Referendum: Larang Pemakaian Cadar di Tempat Umum
BERN-KEMPALAN: Swiss akan segera melarang penggunaan cadar di tempat umum setelah referendum resmi yang dilaksanakan pemerintahnya menunjukkan 51,2% penduduknya memilih untuk melarang penggunaan cadar di negaranya. Penggunaan cadar hanya diperbolehkan di tempat peribadatan dan untuk karnaval saja.
Proposal untuk pelarangan cadar ini dilancarkan oleh Schweizerische Volkspartei (Partai Rakyat Swiss/SVP) yang juga melakukan kampanye yang memperlihatkan perempuan bercadar dengan tulisan “ekstremisme” dan “Islam radikal” dengan menggunakan poster.
Padahal, menurut Financial Times, penduduk muslim di Swiss hanya sekitar 450.000 orang, hanya 5% dari total penduduknya dan tidak semua penduduk muslimnya menggunakan cadar. Tamara Funiciello dari gerakan keperempuanan Partai Demokrat-Sosial menyatakan bahwa hanya 30 perempuan di Swiss yang benar-benar menggunakan cadar.
“Masyarakat telah mengatakan bahwa menutup (wajah) perempuan tidak memiliki tempat di budaya kami,” ujar Walter Wobmann, anggota Parlemen Swiss dari fraksi SVP dan ketua komite yang mengajukan pelarangan itu. Ia juga menambahkan bahwa pelarangan cadar adalah gerakan yang penting secara simbolis.
Menurut Morocco World News, masyarakata Muslim di Swiss mengecam kampanye pelarangan cadar yang menyebut hari referendum itu sebagai “hari hitam” bagi umat Islam. Majelis Islam Pusat di Swiss mengatakan bahwa referendum itu “menunjukkan bahwa Islamofobia telah meningkat di Swiss semenjak pelarangan pembangunan menara masjid pada 2009.” Pelarangan pembangunan menara masjid itu disebabkan karena pandangan SVP bahwa bangunan itu adalah bukti Islamisasi.
“Keputusan hari ini membuka luka lama, semakin memperluas prinsip ketidaksetaraan hukum dan mengirimkan sinyal yang jelas untuk mengucilkan minoritas muslim. Hasilnya tidak mengejutkan. Sebagaimana kredibel dan kompetennya saat Dewan Federal melakukan kampanye referendum, mereka mengabaikan fenomena ‘radikalisasi Islamofobia’ di masyarakat,” kata dewan tersebut.
Rim-Sarah Alouane, periset di Toulouse 1 Capitole University di Prancis, menyampaikan bahwa aneh jika Swiss mewajibkan penggunaan masker di tempat umum, namun melarang pemakaian cadar. Menurutnya, tindakan itu ditujukan untuk minoritas kecil wanita muslim yang menggunakan cadar. Kelompok yang mengkampanyekan pelarangan cadar berpendapat bahwa “orang bebas menunjukkan wajahnya” serta “burqa dan niqab bukanlah pakaian normal.”
Upaya pelarangan cadar di Swiss sendiri sudah dimulai semenjak 2014, ketika SVP berargumen bahwa cadar adalah ancaman keamanan nasional. Menjelekkan Islam, Muslim dan imigran sebagai musuh hak asasi manusia dan kebebasan berekspresi, beragama dan orientasi seksual telah menjadi pilar strategi pemilu SVP.
Pelarangan cadar ini juga dilawan oleh industri pariwisata di Swiss yang mengutarakan bahwa hal itu akan merugikan sektor pariwisata Swiss sendiri. “Pelarangan cadar pada tingkat nasional (akan) merusak citra Swiss di negara-negara Muslim dalam jangka panjang. Hal ini tidak hanya berdampak pada pariwisata, tapi juga sektor bisnis,” ujar seorang pejabat dari Asosiasi Kepariwisataan Swiss.
(Morocco World News/Foreign Policy/Financial Times, Reza Maulana Hikam)
