Widya Astuti, Warga Palu yang Siapkan Rumah bagi Penyintas Bencana Sulbar
Tersentuh Membantu, karena Teringat Pernah Mengungsi saat Gempa 28 September 2018 di Palu
Memasuki awal tahun 2021, Indonesia dilanda sejumlah bencana. Salah satunya bencana alam gempabumi 6,2 SR di Kota Mamuju dan Kabupaten Majene Sulawesi Barat. Uluran bantuan kini mulai tersalurkan sedikit demi sedikit, termasuk, Widya Astuti, warga Kelurahan Mamboro ini terketuk hatinya untuk menampung para penyintas yang akan mengungsi ke Kota Palu.
TASWIN, Mamboro
MINGGU pagi, Widya Astuti mulai menerima sejumlah telepon, dari masyarakat yang membaca postingannya di Facebook. Dalam postingan itu, Widya mengajak para penyintas dari Sulbar untuk datang mengungsi dan tinggal bersama di rumahnya yang ada di BTN Asabri Jalan Karana Kelurahan Mamboro.
Bencana yang dialami masyarakat Sulbar juga pernah dialami masyarakat di Kota Palu. Mengungsi pun pernah dialami, Widya Astuti beserta keluaraganya sewaktu bencana 2018 silam. Dari situ, niat tulus untuk membantu sesama muncul.
“Awalnya ini, dari suami saya, dia bilang bagaimana kalau kita kasih tinggal disini pengungsi dari Mamuju untuk sementara waktu. Jadi saya bilang boleh, kebetulan di rumah sini banyak juga anak tinggal dari luar daerah,” tuturnya.
Dengan luas 10 kali 20 meter persegi, rumah Widya terbilang cukup untuk menampung 50 orang penyintas. Tidak hanya itu, sejumlah fasilitas juga disiapkan Widya, seperti kamar, makanan dan air bersih. Berkaca dari kejadian bencana di Kota Palu, tentu Widya pernah merasakan, apa yang kini dirasakan warga Sulawesi Barat.
Lokasi rumahnya juga terbilang strategis, dan telah dinyatakan aman oleh pemerintah dari zona merah, karena letaknya yang jauh dari laut, akses rumah sakit juga tidak jauh dari rumahnya.
“Di sini ada dua kamar yang tidak terpakai dan ada juga ruangan-ruangan yang bisa digunakan untuk tidur. Tidak perlu ada identitas khusus. Apalagi yang ada anak bayi atau yang baru melahirkan bisa, dibawa kesini saja, untuk masalah makan nanti kita tanggung disini,” tuturnya, Minggu (17/1).
Beberapa orang juga sudah menelpon dan menanyakan detail lokasi rumahnya. Dia dan suaminya, Ardiansyah membuka lebar pintu rumahnya kapan saja bagi para penyintas dari Sulbar, tidak hanya itu, bagi relawan yang hendak ingin berangkat menuju ke Sulbar juga dipersilakan untuk singgah beristrahat.
Niat tulusnya ini tentu, sangat membantu bagi para korban bencana. Selain logistik, kata dia tempat untuk istrahat dengan nyaman tentu sangat dibutuhkan para korban. Untuk itu dia meminta kepada Pemerintah Kota Palu, untuk tidak mempersulit masyarakat Sulbar untuk masuk ke Kota Palu.
“Ada ibu menelpon tadi, khawatir dia dimintai surat rapid test dan lainnya, jadi dia pilih ke Makassar, soalnya mereka pikir kalau di Palu dipersulit, sementara yang ada juga mungkin surat-surat identitasnya yang sudah hilang kena reruntuhan,” bebernya.
Meski hingga saat ini belum ada penyintas Sulbar yang datang, dia tetap berharap agar masyarakat Sulbar bisa memanfaatkan kediamannya untuk ditempati sementara waktu.
“Kita sudah rasa dulu bagaimana sulitnya waktu mengungsi di tenda-tenda, apalagi yang ada bayi. Makanya yang mau datang silakan semua fasilitas kami akan tanggung,” tandasnya. (*)









