Ikatan Cinta, PPKM, dan Pemulihan Ekonomi Nasional
KEMPALAN: Empat bulan terakhir jagat sinetron Indonesia digemparkan kehadiran Ikatan Cinta, sinetron produksi MNC Pictures yang merupakan salah satu unit PT MNC Studios International Tbk (MSIN) dalam naungan MNC Group yang tayang perdana 19 Oktober 2020.
Dengan gaya tersendiri sinetron yang tayang 1,5 jam di primetime 19:30-21:00 WIB setiap harinya ini telah menorehkan audience share 44,9% dengan rating 10,1 pada Sabtu 12/12/2020. Angka ini adalah rekor tertinggi yang kemudian menjadi 46% audience share nya dengan rating 12,7 pada 21 Januari 2021.
Pencapaian ini menunjukkan betapa masyarakat kita telah merelakan dan meluangkan waktunya dengan sukarela tanpa paksaan untuk tinggal dirumah saja menunggu kehadiran Aldebaran dan Andin untuk kemudian seru-seruan memperbincangkan si cantik Elsa yang jahat.
Di sisi lain sudah hampir setahun ini para pejabat di tingkat pusat, provinsi, ataupun di kota/kabupaten harus bekerja keras berpikir cerdas mengkampanyekan work from home guna memutus mata rantai penularan Covid-19. Begitu banyak dan beragam bentuk juga namanya, baik agenda nasional maupun daerah.
Ada PSBB, PSBB Transisi, Karantina Terbatas, Lockdown Week End, Jateng 2 Hari di Rumah Saja, Kaltim Steril, dan lain-lain. Yang terkini Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa Bali 11-25 Januari 2021. Belum puas, akhirnya PPKM diperpanjang hingga 8 Februari 2021.
Setelah semuanya dipersiapkan begitu detail ternyata di tengah jalan divonis presiden bahwa PPKM tidak efektif. Secara agregat sampai hari ini Sabtu 6 Februari 2021 jumlah terkonfirmasi positif dilaporkan menjadi 1.147.010. PPKM tidak efektif dalam memutus mata rantai penularan Covid-19 juga dalam membatasi mobilitas masyarakat.
Tetap saja batasan-batasan tersebut diterjang oleh sebagian masyarakat meskipun di hadang beberapa bentuk sanksi ataupun denda. Penyebaran Covid-19 telah membuat seluruh elemen dalam masyarakat terjebak dalam kesulitan demi kesulitan, yang tentu saja kesulitan terbesar adalah masalah ekonomi.
Segala bentuk pembatasan mobilitas dan aktivitas dianggap telah melumpuhkan ekonomi dan melemahkan daya beli. Pengangguran juga semakin tinggi. Angka-angka pertumbuhan ekonomi kuartalan di 2020 adalah bukti yang akhirnya berujung pada kesimpulan bahwa Indonesia jatuh resesi, karena sudah mengalami dua kali atau lebih pertumbuhan ekonomi kuartalan yang negatif.
Memahami fakta sulit ini pemerintah merancang agenda besar, Pemulihan Ekonomi Nasional yang beragam bentuknya; insentif pajak, penurunan tarif, penundaan pembayaran, optimalisasi pengeluaran pemerintah, sampai bantuan subsidi upah dan lainnya.
Semua dilakukan agar belanja masyarakat meningkat dan ekonomi kembali bergerak, sesuai konsep dasar makro ekonomi bahwa terjadinya peningkatan pergerakan transaksi berarti terdapat perbaikan atas indikator makro ekonomi masyarakat. Terjadi yang namanya pemulihan ekonomi.
Sederhana, namun faktanya tidak semudah ini. Di satu sisi, pemerintah ingin keberhasilan agenda pemulihan ekonomi dengan mengenjot transaksi, namun di sisi yang lain juga membatasi aktivitas dan mobilitas agar terputus rantai penularan corona. Masyarakat beranggapan sekalipun dibatasi tapi unit-unit kegiatan ekonomi harus tetap bergerak tidak boleh mati.

Dan, sebuah production house punya ide cerdas memanfaatkan peluang ini. Mengangkat tema yang sebenarnya biasa namun cerdas membuat karakter yang luar biasa dalam mengolah kata yang mampu mengaduk aduk emosi pemirsa, jadilah “ikatan cinta”. Setiap hari sinetron dan tayangan-tayangan infotainment-nya terus dicari dan ditunggu pemirsa.
Tentu saja ini semua membawa akibat, masyarakat lebih suka dirumah saja. Tanpa paksaan, tanpa kebijakan, tanpa pembatasan kegiatan, “ikatan cinta” telah menjadi auto pilot agenda work from home pemerintah sebagai upaya memutus mata rantai penularan corona.
Kendati demikian pastilah tetap saja dimungkinkan adanya sebagain masyarakat yang beranggapan bahwa sinetron yang seperti ini tidak mendidik anak bangsa, meracuni pertumbuhan remaja, picisan, ataupun yang lainnya. Sah-sah saja.
Namun yang pasti raihan audience share dan rating Ikatan Cinta telah menciptakan catatan tersendiri yang nominalnya tentu saja harus diakui mampu membuat multiplier effect tersendiri. Baik multiplier employment, multiplier income, maupun multiplier economy. Belum lagi fakta bahwa ikatan cinta telah menjadikan masyarakat ber-WFH dengan caranya sendiri. (Bambang Budiarto adalah pengamat ekonomi ISEI Surabaya)









