JAKARTA-KEMPALAN: Rasisme di Indonesia membuat marah Eropa. Kali ini bukan soal Abroncius Nababan yang menyandingkan foto Natalius Pigai dengan gorila atau Abu Janda yang mengata-ngatai dan mengaitkan Pigai dengan proses evolusi. Kali ini yang benar-benar membuat Eropa marah adalah komentar rasis suporter sepakbola Indonesia.
Klub-klub sepakbola profesional Eropa mempunyai basis suporter yang sangat kuat di Indonesia. Klub-klub Liga Inggris seperti Manchester United dan Liverpool mempunyai jutaan suporter di Indonesia. Setiap kali dua klub ini bertanding suporter di Indonesia pasti menyaksikannya melalui televisi maupun streaming.
Klub-klub lain seperti Manchester City, Chelsea, Arsenal, Tottenham Hotspur juga punya fans base besar di Indonesia. Juga Barcelona dan Real Madrid maupun klub-klub Italia seperti AC Milan dan Inter Milan atau klub Bundesliga Jerman seperti Bayern Munchen dan Borussia Dortmund.
Para suporter Indonesia membentuk berbagai organisasi dengan berbagai nama. Satu klub Eropa bisa mempunyai banyak organisasi suporter di Indonesia misalnya Manchester United Indonesia (MUI), United Indonesia (UI), United Army Indonesia, dan banyak lagi. Demikian juga dengan Liverpool dan klub lain Eropa.
Mereka mempunyai organisasi resmi yang profesional. Punya pengurus pusat, ada pengurus cabang di daerah yang disebut chapter, ada kegiatan rutin seperti nonton bareng, main sepakbola atau futsal, membuat turnamen, kegiatan bakti sosial, dan banyak yang mengadakan tur bareng untuk nonton pertandingan langsung.
Satu organisasi suporter bisa punya anggota aktif sampai puluhan ribu orang. Acara nobar, nonton bareng sesama fans menjadi ritual rutin anggota komunitas yang sudah berlangsung berpuluh tahun. Suasananya sudah mirip dengan nonton langsung di stadion lengkap dengan berbagai atribut seperti jersey dan banner, ada yel-yel dan chanting, dan tidak lupa juga genderang dan terompet.
Dalam banyak pertandingan besar, big match, dua suporter bertemu, jumlahnya bisa sampai ribuan. Suasananya benar-benar seperti di stadion, saling adu atribut, saling adu chanting, dan saling ledek. Sering juga terjadi keributan antar-suporter sebagaimana terjadi pada suporter sepakbola Indonesia.
Dua klub Inggris pesaing bebuyutan Manchester United dan Liverpool mempunyai basis suporter paling kuat di Indonesia. Mereka pun sama-sama fanatik terhadap klubnya dan tidak menyukai klub pesaingnya. Di media sosial perang antar-suporter klub terjadi setiap saat dan menjadi lebih heboh ketika kedua klub bertanding.
Ketika klubnya menang suka cita dan komen sanjungan bermunculan. Tapi ketika klub kalah caci maki dan umpatan betebaran. Selama tidak menyinggung hal yang sensitif caci maki itu masih bisa ditoleransi. Tapi, kalau sudah menyangkut rasisme masalahnya akan serius. Seperti akhir pekan lalu ketika Manchester United mengalahkan Liverpool, ribuan suporter kedua klub saling serang dan perang komen di medsos.
Kamis dinihari (28/1) MU lagi apes. Main di kandang sendiri melawan klub jurukunci klasmen Shefield United, MU kalah 2-1. Fans MU marah dan melontarkan sumpah serapah terhadap pemain-pemain yang dianggap main buruk. Dua pemain yang jadi sasaran adalah pemain belakang Axel Tuanzebe dan striker Anthony Martial. Kebetulan keduanya berkulit hitam.
Serangan komen rasis itu diunggah suporter dari Indonesia. Reaksi di Inggris langsung pecah. Banyak yang marah besar terhadap komen suporter Indonesia itu. Mantan bintang legendaris MU Rio Ferndinand marah terhadap komen rasis ini. Pelatih Inggris Ole Gunnar Solksjaer yang biasanya kalem ikut marah. Bahkan Chief Executive Liga Inggris Richard Masters juga marah besar dan akan menuntut suporter Indonesia yang rasis itu.
Ini memang bukan tindakan main-main. Rasisme dalam sepakbola diperangi habis-habisan. Kampanye ”Say No to Racism” menjadi program yang digaungkan setiap pertandingan. Banner anti rasisme dipajang di stadion dan di jersey pemain.
Marah dan kecewa serta caci maki kepada pemain dan pelatih adalah hal biasa. Tapi rasisme jangan sampai disentuh. “Kick it Out” menjadi tema yang dicanangkan sekak 1993 dengan target “Kick Racisme Out of Football”, tendang jauh rasisme dari sepakbola.
Pelatih MU Ole Gunnar Solksjaer, seperti pelatih-pelatih lain, sudah kenyang dan kebal terhadap cercaan fans. Ole yang sekarang berhasil membawa MU ke puncak persaingan dilecehkan dengan menyebutnya lebih pantas jadi guru olahraga daripada jadi pelatih klub besar seperti MU. Fans di Indonesia memelesetkan nama Ole menjadi “Mang Oleh” penjual kue odading di Bandung yang pernah viral di medsos.
Ole memang tenang dan santu seperti guru dan tidak pernah komen keras seperti banyak pelatih lain. Disamakan dengan Mang Oleh penjual odading pun Ole bergeming. Tapi, terhadap komentar rasis ini Ole marah besar.
Pelaku rasisme akan diusut dan dihukum berat, dilarang masuk stadion seumur hidup. Pelaku rasis dari Indonesia itu pasti akan dikenai hukuman. Otoritas sepakbola Inggris dan Eropa tidak pernah main-main dengan hal ini. Sebulan yang lalu pemain MU asal Uruguay, Edinson Cavani, dihukum larangan bermain tiga pertandingan “hanya” karena komen “Gracias Negrito”, terima kasih item, di akun medsosnya. Padahal Cavani hanya merespon ucapan selamat dari fans atas gol kemenangan yang dicetaknya. Tapi otoritas sepakbola Inggris menganggapnya sebagai komen rasis dan menghukumnya.
Indonesia harus belajar dari sepakbola Eropa untuk ikut menyuarakan kampanye Kick it Out. Rasisme harus ditendang jauh dari sepakbola, dari politik, ekonomi, sosial dan budaya bangsa Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Tidak boleh main-main dengan isu rasial. Bahkan Mang Ole, Pak Guru Olahraga dari Manchester pun bisa murka karena rasisme. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi