KEMPALAN: Pagebluk Covid 19 ini penyakit global yang melanda seluruh dunia, tapi respons yang dilakukan oleh hampir semua negara di dunia bersifat lokal-parokial yang lebih mengdepankan kepentingannya sendiri atas nama nasionalisme.
Indonesia sudah mengimpor jutaan unit vaksin dari China dan Inggris, tapi masih jauh dari kebutuhan. Vaksin lokal masih belum jelas kabarnya. Ada Vaksin Merah Putih ada Vaksin Nusantara. Apapun namanya yang penting ada progres, bukan seperti sekarang, berita yang ramai bukan progres tapi kontroversi. Yang diributkan adalah soal nasionalisme seolah-olah nasionalisme masih penting di tengah pandemi global. Seolah-olah Covid 19 melihat paspor dulu sebelum menyerang.
Globalisasi bukan hanya membawa modal dan teknologi keluar masuk ke semua negara menembus batas-batas geografis. Tapi globalisasi juga membawa konsekuensi penyakit yang menerobos ke semua negara tanpa permisi. Belum pernah ada dalam sejarah dunia penyakit menular yang menyebar ke seluruh dunia seperti Covid 19 ini. Seluruh dunia nyaris lumpuh gegara penyakit global ini. Di masa lalu pada abad ke-17 dan awal abad ke-19 ada pagebluk dahsyat the black death yang menewaskan jutaan orang. Ada juga flu spanyol, spanish flu, yang membunuh 20 juta orang lebih atau nyaris dua pertiga penduduk Eropa. Tapi penyakit itu berhenti di Eropa, atau paling jauh menyebar ke Asia tengah. Tapi Covid 19 ini merantak cepat ke seluruh dunia dalam hitungan hari.
Globalisasi membuat dunia berubah menjadi kecil. Satu negara dengan lainnya tersambung dan terkoneksi menjadi satu, melahirkan masyarakat berjaringan, seperti yang digambarkan Manuel Castells dalam “The Rise of the Network Society” (1996). Dunia menjadi tanpa batas, borderless world, batas-batas geografi hanya ada di atas kertas. Aliran manusia, barang, dan jasa menggelombang 24 jam tanpa bisa dihentikan. Informasi juga menggelombang seperti tsunami menggulung siapa saja tanpa peduli. Planet bumi berubah menjadi sebuah kapal induk yang berisi semua negara sebagai penumpangnya. Kalau kapal induk oleng semua penumpang akan mabuk. Kalau kapal induk bocor semua penumpang akan keluncum basah kuyup. Kalau kapal tenggelam semua penumpang akan tamat.

Sekarang ini kapal induk lagi bocor. Tapi alih-alih kerja bakti untuk menambal bocoran, para penumpang malah lari masuk ke kabinnya masing-masing sambil sibuk menyumpal lubang-lubang yang bisa membawa air merembes ke kamarnya. Pikirnya, biar yang lain tenggelam asal gue selamat.
Pagebluk Covid 19 sekarang ini memunculkan reaksi masuk kamar dan menyumpali bocoran air supaya tidak kebanjiran. Vaksin-vaksin yang sudah ditemukan di negara-negara maju diprioritaskan untuk kepentingan negaranya sendiri. Keyakinannya adalah pandemi bisa dihentikan kalau tercipta herd immunity, kekebalan kelompok, minimal 70 persen penduduk harus kebal supaya penyebaran berhenti dengan sendirinya.
Semua negara berpikir mengenai dirinya sendiri untuk menyelamatkan warga negaranya sendiri. Citizen, masih diterjemahkan sebagai warga negara, padahal dalam dunia global sekarang warganegara sudah menjadi global citizen, warganegara dunia. Kota-kota besar sudah bukan lagi metropolitan atau megapolitan, tapi sudah menjadi “globopolitan”, kota buana.
Tapi bersamaan dengan itu planet bumi sebenarnya semakin mengerut seukuran genggaman tangan dan bisa dioperasikan dengan ujung jari. Satu orang di ujung dunia sana bisa ngrumpi dan “nonggo” dengan warga di pojok dunia lainnya. Dunia sudah menjadi global village, desa buana, yang menghubungkan semua sudut dan tidak bisa ada lagi batasan geografis yang menghalangi.
Nasionalisme harus diterjemahkan kembali. Bukan sekadar kepentingan sempat dengan mendahulukan negerinya sendiri dan mengabaikan negara lain seolah hidup bisa terisolasi dari negara lain. Slogan seperti “America First” tidak cocok untuk diterapkan di dunia global. Herd immunity tidak akan bisa dicapai kalau tidak ada herd immunity global.
Penduduk Amerika sekarang sekitar 330 juta jiwa. Kalau harus mencapai kekebalan kelompok 70 persen berarti harus mengebalkan 230 juta orang penduduk dengan vaksinasi. Padahal sampai sekarang Amerika baru memvaksin 20 juta orang. Presiden Joe Biden membual akan menyelesaikan proyek vaksinasi pada 4 Juli 2021 tepat pada ulang tahun kemerdekaan ke-245. Tapi itu janji politik, tidak ada bedanya dengan janji politik Donald Trump atau politisi-politisi lain di seluruh dunia.
Kalau jumlah penduduk dunia sekarang 7,4 miliar maka kekebalan kelompok akan tercapai kalau sudah memvaksin lebih dari lima miliar orang. Sebuah jumlah yang mustahil untuk dicapai tanpa kerjasama global yang kompak. Kapal induk dunia ini cuma satu, kalau tenggelam semuanya akan wassalam.

Lomba vaksin sudah ramai. Masing-masing negara sudah mengklaim punya produk terbaik masing-masing dengan segala kelemahan dan kelebihannya. China punya kelebihan dan kekurangan. Demikian juga vaksin made in Amerika, Inggris, Rusia, India, atau vaksin buatan lokal Indonesia. Tidak ada yang sempurna atau mengklaim sempurna, karena sehebat apapun virus bisa berlari lebih cepat karena mutasinya yang lebih cerdik untuk mengakali vaksin.
Di Indonesia vaksin lokal lebih ramai kontroversinya daripada progresnya. Vaksin karya anak bangsa ini cenderung macet perkembangannya. Ada politicking kepentingan sektoral yang membuat vaksin itu jalan di tempat atau malah atret mundur. Negara lain bicara nasionalisme vaksin, kita sibuk bersaing cari muka atas nama vaksin.
Sama-sama buatan anak bangsa, vaksin Nusantara kabarnya beda dari vaksin Merah-putih. Vaksin Nusantara–yang digagas Dokter Terawan Agus Putranto semasa masih jadi menteri kesehatan–sebelumnya dinamai Vaksin Joglosemar, vaksin COVID-19 berbasis sel dendritik yang dikembangkan oleh para ilmuwan dari Universitas Diponegoro (Undip), Semarang dan UGM Jogjakarta serta UNS Solo. Joglosemar adalah akronim dari Jogja-Solo-Semarang untuk mewakili lokasi tiga universitas itu. Tapi belakangan UGM menarik diri karena merasa namanya dipajang atau malah dicatut. Daripada namanya menjadi Losemar maka digantilah menjadi Vaksin Nusantara yang lebih keren. Sampai sekarang tahapan ujiklinis masih ramai di perdebatkan karena ada ganjalan perizinan. Selain catut mencatut ada juga ganjal mengganjal.
Dari sisi teknologi, penggunaan sel dendritik memungkinkan vaksin ini diproduksi secara personalized sesuai kebutuhan pasien. Vaksin ini disebut cocok untuk individu dengan penyakit komorbid yang tidak bisa mendapatkan vaksin biasa.
Kelebihan ini sekaligus jadi kekurangan, karena sejumlah pakar biologi molekular menganggap teknologi sel dendritik yang biasanya dipakai untuk terapi kanker ini tidak cocok untuk terapi Covid 19.
Beda lagi Vaksin Merah-Putih.
Namanya dwiwarna tapi sebenarnya lebih tepat disebut nano-nano yang banyak warna. Vaksin ini tidak merujuk pada satu jenis vaksin saja, melainkan sekelompok vaksin yang dikembangkan oleh konsorsium riset di bawah naungan Kementerian Riset dan Teknologi. Ada tujuh lembaga yang terlibat dalam riset termasuk lima perguruan tinggi. Sampai sekarang progresnya masih tetap progres saja, belum tahu kapan ujicoba selesai atau kapan bisa segera diproduksi masal.
Apapun nama vaksinnya tidak penting. Mau Vaksin Merah Putih atau Vaksin Nusantara yang penting ada hasil kongkret, bukan sekadar tempelan nama kosong yang tidak ada makna. Atau mungkin lebih baik vaksin-vaksin itu diberi nama Vaksin Petruk, si raja palsu yang berhidung panjang. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi