Rabu, 20 Mei 2026, pukul : 00:40 WIB
Surabaya
--°C

Dramatis! Italia Juara, Jepang Idola FIVB Volleyball Women’s U 21 World Championship 2025

SURABAYA-KEMPALAN : Final ideal FIVB Volleyball Women’s U 21 World Championship  yang mempertemukan Italia  versus Jepang berlangsung dramatis. GOR Jawa Pos Arena, pada Minggu 17 Agustus menjadi saksi suksesnya pagelaran FIVB Volleyball Women’s U 21 World Championship Surabaya. Pada laga final tersebut kedua tim tampil memukau dan membuat ribuan penonton di buat decak kagum penampilan atraktif Italia dan Jepang. Laga yang berlangsung dramatis selama hampir dua jam atau tepatnya 1 jam 56 menit itu  berakhir dengan skor 3-2 untuk kemenangan Italia. Tidak hanya itu saja, Italia dan Jepang juga memborong sejumlah penghargaan individu.

Jualannya pertandingan

Pertarungan dua kutub kekuatan voli putri tersebut berlangsung sengit dari awal hingga akhir. Bahkan penentuan siapa yang berhak menyandang gelar juara harus bermain lima set.

Italia mengawali laga cukup meyakinkan dengan memenangi set pertama di angka 25-22. Namun di set kedua menjadi milik Jepang. Omori Sae dkk membalas juga dengan kemenangan di angka 22-25. Skor imbang 1-1 laga kian seru. Jepang yang mendapat dukungan penonton bermain lebih percaya diri. Sebaliknya, Italia yang mendapat tekanan sempat kesulitan menghadang Omori SAE dkk. Dan Jepang pun dengan mulus memenangi set ketiga di angka 15-25. 

Set ke empat tetap berlangsung ketat. Italia yang tak ingin di pecundangi Jepang, bermain lebih tenang dan taktis. Hasilnya tim asuhan Gaetano Gagliardi berhasil memenangi laga 25-19 sekaligus menjadi skor penyama 2-2.

Setelah skor imbang 2-2 laga kian menarik dan mendebarkan. Set ke lima yang menjadi penentu tetap berjalan alot. Beruntung di saat-saat kritis Italia punya spikers handal yakni Adigwe Merit Chinenyenwa. Adigwe sendiri menyumbang 34 poin sekaligus menjadi pahlawan kemenangan Italia atas Jepang dengan menutup set ke lima di angka 15-11. Dengan hasil tersebut Italia tampil sebagai juara sekaligus mengobati kegagalan di edisi tahun 2023 lalu kala event dua tahunan ini di gelar di Mexico.

‘’Ya, kami mampu meningkatkan motivasi dan memperbaiki penampilan di dua set terakhir. Jepang tim bagus, kami mengambil keuntungan di akhir untuk mengalahkan mereka,’’ ujar Gagliardi usai laga.

Selain itu, hasil ini juga menegaskan dominasi Italia di Kejuaraan FIVB Volleyball Women’s U 21 World Championship. Dalam empat edisi terakhir, Italia selalu berhasil melaju ke final, dengan dua diantaranya meraih gelar.

Total, selama 23 kali penyelenggaraan, Italia telah meraih tiga kali gelar, yakni pada 2011, 2021 dan 2025. Itu menjadikan Italia jadi tim tersukses ketiga setelah Brasil (6 gelar) dan Tiongkok (4 gelar).

“Tim kami adalah tim yang sangat bagus dan saya pikir pertandingannya lebih sulit dan di set 4 dan 5 kami bermain voli dengan baik dan kami tetap bertahan dalam permainan, juga ketika Jepang bertahan dengan baik, sangat baik,” kata pelatih Italia Gaetano Gagliardi.

“Dan saya pikir kami punya kesabaran dan kami bermain di Kejuaraan Dunia dengan kesabaran yang luar biasa,” tegas Gagliardi. 

Sukses menjadi Champione FIVB Volleyball Women’s U 21 World Championship 2025 bertambah bangga setelah beberapa pemain mendapatkan penghargaan individu.

Adigwe Merit Chinenyenwa yang menyumbang 34 poin dan pahlawan kemenangan Italia atas Jepang menyandang gelar Opposite terbaik dan Most Valuable Player (MVP).

Selain Adigwe, dua pemain Italia lain juga mendapat penghargaan individu. Yaitu Teresa Maria Bosso Teresa Maria (best outside hitter) dan Marchesini Dalila (best middle blocker). 

