Dr. Dhimam Abror Djuraid
Foto Natalius Pigai dipajang di akun medsos oleh Ambroncius Nababan. Di sampingnya ada gambar gorila. Narasinya menyebut bahwa vaksin Covid 19 tidak diciptakan untuk gorila dan kadal gurun.
Oktober yang lalu, Sulaiman Marpaung mengunggah kolase di akun medsosnya menyandingkan foto Wapres Ma’ruf Amin dengan “Kakek Sugiono” figur porno dari Jepang.
Unggahan Nababan dan unggahan Marpaung sama-sama dilaporkan ke polisi karena unggahan itu membuat marah banyak orang. Marpaung ditangkap dan langsung ditahan, Nababan sudah dipanggil ke kepolisian dan ditetapkan sebagai tersangka.
Dua kasus itu sama-sama serius. Mengasosiasikan seorang ulama cum umara sekaliber Wapres Ma’ruf Amin dengan seorang kakek porno adalah penghinaan. Di sisi lain menyandingkan seorang tokoh nasional dari Papua Natalius Pigai dengan seekor gorila juga penghinaan serius.
Penanganan dua kasus itu harus sama-sama serius. Kalau harus diperbandingkan dan diprioritaskan maka kasus Pigai lebih urgen karena menyangkut nilai-nilai bernegara yang paling azasi yang menjadi dasar eksistensi Pancasila dan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).
Banyak yang suka beteriak mengklaim paling Pancasila dan paling mencintai NKRI dan menyebutnya sebagai harga mati. Tapi ternyata, ibarat tong kosong nyaring bunyinya, klaim itu kosong, tidak berarti, karena hanya sekadar slogan tanpa mengerti maksudnya, apalagi memahami filosofinya.
Sendi utama NKRI adalah Pancasila. Dan “core of the core” Pancasila adalah “Bhineka Tunggal Ika,” keberagaman yang terikat dalam kebersamaan yang satu.
Dari Merauke sampai ke Banda Aceh berjajar belasan ribu pulau dengan ratusan suku, adat, dan budaya. Tidak ada yang bisa menyatukan keberagaman itu kecuali kesamaan cita-cita untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan bersama.
Komunitas yang bersatu itu berada dalam angan-angan semua anggotanya yang oleh Ben Anderson disebut sebagai “Imagined Commumity”.
Atas konsensus bersama para bapak bangsa dibentuklah negara Republik Indonesia yang berdaulat pada 17 Agustus 1945. Tidak ada satu suku, ras, atau agama yang boleh mendominasi lainnya. Bung Karno suka menyebut semboyan The Three Musketeers “All for One and One for All, semua untuk satu dan satu untuk semua.
Rasisme akan menjadi penyakit yang menggerogoti dan menghancurkan filosofi NKRI. Sejarah dunia di masa lalu menunjukkan bahwa rasisme membawa malapetaka yang bisa menghancurkan dunia melalui perang terbuka.
Rezim Nazi Jerman di bawah Hitler adalah contoh yang paling nyata. Hitler percaya bahwa ras bangsa Aria adalah ras terbaik dan paling unggul di dunia. Karena itu bangsa Aria harus menjadi penguasa tunggal di Jerman dan ras lain yang inferior harus disingkirkan dan bahkan dihancurkan.
Hitler merumuskan filosofi ini dalam “Mein Kampf” yang kemudian diimplementasikannya menjadi kebijakan ketika menjadi kanselir Jerman pada 1933. Yang pertama dilakukan adalah menghancurkan bangsa Yahudi yang dianggap ras inferior, hina dina, yang harus ditumpas.
Rasisme Hitler membawa bencana yang mengerikan. Ia memperkenalkan kebijakan “Final Solution”, keputusan terakhir, yaitu memusnahkan ras Yahudi supaya tidak ada lagi yang tersisa di bumi. Sangat sulit memastikan jumlah korban Holocaust oleh Hitler. Ada yang menyebut sampai enam juta, tapi, tentu saja, ada juga yang tidak yakin bahwa Holocaust benar-benar telah terjadi. Yang jelas, faktanya, jutaan orang telah menjadi korban selama Hitler berkuasa dan selama Perang Dunia Kedua 1943-1945.
Pemusnahan terhadap ras Yahudi oleh Hitler dilakukan dengan berbagai kekejaman yang sulit diterima akal sehat. Pembunuhan masal dengan memasukkan puluhan ribu orang ke kamar gas adalah cara pembunuhan yang paling banyak dilakukan. Puluhan ribu orang mati kelaparan dan kedinginan di kamp-kamp penahanan. Puluhan ribu orang mati karena euthanasia, disuntik mati dengan zat kimia beracun.
Di zaman modern rasisme yang membawa dampak kehancuran yang mengerikan terjadi di negara-negara Balkan bekas Yugoslavia pada awal 1990-an. Aksi Ethnic Cleansing, pemusnahan etnis, dilakukan oleh ekstremis rasis dari Serbia dan Kroasia terhadap ras muslim Bosnia. Slobodan Milosovic dan Radovan Karadzic adalah hitler-hitler yang muncul di zaman modern dengan berbekal politik rasis yang kejam.
Sedikitnya 50 ribu orang muslim Bosnia menjadi korban kejahatan rasisme. Warga sipil yang tak berdaya menjadi korban pembunuhan, penyiksaan, pemerkosaan, dan kelaparan masal.
Ras Kroasia dan Serbia merasa lebih superior dibanding ras muslim Bosnia yang dianggap sebagai ras inferior yang layak dihancurkan. Negara Serbia Raya sebagai ganti Yugoslavia akan didirikan dan ras muslim Bosnia harus disingkirkan.
Korban rasialisme yang paling menyedihkan dialami oleh bangsa Palestina yang sampai sekarang masih dijajah oleh Yahudi Israel di negerinya sendiri. Inilah ironi dan tragedi rasisme yang paling dahsyat di dunia. Bangsa Yahudi merasa menjadi korban politik rasisme Nazi Jerman yang mengerikan. Namun, ternyata, sekarang bangsa Yahudi melakukan hal yang sama terhadap bangsa Palestina.
Rasialisme masih menjadi problem besar di seluruh dunia. Bahkan di Amerika pun rasialisme menjadi api dalam sekam yang setiap saat bisa meledak menjadi kerusuhan masal bersarah. Kerusuhan sosial di Amerika sepanjang 2020 sejak kematian George Floyd sampai penyerbuan Capitol Hill oleh massa adalah buah dari rasisme yang masih mencengkeram kuat budaya bangsa Amerika.
Di Indonesia hal yang sama bisa terjadi. Keruntuhan yang dialami oleh Yugoslavia bisa saja terjadi di Indonesia. Kerusuhan sosial luas seperti di Amerika juga sangat mungkin terjadi kalau kita membiarkan rasisme meluas.
Penghinaan rasial Nababan terhadap Natalius Pigai adalah puncak gunung es yang bisa menggoyahkan pondasi integrasi Papua yang rapuh. Rasisme ala Nababan harus diselesaikan dengan tindakan hukum yang tegas.
Tidak ada yang lucu dari unggahan foto Ma’ruf Amin dengan kakek Sugiono. Juga tidak ada yang lucu pada unggahan yang menyandingkan wajah Pigai dengan gorila. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi