Pengembang Besar Menanti JLLB Surabaya Barat
Hingga awal Januari 2021, pengerjaan simpang susun tol Romokalisari dengan ruas jalan menuju stadion Gelora Bung Tomo (GBT), flyover Teluk Lamong, dan Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB) Surabaya Barat seksi Sememi sudah menunjukkan progress signifikan. Dilihat dari drone di ketinggian, urukan pasir putih sudah menyambung mulai dari tol Surabaya-Gresik Romokalisari menuju flyover Teluk Lamong, stadion GBT, dan mendekati ruas flyover JLLB Sememi yang masih putus.
Nilai simpang susun tol Romokalisari Surabaya Barat yang digarap PT Margabumi Matraraya melalui kontraktor Hutama Karya itu Rp600 miliar. Sementara flyover Teluk Lamong sepanjang 1,3 km milik Pelindo 3 menghabiskan anggaran Rp1 triliun lebih. Yang flyover Teluk Lamong ini sudah 90 persen selesai. Pelindo tinggal menyambungkan sedikit turunan ruas flyover menuju perempatan antara flyover Teluk Lamong, JLLB ruas utara Sememi, simpang susun tol Romokalisari, dan jalan akses ke stadion GBT.
Dalam pekerjaan simpang susun tol Romokalisari Surabaya Barat PT Margabumi Matraraya tidak bekerja sendiri. Sebagian pembangunan jalan dikerjakan oleh PT Mitra Karya Multiguna, unit bisnis Sinarmas Land di Surabaya. Jalan yang dikerjakan Sinarmas Land itu adalah JLLB yang menuju flyover JLLB Sememi.
Maklum saja, di sana Sinarmas Land kini memiliki landbank 429 ha. Lahan itu kembangkan bertahun-tahun mulai dari besaran 200-an ha. Lima tahun lalu, ratusan hektar lahan baru diakuisisi Sinarmas melalui tukar guling kepemilikan saham dengan satu developer lokal di Benowo. Ini adalah lahan terbesar yang dimiliki Sinarmas di luar area Jabodetabek, sekaligus lahan kosong pengembangan properti terbesar kedua secara value—di atas satu triliun rupiah—yang dimiliki Sinarmas di Tanah Air.
Sambungan flyover JLLB Sememi itu harusnya sudah menyambung ke utara dengan APBD Kota Surabaya tahun 2020 senilai Rp100 miliaran. Bahkan, sempat masuk iklan pemerintahan Pemkot Surabaya di hampir semua koran dan media massa berbasis di Surabaya, sebagai salah satu program utama Pemkot di tahun 2020. Namun, pandemi Covid-19 yang meruyak, membuat Pemerintah Kota Surabaya harus melakukan refocusing anggaran. Anggaran flyover JLLB Sememi termasuk yang kena refocusing.
Namun, tahun kemarin itu tetap ada kemajuan. Karena diburu Piala Dunia U-20 yang akhirnya diundur ke tahun 2023, Pemkot Surabaya tetap menyelesaikan jalan akses stadion GBT ke JLLB tahun lalu. Anggarannya Rp25 miliar. Selesai Desember 2020.
Lalu, flyover JLLB Sememi itu harusnya berlanjut hingga ke Citraland Utara alias Bukit Palma atau Northwest hingga ke Citraland Selatan atau Citraland Utama. Bukit Palma dulu adalah pengembangan middle low dari Citraland Surabaya.
Seperti halnya Bintaro Jaya dengan Graha Raya Bintaro Jaya di Tangerang Selatan. Dulu, Graha Raya terkenal dengan pucuknya sektor 9. Tempat jin buang anak. Namun, Graha Raya Bintaro Jaya yang berlokasi asli sertifikat tanah Kecamatan Serpong Utara dan persis bersebelahan dengan Alam Sutera akhirnya naik kelas akibat pengembangan pesat di kawasan Serpong selama 15 tahun terakhir. Kawasan yang 70 persen lahannya dikuasai developer mulai dari BSD City, Summarecon Serpong, Alam Sutera hingga Bintaro Jaya.
Sementara itu, di timurnya flyover JLLB Sememi dan Citraland Utara, warga Surabaya Barat pasti tahu ada Grand Pakuwon yang bangunannya sudah magrong-magrong. Yang dulu cuma lahan tambak. Yang di tahun 2014, masih pagar tertutup dengan tulisan: “Sedang dibangun flyover Tandes.” Dengan jalan akses sudah lebar pula: karena pembangunan saluran diversi Gunung Sari sudah mencapai titik itu hingga ke Babat Jerawat.
Ground breaking perdana JLLB berlangsung tahun 2015 di Made, perbatasan Citraland Selatan dan Citraland Utara, Surabaya. Saat itu, ground breaking dihadiri Wali Kota Surabaya (saat itu) Tri Rismaharini. Namun, pembangunan selanjutnya berlangsung lambat. Dalam dua tahun, pembangunan hanya berlangsung dua tahap, masing-masing sekitar satu kilometer. Dan akhirnya tak sempat terhubung hingga masa jabatan Risma berakhir.
Salah satu masalah utama ada pada lambatnya pembebasan lahan di daerah Kendung yang menghubungkan flyover JLLB Sememi ke Citraland Utara. Banyak warga yang tidak mau lahannya dibebaskan atau menuntut harga yang lebih tinggi. Walaupun bukan tidak ada kemajuan juga. Sedikit demi sedikit lahan di sisi utara Sememi terbebaskan, sehingga flyover JLLB Sememi bisa terbangun sebagian.

Padahal, di ujung selatan JLLB itu selain kampus Universitas Ciputra, Ciputra sudah menyiapkan pusat belanja lifestyle: Mall Citraland Surabaya. Akibatnya bisa ditebak, pembangunan mal pun molor, meskipun selalu dijadikan gimmick penjualan oleh Ciputra. Dari estimasi akhir 2021, mundur ke akhir 2022, dan mundur lagi ke akhir 2023 berdasarkan annual report dan official update Ciputra kepada pemegang saham.
Bisa dimaklumi, situasi pandemi Covid-19 membuat Ciputra harus mengerem belanja modal dan, dus, rencana ekspansinya. Selain, tentu saja, infrastruktur jalan JLLB yang tak kunjung terhubung. Hanya Mal Citra Raya Tangerang yang sudah kadung jadi, “dipaksakan” beroperasi di masa pandemi jelang akhir tahun 2020 lalu. Lalu, ekstension Ciputra World Surabaya dijadwalkan operasional akhir 2021.
Namun, jika JLLB sudah terhubung, Citraland Surabaya sudah berancang-ancang memperluas pembangunan hingga ke Menganti, Gresik Selatan, dalam master plan total 2500 ha. Sebagian kecil lahan di Menganti itu, tepatnya di Randupadangan, sudah diakuisisi oleh Ciputra. Sebagian besar lagi, masih rencana.
Selepas Citraland Utama, JLLB tembus ke Raya Lakarsantri, dekat Pos PMK lama Lakarsantri, Surabaya. Di belakang pos ini, lagi-lagi sudah menunggu lahan Sinarmas Land kurang lebih 50 ha. Salah satu di antara Sinarmas Benowo 429 ha atau Sinarmas Lakarsantri 50 ha ini digadang-gadang menjadi BSD City-nya Kota Pahlawan. Yang juga akan diteruskan rencana jalannya hingga ke tol Sumo. Tentu dalam jangka panjang…bisa puluhan tahun ke depan. (FREDDY MUTIARA—jurnalis kempalan.com & dosen Fakultas Bisnis Ekonomika UBAYA)








