KEMPALAN: Budayawan Sujiwo Tejo pintar omong, ceplas-ceplos, dan suka “misuh”, mengumpat, dengan umpatan khas Surabaya. Ia menjadi “Presiden Jancukers”, entah siapa yang mengangkat, entah berapa lama periode kepresidennya, dan tidak ada yang tahu susunan kabinetnya.
Karena dia Presiden Jancukers maka sangat mungkin republik yang dipimpinnya adalah Republik Jancukers, karena tidak mungkin seorang presiden memimpin kerajaan dan bertindak seperti raja yang bisa memerintah seenaknya tanpa peduli undang-undang.
Mungkin di Republik Jancukers itu para menterinya juga jancukers semua. Wakil presidennya jancukers, menteri keuangannya jancukers, menteri koordinator politik jancukers, menteri koordinator investasi dan kemaritiman jancukers, menteri BUMN jankukers. Pokoknya di Republik Jancukers kabinet penuh jancukers.
Sebagai republik yang demokratis Republik Jancukers juga punya lembaga Dewan Perwakilan Rakyat, yaitu Dewan Perwakilan Rakyat Jancukers. Ada lembaga peradilan judikatif seperti kejaksaan dan pengadilan, ada Kejaksaan Agung Republik Jancukers dan Mahkamah Agung Republik Jancukers.
Tentu saja Republik Jancukers punya kepolisian dan angkatan bersenjata juga, namanya Kepolisian Republik Jancukers dan Tentara Nasional Republik Jancukers.
Republik Jancukers mempunyai kelembagaan politik yang lengkap seperti Trias Politica Montesquieu, eksekutif, legislatif, dan judikatif yang menjadi tiga pilar demokrasi. Supaya kakinya jangkap menjadi empat, harus ada kaki atau pilar keempat yaitu pers atau media. Maka di Republik Jancukers ada media-media jancukers juga.
Presiden Jancukers dicintai rakyatnya karena dia berasal dari kalangan rakyat dan sikap kesehariannya sangat merakyat. Presiden Jancukers suka blusukan menemui rakyat, berdialog dengan rakyat, dan tidak lupa bagi-bagi sembako kepada rakyat. Sering juga Presiden Jancukers bagi-bagi uang kepada rakyat jancukers dengan menyebarkan uang dari atas mobil. Rakyat berebutan dan Presiden Jancukers tersenyum senang dari atas mobil.
Sebagai pemimpin yang demokratis, Presiden Jancukers juga ingin mendapatkan kritik dan masukan dari rakyat jancukers dan juga dari media-media jancukers. Maka Presiden Jancukers pun mengumumkan bahwa dia ingin mendapatkan masukan dan kritik, tidak usah takut atau ragu menyampaikan masukan dan kritik, karena Presiden Jancukers menjamin keamanan bicara rakyat jancukers, termasuk keamanan setelah bicara para jancukers.
Akhir-akhir ini rakyat jancukers tidak berani mengritik Presiden Jancukers melalui media massa maupun media sosial karena ada undang-undang yang sering dipakai oleh Kepolisian Republik Jancukers untuk menangkap dan memenjarakan rakyat jancukers yang melakukan kritik dan ujaran kebencian.
Yang lebih membuat rakyat jancukers ngeri adalah pasukan buzzer dan ifluencer di Republik Jancukers yang tiap saat mendengung seperti tawon dan menyerang tiap rakyat jancukers yang berani mengritik Presiden Jancukers.
Pasukan buzzer dan influencer Republik Jancukers ini sangat kuat dan terlatih sekaligus juga dibayar mahal. Buzzer dan influencer jancukers ini dikoordinasi dan dibina oleh Kakak Pembina Jancukers yang memberi arahan sekaligus perlindungan.
Para buzzer dan influencer jancukers bisa bicara apa saja, bisa meyerang siapa saja, dan bisa membuat pernyataan apapun terhadap agama dan bisa tetap aman-aman saja. Buzzer dan influencer sering dilaporkan ke Polisi Jancukers tapi tidak ada yang ditahan atau diborgol tangannya, paling-paling diajak ngobrol dan kemudian diajak makan-makan di restoran.
Rakyat Republik Jancukers tidak berani bersuara karena takut dituduh radikal-radikul yang ujung-ujungnya ditangkap dan dipenjarakan.
Para buruh dan mahasiswa Republik Jancukers pernah melakukan demonstrasi besar memprotes undang-undang tenaga kerja yang dianggap menyusahkan rakyat. Tapi Presiden Jancukers tidak peduli terhadap protes itu dan undang-undang tetap didok oleh DPR Republik Jancukers dan diteken oleh Presiden Jancukers.
Para mahasiswa jancukers yang dulu pernah menjadi kekuatan yang bisa menjatuhkan presiden jancukers di era orde jancukers, sekarang sama saja dengan jancukers lainnya yang merasa adem-ayem di Republik Jancukers.
Para tokoh oposisi yang dulu berani melakukan kritik terbuka maupun tertutup sekarang pada sakit gigi tidak berani buka mulut. Mereka ngeri diserbu oleh para buzzer Republik Jancukers dan lebih ngeri ditangkap, diborgol, dan dipamerkan kepada media. Para pengritik itu dianggap sebagai penyebar hoaks dan berita bohong.
Akhir-akhir ini muncul berita mengenai kudeta militer di negara tetangga Republik Jancukers. Ada juga berita mengenai pemakzulan presiden jancukers di negara lain. Rupanya Presiden Republik Jancukers rada ngeri juga, takut kudeta militer terjadi dan dia bisa dimakzulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Jancukers. Makanya Presiden Jancukers buru-buru mengumumkan bahwa dia terbuka terhadap kritik dan dia senang menerima masukan.
Rakyat di Republik Jancukers belum percaya kepada pernyataan Presiden Jancukers itu. Jangan-jangan Presiden Jancukers sedang memainkan strategi “Let’s Thousands Flower Grow” biarkan ribuan bunga mekar, yang pernah dipakai di negara jancukers lain pada 1970an. Ketika itu di negara jancukers itu rakyat diberi kebebasan untuk bicara dan mengritik, tapi setelah itu para pengritik ditangkapi semua. Kritiklah Daku Kau Kutangkap. Itulah yang terjadi. Kemudian terjadilah Revolusi Kebudayaan yang menyebabkan kematian jutaan rakyat jancukers.
Di negeri Republik Jancukers juga ada revolusi yang didengungkan Presiden Jancukers, tapi sekarang tidak ada gaungnya lagi dan tidak pernah disebut-sebut lagi. Mudah-mudahan tidak akan terjadi Revolusi Kebudayaan di Republik Jancukers. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi