Jumat, 5 Juni 2026, pukul : 23:07 WIB
Surabaya
--°C

Gunung dan Pulau pun Pakai Nama Inggris

Dhimam Abror Djuraid

Bung Karno bicara bahasa Inggris dan Prancis, Pak Harto bicara bahasa Belanda, Habibie bicara bahasa Jerman, Gus Dur bicara bahasa Arab, Megawati tidak bicara…

Itu joke politik lawas banget soal kemampuan berbahasa asing para presiden kita. Bung Karno dikenal sebagai jagoan bahasa asing. Ia termasuk poliglot, orang yang menguasai banyak bahasa.

Pak Harto tidak pernah memakai bahasa asing. Selama 32 tahun menjadi presiden dia “menggunaken daripada bahasa Indonesia”. Di luar negeri maupun di dalam negeri Pak Harto memakai bahasa Indonesia. Tapi, jangan mengira Pak Harto tidak bisa bahasa asing. Pengalamannya sebagai prajurit Koninkijk Nederland Indische Leger (KNIL), tentara Belanda di Indonesia membuat Pak Harto paham holland spreken.

B.J Habibie jangan ditanya lagi. Dengan mata melotot ia berbicara fasih dalam bahasa Inggris maupun Jerman. Maklum ia menghabiskan sebagian besar waktu muda di Jerman ketika kuliah jurusan konstruksi pesawat terbang di Rheinisch Westfählische Technische Hochschule (RWTH), Achen, Jerman.

Presiden Gus Dur Abdurrahman Wahid bicara bahasa Inggris dan bahasa Arab. Gus Dur menghabiskan masa kuliah di Mesir dan Iraq meskipun tidak pernah lulus dan lebih banyak membolos menonton bioskop daripada kuliah.

Megawati. Nah, ini yang repot. Kita tidak tahu Mbak Mega menguasai bahasa apa karena memang tidak pernah bicara. Komunikasi poltik Megawati sering disampaikan dalam bahasa kebatinan dengan diam sejuta bahasa. Itu memang gaya komunikasi politik Megawati.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memang presiden priyayi yang intelek. Ia lulusan pendidikan militer Ranger School di Amerika Serikat pada 1967. Karena itu SBY suka cas cis cus pakai bahasa Inggris.

“Plis kam tu mai kontri to inpes”. Itu bukan bahasa Inggris Tok Pisin yang dipakai di Papua Nugini, tapi bahasa Inggris ala Jokowi yang sering ditirukan Budayawan Emha Ainun Nadjib sambil bercanda. Joko Widodo adalah presiden rakyat, presiden wong cilik, karena itu ia tidak merasa perlu memakai bahasa Inggris. Ketika ia dengan pede mencoba pakai bahasa Inggris dalam pidato ia malah diledeki banyak orang karena bahasa Inggrisnya berlogat Jawa. Budayawan Emha Ainun Nadjib suka menirukan pidato bahasa Inggris Jokowi, “Plis kam tu mai kontri to inpee..Bahasa Inggris opo iki…” kata Cak Nun tergelak-gelak.

Mungkin karena kesal diledek atau ingin memperkuat identitas nasionalisme Indonesia pada 2019 Jokowi mengeluarkan peraturan presiden yang mewajibkan presiden, wakil presiden, dan semua pejabat negara memakai bahasa Indonesia di forum internasional. Dalam pidato virtual pada pertemuan PBB beberapa waktu yang lalu Presiden Jokowi memakai bahasa Indonesia meskipun beberapa kali ia masih memakai frasa bahasa Inggris.

Belakangan masyarakat dan warganet ribut karena Jokowi mengeluarkan aturan baru bahwa nama-nama pulau, gunung, dan tempat-tempat tertentu boleh memakai bahasa Inggris atau bahasa asing. Kebijakan ini dianggap kontroversial. Di luar negeri diwajibkan bicara bahasa Indonesia, di dalam negeri sendiri pulau dan gunung malah diberi nama asing.

Tidak seperti kata  Shaksespeare dalam Rome and Juliet “what is in the name” , nama adalah identitas. Dalam ajaran Islam nama mengandung doa dan berkah. Dalam tradisi Jawa “nomo kinaryo jopo” nama laksana doa. Karena itu orang Jawa memakai nama Bejo, Seger, Waras, atau Untung, karena berharap bisa bernasib baik, sehat walafiat, dan kaya.

Indonesia dijajah ratusan tahun oleh Belanda. Warisan budaya Belanda begitu mengurat-mengakar di Indonesia. Karena itu hal pertama yang dilakukan para founding fathers kita adalah menghapuskan pemakaian bahasa Belanda untuk menghapuskan kenangan kolektif bangsa dari pengaruh Belanda.

Dari sisi nasionalisme memang baik, tapi akhirnya akses kita kepada bahasa-bahasa Eropa yang serumpun dengan bahasa Belanda terputus dan bangsa Indonesia menjadi paling rendah kemampuan bahasa asingnya dibanding tetangga Malaysia. Papua Nugini punya bahasa Inggris Tok Pisin tanpa gramar seperti “yu mi go” untuk mengucapkan “let’s go”. Singapura punya kekhasan Singlish, Singaporean English, bahasa Inggris gado-gado campur Melayu dan Mandarin yang lucu tapi dikenal di seluruh dunia.

Setelah Orde Baru lahir pada 1970-an maka untuk memutus rantai hubungan dengan komunis China ada kebijakan untuk mengganti nama-nama China menjadi nama Indonesia terutama Jawa.  Maka kemudian Liem Sioe Liong menjadi Sudono Salim. Para konglomerat China di era Orde Baru lebih dikenal dengan nama Indonesia daripada nama China, Willem Soerjaatmadja, Samsul Nursalim, Praoyogo Pangestu, Bob Hasan, dan lain-lain.

Di zaman global seperti sekarang kebijakan yang berbau chauvinistis seperti itu sudah tidak laku lagi, karena pergaulan dan komunikasi internasional sudah sedemikian bebas dan terbuka. Membatasi diri hanya memakai bahasa Indonesia di forum internasional sama saja dengan membatasi akses kita di dunia internasional. Seperti kata Bung Hatta, bahasa adalah jendela dunia. Kalau kita cuma berbahasa Indonesia dunia kita hanya terbatas di Indonesia saja.

Keputusan Presiden Jokowi memperbolehkan pulau dan gunung memakai nama Inggris bertujuan memudahkan komunikasi dengan wisatawan asing yang coba kita tarik ke Indonesia sebanyak mungkin.

Jadinya lucu dan ironis. Gunung dan pulau pakai nama Inggris, tapi presiden tidak boleh bicara bahasa Inggris. Lha, piye toh iki…(*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.