termasuk mobil kesayangannya, dan satu-satunya, Chevrolet warna hijau. Lalu bagaimana dengan kekurangannya?
Mendengar itu, para sahabatnya pun melakukan patungan (saweran) agar Prawoto dapat memiliki rumah itu. Salah satu sahabatnya yang ikut saweran adalah I.J. Kasimo, Ketua Partai Katolik Indonesia. Dan konon koordinator penggalangan dana “diam-diam” dikoordinatori oleh KH. A. Wahid Hasyim, Ketua Umum Partai Nahdaltul Ulama.
Itulah empati yang ditunjukkan kawan-kawannya. Mereka mencoba membayar kebaikan dan nilai luhur yang ditorehkan Prawoto selama ini. Dan, itu manusiawi.

Kesederhanaan, sikap hormatnya pada semua yang dikenalnya, dan konsistensinya pada prinsip yang dianutnya menimbulkan respek pada kawan maupun lawan politiknya.
Itulah sosok manusia langka, Prawoto Mangkusasmito. Pribadi sederhana dengan peci hitam, baju koko, dan yang akrab bersarung.
Tampaknya Tuhan hanya menghadirkan satu Prawoto Mangkusasmito di tengah-tengah manusia Indonesia, sulit untuk mencari padanannya.
Tidak tahu persis apakah namanya ada termuat dalam buku “Kamus Sejarah Indonesia” ahistoris, yang belakangan ini ramai dibincangkan. Memang sih tidak ngaruh dimasukkan dengan tidaknya namanya itu. Nama Prawoto Mangkusasmito akan tetap harum dikenang mereka yang melihat sejarah dengan jujur, manusiawi dan bukan sejarah yang dihadirkan semaunya… Wallahu a’lam. (Ady Amar).


Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi