KEMPALAN: Minggu palma (28/3) yang bagi umat Katolik menandai awal Pekan Suci menjelang kebangkitan Yesus Kristus alias Paskah dinodai dengan serangan bom bunuh diri (suicide bombing) terhadap Gereja Katolik Katedral di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Tak lama berselang, tiga hari kemudian, Rabu (31/3), serangan teror serupa terjadi pada Mabes Polri di Jalan Trunojoyo, Jakarta.
Banyak reaksi yang muncul setelah itu. Ada yang mengutuki serangan teroris, mengaitkannya dengan agama, kelompok radikal tertentu, dengan Ahok, mencelanya sebagai kadrun, menertawakan kebodohannya, dan seterusnya melalui ketikan cepat jemari di media sosial, yang tak lama disambut beraneka riungan komentar senada.
Lebih banyak yang menghakimi, daripada menjadikannya perenungan: mengapa semua ini terjadi dan bagaimana peran umat Kristiani (Katolik, Protestan, Injili, Pentakosta, dan semua denominasi di dalamnya) untuk menjadi garam dan terang dunia? Garam dan terang dunia yang diajarkan oleh Yesus Kristus selama hidup-Nya di dunia.
Minggu Palma merupakan perayaan dalam rangka mengenang kedatangan Yesus di Kota Yerusalem berdasarkan nats kisah di dalam Injil. Yesus mengendarai keledai disambut dan dielu-elukan dengan daun palma bak raja. Dan, masyarakat Yahudi pada waktu itu, memang tak sedikit yang menantikan Yesus menjadi pembebas, raja—dalam arti nyata–dari belenggu penjajahan yang saat itu mereka hadapi.

Namun, sesaat kemudian kaum Yahudi yang mengelu-elukan Yesus itu berbalik menyalibkan-Nya yang diperingati dalam rangkaian penderitaan dan wafat Yesus Kristus: Kamis Putih dan Jumat Agung. Dipuji-puji, diagung-agungkan sebagai Mesias, Pembebas, Raja yang akan datang, kemudian dihujat, bahkan disalibkan hingga mati. Pun, kisah di Injil mencatat, semua yang melakukan kenistaan itu kemudian cuci tangan dengan caranya masing-masing.
Sejarah selalu berulang dalam kehidupan manusia ini. Tidak ada yang baru di bawah matahari, kata Amsal Sulaiman di dalam Alkitab Perjanjian Lama. Di masa kini, kita kerap menyaksikan orang yang dulu memiliki jabatan tinggi, dihormati dan didekati luar biasa, tiba-tiba menjadi pesakitan yang dijauhi bak orang berpenyakit menular setelah terkena kasus pidana atau tak lagi menjabat.
Ketika dia berkuasa, semua datang mendekat, menjilat, mencari simpati kepadanya, dan yang berkuasa itu bersikap seperti akan berkuasa seumur hidup. Namun, setelah tak lagi berkuasa dan berharta, saudara pun tak mau menengok bahkan mengakui. Begitulah watak manusia yang punya natur dosa itu.
Ketika Yesus Kristus merendahkan diri, mengosongkan diri-Nya sebagai Yang Maha Kuasa dan Maha Kekal dalam bahasa teologis iman Kristiani sebagai anak Allah, menjadi insan manusia yang fana, banyak manusia yang justru meninggikan dirinya sendiri. Seakan-akan akan hidup kekal di dunia ini dan membawa mati dunia dan segala isinya. Menyikat, menyikut, menjatuhkan, memfitnah sesama yang lain pun sudah jadi kebiasaan.
Dalam kasus bom pun, umat Kristen global dan Indonesia sebagian bersikap naif. Di satu sisi mengutuk serangan terorisme, tetapi di lain pihak mendukung Israel sebagai “umat pilihan Allah” dan menelan bulat-bulat kalimat di Alkitab itu secara literal tafsir teologisnya sebagai Israel fisik pada masa modern ini.
Frasa “Israel umat pilihan Allah” ini telah menjustifikasi sebagian penguasa di Gedung Putih, Amerika Serikat yang berhaluan Evangelis fundamentalis di sana untuk memandang konflik di Timur Tengah saat ini, termasuk Israel-Palestina di dalamnya dalam kacamata teologi eskatologi harmageddon.
Bahwa di akhir zaman sebelum kedatangan Yesus Kristus yang ke-2 kalinya, Israel akan diserang oleh “bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah” dan karenanya Israel harus dibela dan yang berkonflik dengan Israel harus diperangi demi mempercepat penggenapan kedatangan Yesus Kristus yang ke-2 kalinya ke dunia. Kedatangan yang ke-2 kali (second coming) yang diimani adalah kedatangan Yesus sebagai yang ilahi, bukan sebagai manusia fana seperti pada kedatangan-Nya yang pertama.

Konflik di Irak, Palestina, Afghanistan, dan seterusnya pun muncul akibat campur tangan Negeri Paman Sam yang sebagian harus diakui dipengaruhi sebagian oleh paham teologi eskatologi fundamentalisme kalangan Evangelis di atas. Sebagian dunia Islam yang merasa ditindas dalam berbagai hal akhirnya berjuang dengan berbagai caranya. Termasuk menempuh mati syahid dengan serangan bom bunuh diri.
Israel punya bom nuklir Palestina punya bom manusia. Itu semboyan pejuang Palestina yang tidak berdaya menghadapi kekuatan Israel yang menjadi proxy Amerika dan Eropa di Timur Tengah. Bom manusia itu menjadi model perlawanan di seluruh dunia. Penyerangan WTC New York 11 September 2001, sampai serangan bom di Makassar 28 Maret 2021 mempunyai benang merah yang menyambungkan kekecewaan dan rasa keterkalahan selama berabad-abad itu.
Serangan bom manusia tidak bisa dihentikan jika rasa keterkalahkan yang berkepanjangan itu tidak memperoleh penyelesaian yang berkeadilan (Dr. Dhimam Abror Djuraid, Kempalan.com, 30/3).
Kita menunggu peran umat Kristen yang membawa syalom, damai sejahtera, kasih, dan pengampunan seperti dalam rangkaian peristiwa Kamis Putih, Jumat Agung, dan Paskah yang dijalani sendiri oleh Yesus Kristus dengan keikhlasan 100 persen. Yesus Kristus yang mendoakan dengan penuh pergumulan sebelum penderitaan-Nya yang tak terperikan itu: kalau bisa jauhkan cawan penderitaan ini daripada-Ku ya Bapa.
Dalam kebiasaan masyarakat Yahudi waktu itu, orang-orang yang disalibkan adalah orang-orang buangan, terhinakan, penjahat, kalangan yang masuk strata sosial paling lancung di masyarakat. Yesus Kristus sudah menjalaninya. Cawan penderitaan itu sudah diminum-Nya sampai habis.
Ikutilah teladan Yesus Kristus. Jangan jadi umat Kristen yang memicu perang dan ketidakadilan karena posisinya sebagai negara superpower. Yang berkuasa, yang menjadi pusat kapitalisme, yang sukses untuk dirinya sendiri. Sementara yang lain hanya menjadi market dan dimanfaatkan. Sementara sebagian yang lainnya ironisnya sibuk menghakimi dan menertawakan sebagai lelucon nir-empati atas serangan bom, kekerasan, dan ketidakadilan di seputar kita.
Adapula yang memilih bersikap tak acuh di tengah menara gading hedonisme kemapanan hidup yang sementara dan justru dikecam keras oleh pelayanan Yesus Kristus semasa hidup-Nya di dunia selama hanya kurun waktu tiga tahunan itu. Selamat Paskah 2021. (Freddy Mutiara, mantan aktivis Badan Musyawarah Antar Gereja Jawa Timur, managing editor Kempalan.com)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi