Tanpa baca ramalan dukun Mbak You semua orang dengan gampang bisa memprediksi bahwa Desember sampai Februari setiap tahun Indonesia akan banyak bencana karena cuaca buruk dan erupsi gunung-gunung berapi yang masih aktif.
Indonesia kolam banjir, bukan kolam susu seperti dinyanyikan Koes Plus. Lagu itu sudah setengah abad, tinggal jadi kenang-kenangan bagi kaum kolonial dan tidak masuk akal, does’nt make sense, bagi kaum milenial.
Bukan lautan hanya kolam susu. Itu kata generasi kolonial. Bagi generasi milenial, bukan lautan tapi kolam lumpur. Ikan dan udang menghampiri dirimu, kata syair lagu itu. Ikan dan udang sudah habis dicuri dari laut kita. Begitu yang ada di otak anak-anak kita sekarang.
Tongkat dan batu jadi tanaman. Itu setengah abad yang lalu ketika Koes Plus–sekarang anggotanya sudah pada almarhum tinggal satu orang–mengeluarkan album ke-8 pada 1973. Kenyataannya sekarang tongkat dipakai untuk menggebuk buruh yang demo, dan batu dipakai menimpuki toko dan polisi.
Indonesia disebut sebagai Negeri Cincin Api, the ring of fire, yang tak kalah epik dari New Zealand yang punya Lord of Fire. Indonesia jauh lebih eksotik dan menarik dibanding New Zealand yang jumlah sapinya lebih banyak dari manusianya.
Penduduk New Zealand cuma 4,4 juta orang, hanya dua persen dari total penduduk Indonesia. Jumlah sapi di New Zealand 20 juta ekor, atau lima kali lipat jumlah penduduk. Sapi-sapi itu yang membuat warga New Zealand makmur karena menghasilkan produk-produk susu, keju, dan yoghurt terbaik dunia.
Tanah New Zealand yang membentang luas penuh rumput batu, gunung-gunung, lembah ngarai nan eksotik menghasilkan serial film Lord of the Ring yang memukau dunia. Tingkat kesejahteraannya diukur dari IPM (Indeks Pembangunan Manusia) nyaris mentok sempurna di angka 9 lebih.
Dibandingkan dengan Indonesia seperti langit dan sumur. Dubes Tanthowi Yahya yang sekarang bertugas di Wellington jangan cuma asyik menyanyi country doang, harus bikin studi dan laporan mengapa Indonesia yang lebih kaya sumber daya alam dan manusia ketinggalan jauh dari New Zealand.
Para ahli sudah banyak yang membuat studi untuk mengungkap mengapa satu negara bisa maju dan lainnya mundur dan tak pernah bisa maju. Dulu pernah muncul pendapat bahwa negara-negara yang mempunyai empat musim lebih maju dibanding negara-negara yang hanya punya dua musim. Negara-negara Eropa dan Amerika Utara yang punya empat musim dianggap punya keunggulan geografis dari negara-negara tropis dua musim seperti Indonesia.
Temuan ini sudah banyak dibantah oleh temuan-temuan baru yang lebih valid dan canggih. Lagi pula, kalau cuma karena alasan jumlah musim maka Indonesia punya musim jauh lebih banyak dari negara mana pun di dunia. Di Eropa cuma ada empat musim, dingin, panas, gugur, dan semi. Indonesia punya belasan musim, hujan, panas, musim duren, musim mangga, musim apel, musim pepaya, musim banjir, musim kawin, musim bencana, musim korupsi..
Kalau begitu lantas apa yang membuat negara maju mundur? Salah urus, kata Daron Acemoglu dan James Robinson dalam “Why Nations Fail: The Origin of Power, Prosperity, and Poverty” (2012).
Gunung meletus tiap tahun memang jadi bencana kalau salah urus, misalnya Mensos lebih suka pencitraan dengan kelayapan di pinggir sungai. Tapi jadi berkah kalau dipersiapkan sistem peringatan dini, early warning system, dan standar prosedur evakuasi yang baku.
Letusan gunung yang menghasilkan lava, lahar panas dan dingin, sebenarnya berkah yang ditunggu-tunggu oleh para petani dan peladang di lereng dan kaki gunung, karena setelah semua reda tanah-tanah akan menjadi subur lagi. Ekosistem alam punya mekanisme tersendiri untuk mengganti humus tanah yang sudah kehilangan kesuburan. Tidak perlu panik apalagi sampai jatuh korban tiap tahun kalau sistem peringatan dini dan protap evakuasi sudah tersedia secara baku.
Acemoglu memberi contoh Korea dan Nigeria sebagai contoh dua negara yang diurus dengan benar dan negara yang salah urus. Kira-kira 30 tahun yang lalu dua negara itu sama kondisinya. Sekarang bedanya seperti surga dan neraka. Semua orang kepingin piknik ke Korea untuk selfie dan makan kimchi. Semua bangga pakai gajet Samsung. Anak-anak milenial di seluruh dunia meniru dan menyanyikan lagu dan gaya rambut bintang-bintang K-Pop. Bahkan generasi kolonial seperti Kiai Ma’ruf Amin menyarankan generasi cucu-cucunya untuk meniru K-Pop.
Sementara Nigeria tetap miskin dan terbelakang dan cenderung menjadi pariah. Nyaris tidak ada yang memilih untuk berkunjung ke Nigeria kalau diberi pilihan ke Korea.
Contoh salah urus tak perlu jauh-jauh melihat ke Korea atau Eropa. Dengan negeri jiran Malaysia pun kita harus iri karena sudah ketinggalan jauh. Dulu, tahun 1970-an Malaysia mengimpor tenaga guru dari Indonesia. Sekarang ini, setengah abad kemudian Malaysia mengimpor buruh TKI dari Indonesia.
Kalau Anda penggemar Cak Lontong Anda akan percaya bahwa itu bukan tanda Indonesia mengalami kemunduran tapi justru orang-orang Malaysia yang seleranya mundur; dulu seleranya guru sekarang seleranya pembantu.
Kunci salah urus negara ada dua, menurut Acemoglu dan Anderson, yaitu kebijakan pemerintah yang inklusif dan yang ekstraktif. Kebijakan yang inklusif akan melahirkan kebijakan yang bermanfaat dan membawa maslahat bagi seluruh rakyat tanpa pandang bulu kaki atau bulu dada. Kebijakan yang inklusif tidak akan memperkaya oligarki ekonomi maupun politik tertentu saja. Kebijakan yang inklusif tidak meninggalkan siapapun dalam kebijakan pembangunan.
Sebaliknya kebijakan ekstraktif akan menjadi sumber salah urus yang hanya melahirkan ketimpangan sosial-ekonomi yang makin lebar. Oligarki merajalela, satu persen manusia super-crazy rich menguasai 90 persen kekayaan negara.
Sumber daya alam yang melimpah ruah tidak menjadi berkah malah jadi kutukan, menjadi bencana “resources curse” akibat paradoks keberlimpahan, “paradox of abundance”. Batubara, minyak, gas bumi yang melimpah ruah belum dirasakan manfaatnya oleh rakyat. Lahan kelapa sawit di Kalimantan yang berlimpah membentang sejauh mata memadang sampai ujung cakrawala, tidak membawa kemakmuran, alih-alih malah membawa banjir besar. Ibukota negara di Jakarta sudah penuh sesak kebanyakan manusia dan tiap tahun kebanjiran. Mau pindah ke Kalimantan, tapi keburu kebanjiran juga. Ya, nasib.. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi