Perburuan juara Liga Primer Inggris EPL (English Premier League) makin ramai. Memasuki pekan ke-19, perebutan posisi puncak klasmen makin ketat, saling salip dan saling sikut.
Juara bertahan Liverpool terpeleset setelah kalah di kandang dari tim kelas bawah Burnley 0-1 Jumat dinihari (22/1). The Reds harus ikhlas terpelanting ke posisi keempat dengan 34 poin dari 19 kali bertanding. Posisi Liverpool bisa melorot terdepak dari empat besar ke posisi keenam tergusur oleh Tottenham yang punya 33 poin dari 18 kali main, dan Everton yang mengumpulkan 32 poin dari 17 kali main.
Kekalahan Liverpool ini mengakhiri rekor 68 kali pertandingan tanpa kekalahan di Stadion Anfield. Sakitnya lagi kekalahan ini dialami dari tim papan bawah urutan ke-16. Ini juga merupakan kekalahan pertama Liverpool di kandang dari Burnley dalam 47 tahun terakhir.
Ini merupakan gambaran yang sangat kontras dengan kondisi Liverpool musim 2020 yang lalu. Pada pekan ke-19 seperti ini musim lalu pasukan Jurgen Klopp memimpin klasmen dengan selisih 13 poin dari Manchester City. Saat ini Liverpool keteteran dan tertinggal enam angka dari pemimpin klasmen Manchester United yang mengumpulkan 40 angka dari 19 kali pertandingan.
Kompetisi masih setengah jalan dan masih terlalu dini memprediksi juara, apalagi mencoret Liverpool dari daftar kandidat juara. Manchester United di puncak klasmen dengan 40 poin dibayangi ketat oleh sang tetangga City yang mengumpulkan 38 poin dan punya sisa satu pertandingan. Leicester juga punya 38 poin dari 19 kali main. Siapapun punya kans untuk nangkring di puncak, siapapun masih punya kesempatan untuk saling salip sebelum finish Mei.
Meski empat kali pertandingan terakhir tidak berhasil mencetak gol tapi Liverpool tetap menyimpan kekuatan yang menakutkan pada trisula penyerang Firmansah (Firmino, Mane, Salah). Dalam pertandingan melawan Burnely Liverpool menguasai bola 70 persen.
Trio Firmansah memang lagi puasa gol. Salah yang tahun lalu garang sekarang gersang. Mane yang tahun lalu tajam sekarang mejan. Firmino yang tahun lalu kejam sekarang kejang. Diego Jota yang tahun lalu direkurt sebagai ban serep depan ternyata kempes karena cedera.
Tim pertahanan Liverpool terlebih dahulu keropos dengan cedera panjang Virgil Van Dyk, Joe Gomes, dan Joel Matip. Krisis palang pintu belakang ini memaksa Klopp menarik Fabinho yang biasanya main gelandang bertahan menjadi poros halang. Begitu pula kapten Jordan Henderson yang biasanya menggelandang di lapangan tengah harus ditarik mundur menjadi tandem Fabinho di pertahanan.
Meskipun tidak terlalu jelek tapi gaya permainan staying power, “gegen pressen”, dan garis pressure tinggi menjadi kurang maksimal. Apalagi Diego Alcantara yang menjadi playmaker dianggap kurang nyetel dengan gaya main Liverpool. Akibatnya aliran bola untuk trio Firmansah terhambat dan paceklik gol terjadi.
Ambisi untuk bisa menjadi juara back to back menjadi meragukan karena sejak awal musim Liverpool ogah-ogahan di pasar mercato transfer pemain. Tidak pemain starter yang direkurt. Diego Jota yang dibeli sebenarnya lebih diplot sebagai ban serep. Tapi ternyata kemudian Jota lebih moncer sebelum kena cedera.
Sikap pasif di pasar dan komplasen, berpuas diri, selalu menjadi penyakit kutukan juara bertahan. Para owner klub biasanya mulai berhitung untuk mengembalikan modal investasi setelah mengeluarkan banyak uang selama bertahun-tahun. Apalagi Liverpool sudah bertapa gelar selama 20 tahun sebelum panen juara EPL dan Champions. Wajar kalau tahun ini owner John W. Henry ingin menikmati kemenangan dan menikmati cuan.
Tidak adanya pesaing yang berarti di lini serang membuat Trio Firmansah mekar kepalanya karena sanjungan yang berlebihan. Sering dikatakan bahwa hanya Messi dan Ronaldo yang bisa menggeser trio itu, pemain lainnya hanya akan jadi cadangan.
Mungkin itu yang membuat manajemen Anfield setengah hati memburu striker Timo Werner yang akhirnya dibajak Chelsea. Memang sekarang terbukti Werner lambat beradaptasi karena faktor bahasa dan gaya fisikal liga Inggris. Tapi, kalau Werner bisa melakukan adaptasi dan mengatasi persoalannya Liverpool bisa jadi akan menyesal.
Problem yang juga kurang sigap diantisipasi adalah problem klasik bagi semua klub Eropa. Ketika sudah memenangkan tropi Eropa umumnya mereka ingin naik kelas. Dan kelas yang lebih tinggi itu tidak ada lain kecuali Barcelona atau Real Madrid. Ketika dua klub ini mengetuk pintu tidak ada satu orang pun yang bisa menolaknya.
Salah dan Mane juga mengalami hal yang sama. Setelah memenangkan liga Inggris dan Eropa mereka ingin cari tantangan baru dari Real ataupun Barca. Itulah yang merusak konsentrasi Salah yang membuatnya mandul. Itu pula yang mengusik pikiran Mane yang membuat kemitraannya dengan Salah yang semula dingin berubah panas.
Belum lagi masalah Gini Wijnaldum yang juga sangat tergoda untuk hengkang ke Barcelona berreuni dengan Meneer Ronald Koeman. Akumulasi kurang konsentrasi dan rentetan cedera, plus nasib buruk, bisa jadi harus dibayar sangat mahal oleh Liverpool. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi