Sabtu, 16 Mei 2026, pukul : 08:15 WIB
Surabaya
--°C

Rasisme Indonesia dan Mafia Sisilia

Rasisme diperangi di mana-mana tapi rasisme masih ada di mana-mana. Di dunia politik masih marak rasisme, di dunia ekonomi ketimpangan akibat rasisme masih sangat besar, di dunia internasional perang melawan rasisme dilakukan di mana-mana, tapi rasisme masih tetap muncul di mana saja.

Di Indonesia foto Natalius Pigai disandingkan dengan gorila. Ia juga dihina dengan mempertanyakannya proses evolusinya. Problem ini sangat serius karena kasus SARA, suku, agama, ras, antar-golongan akan menjadi ancaman bagi pondasi bernegara di Indonesia.

Kita masih akan melihat seberapa serius kepolisian dan aparat hukum menangani kasus ini. Dari situ akan terlihat bagaimana pemahaman kita terhadap bahaya rasisme dan seberapa besar komitmen untuk mengatasinya.

Para politisi tampak tidak tertarik mengomentari kasus ini, para pemimpin negara juga tidak banyak yang betul-betul konsen menghadapi kasus ini. Kalau toh ada yang komen sekadar layanan bibir atau lips service saja karena merespons desakan warganet di medsos.

Dibanding dengan respons terhadap radikalisme, respons negara terhadap rasisme bisa disebut minim. Program-program anti-radikalisme disusun dengan strategi yang rapi dengan anggaran yang mencukupi. Semua kekuatan dan lini digerakkan, mulai dari kementerian, kepolisian, dan TNI.

Negara bertindak tegas terhadap organisasi yang dianggap radikal dan langsung memberangusnya. Negara sigap menghadang organisasi yang dianggap mengancam eksistensi NKRI dan Pancasila dan dengan sangat cekatan membubarkannya.
Bahkan ketika so called radikalisme itu masih berupa ucapan pun sudah dimata-matai dan langsung ditangkap. Razia besar-besaran dilakukan secara strategis dan masif. Patroli akan dilakukan bukan hanya secara fisik tapi juga secara virtual. Kekuatan polisi dan TNI dianggap belum cukup, maka sejenis kekuatan milisia pun digerakkan dalam bentuk pam swakarsa untuk memata-matai rakyat.

Itu belum cukup. Meskipun sudah ada milisia yang kemungkinan bisa dipersenjatai, masih ada lagi program untuk memata-matai rakyat yang dilakukan oleh rakyat sendiri. Aparat ASN diberi pelatihan dan pemahaman mengenai so called radikalisme dan melaporkannya sesegera mungkin kepada aparat.
Sangat mungkin terjadi anak memata-matai orang tua, dan sebaliknya, orang tua memata-matai anak-anaknya sendiri. Sesama saudara saling memata-matai. Sesama teman saling mengintip dan mewaspadai. Yang ada adalah saling curiga karena trust, sikap saling percaya sudah terkikis.

Kepercayaan masyarakat, trust, adalah modal sosial yang sangat penting untuk membangun kesejahteraan bangsa. Masyarakat yang mempunyai tingkat saling keterpercayaan yang tinggi akan mempunyai modal sosial yang tinggi untuk bisa maju. Sebaliknya, masyarakat yang rendah tingkat kepercayaannya akan mempunyai modal sosial yang rendah.

Francis Fukuyama (Trust; The Social Virtues and the Creation of Prosperity, 1995) membagi tipe masyarakat menjadi dua, low trust society (masyarakat kepercayaan rendah) dan high trust society (masyarakat kepercayaan tinggi). Tingkat kepercayaan itu akan memengaruhi kualitas demokrasi dan kemajuan ekonomi suatu negara.

Low trust society cenderung tidak demokratis karena rentang kepercayaan kepada orang lain yang terbatas. Low trust society tidak percaya kepada orang lain dan lebih percaya kepada keluarga sendiri. Karena itu merit system tidak bisa berkembang pada masysrakat low trust dan nepotisme akan marak karena lebih percaya kepada keluarga daripada orang lain.

Seorang anggota mafia di Sisilia Utara sedang memberi latihan kepada anak laki-lakinya yang masih kecil. Sang bapak memerintahkan anaknya untuk meloncat dari ketinggian tiga meter dan sang bapak akan menangkapnya di bawah. Sang anak pun meloncat dari ketinggian karena percaya sang bapak akan menangkap untuk menyelamatkannya.

Hap! Sang anak meloncat tapi sang ayah menghindar dan membiarkan anaknya jatuh berdebum menghantam tanah. Sang anak menangis kesakitan. Sang ayah berkata, “Pelajaran pertama bagi seorang mafia, jangan percaya kepada siap pun, termasuk ayahmu”.

Itu kisah yang diceritakan Fukuyama untuk menggambarkan low trust society yang bisa memunculkan kecurigaan terhadap orang tua sendiri. Kisah low trust yang lebih dahsyat terjadi di China pada masa Revolusi Kebudayaan Mao Zedong, 1966-1976, jutaan orang meninggal akibat saling curiga dan saling bunuh.

Selama sepuluh tahun Deng mengembangkan ideologi low trust untuk memaksakan ideologi komunisme bagi warganya. Deng mengatakan bahwa kekuatan borjuis sudah menginfiltrasi rakyat dan setiap orang bisa menjadi agen kapitalis yang akan menghancurkan masyarakat China. Deng menyerukan Revolusi Kebudayaan untuk memperkuat ideologi komunisme melawan kapitalisme.

Ia menyerukan rakyat supaya waspada dan mengawasi semua orang termasuk keluarganya sendiri. Maka sesama anggota keluarga saling mencurigai dan memata-matai. Yang terjadi kemudian adalah bencana. Bapak ditembak mati karena laporan anaknya sendiri. Guru disiksa dan dibunuh oleh muridnya sendiri. Jutaan orang menjadi korban.

Suami dan istri tidak berani bicara karena takut dimata-matai anaknya sendiri. Kalau toh harus bicara dilakukan dengan berbisik-bisik atau di tengah malam kalau yakin anaknya sudah tidur.

Alangkah ngerinya jika hal itu terjadi di era digital seperti sekarang. Pengawasan, surveillance, bisa dilakukan 24 jam. Bukan hanya perbuatan dan perkataan yang dimata-matai, postingan di media sosial pun diawasi setiap saat. Big Brother yang dibayangkan George Orwell dalam novel “Nineteen Eighty Four” pada 1949 sekarang menampakkan wujudnya yang perfasif.

Pam Swakarsa dan Patroli Siber adalah perwujudan Big Brother itu. Setiap gerak-gerik tak bakal bisa lolos dari mata Saudara Besar, bahkan ketika masih berupa niat dalam hati pun Saudara Besar bisa mengendus dan memberangusnya.

Kalau “so called radikalisme” dihadapi dengan sebegitu total dan serius maka rasisme juga harus dihadapi dengan total dan serius karena sama-sama mengancam eksistensi Pancasila dan NKRI.

Rasisme akan membawa kecurigaan antara satu suku dengan lainnya. Indonesia eksis karena keberagaman yang bersatu dalam kebhinekaan. Itulah yang menjadi “core of the core” Pancasila dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Masyarakat yang saling percaya akan menguatkan keberagaman dalam kebhinekaan. Sebaliknya masyarakat yang saling curiga bisa membawa kita pada malapetaka seperti yang terjadi pada Revolusi Kebudayaan. Masyarakat saling curiga membuat kita jadi mirip mafia Sisilia. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.