Sementara itu Jepang meski kalah di partai final tetap menjadi Idola para penonton yang memadati tribun GOR Jawa Pos Arena. Jepang juga masih bisa tersenyum dengan membawa pulang medali dan sejumlah penghargaan individu. 

Libero kecil mungil Uchizawa Ami yang tampil atraktif dan akurat sepanjang laga di nobatkan sebagai Libero terbaik. Tidak hanya Uchizawa Ami yang mendapat penghargaan individu, Omori Sae  juga di nobatkan sebagai Best Outside Hitter. Dan Hanaoka Crisato meraih predikat Best Setter.

Sementara itu Brazil yang berhasil menempati posisi ketiga juga masih bisa tersenyum kala pulang ke negaranya. Mereka pun menempatkan Kuskowski Luana Camila sebagai Best Middle Blocker.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

Daftar Lengkap penghargaan individu FIVB Volleyball Women’s U 21 World Championship 

Best Outside Hitter :  Bosso Teresa Maria (ITA)

Omori Sae (JPN)

Best Middle Blocker: Marchesini Dalila( ITA)

Kuskowski Luana Camila ( BRA)

Best Opposite : Adigwe Merit Chinenyenwa (ITA)

Best Libero: Uchizawa Ami (JPN)

Best Valuable Player (MVP) : Adigwe Merit Chinenyenwa 

Daftar Peringkat Akhir 10 Besar FIVB Volleyball Women’s U 21 World Championship 

1. Italia 

2. Jepang

3. Brasil

4. Bulgaria

5.Tiongkok

6. Polandia

7. Argentina

8. Turki

9. Amerika Serikat

10. Rep Ceko

16. INDONESIA

Ribuan Warga Padati Grahadi, Penurunan Bendera HUT ke-80 RI Tetap Meriah

Upacara penurunan bendera.

SURABAYA-KEMPALAN: Jika biasanya penurunan bendera berlangsung lebih sepi dibanding pengibaran, lain halnya di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Minggu (17/8) sore. Ribuan warga memenuhi halaman Grahadi untuk menyaksikan prosesi penurunan bendera HUT ke-80 RI yang tetap berjalan meriah.

Kehadiran masyarakat ini bukan spontan, tapi memang diundang langsung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Gubernur Khofifah Indar Parawansa sebelumnya menyediakan 4.000 undangan gratis agar publik bisa ikut serta dalam rangkaian upacara, baik pengibaran maupun penurunan bendera.

Antusiasme warga sudah terlihat sejak pagi tadi. Pun di sore harinya, bahkan banyak keluarga yang datang membawa anak. Mereka bercampur dengan ASN, veteran, hingga komunitas umum yang memenuhi sisi halaman Grahadi.

Upacara penurunan bendera jauh dari kesan lengang. Sorak tepuk tangan masih tetap riuh terdengar ketika ratusan pelajar menampilkan sejumlah tarian dan marching band. Kehadiran masyarakat ini membuat jalannya prosesi terasa lebih hidup.

Prosesi penurunan berlangsung khidmat. Pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) yang sejak pagi menjalankan tugas kembali tampil di hadapan publik. Dengan langkah tegap, mereka menurunkan Sang Merah Putih diiringi lagu kebangsaan yang dinyanyikan paduan suara.

Bendera yang diturunkan kemudian diserahkan kepada Gubernur Khofifah selaku inspektur upacara untuk diamankan. Momen itu disambut dengan sikap hormat para peserta dan tamu yang masih setia berdiri.

Tidak sedikit warga yang mengabadikan prosesi dengan kamera ponsel. Bahkan, sebagian mengaku sengaja datang dari jauh untuk merasakan suasana berbeda dari upacara pengibaran pagi.

“Tahun-tahun sebelumnya saya juga dapat undangan untuk hadir ke Grahadi. Kalau pagi memang lebih ramai, tapi sore ini juga tidak kalah berkesan,” ujar seorang warga asal Paciran, Lamongan, Umi Kholifah.

Rangkaian ini menjadi bukti bahwa prosesi penurunan bendera pun bisa menjadi momen yang sama pentingnya, sekaligus menjadi ruang kebersamaan bagi masyarakat untuk merayakan kemerdekaan. (Dwi Arifin)

Wagub Emil:  Penghormatan kepada Merah Putih Harus Setinggi-tingginya

Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak. (Foto: Dwi Arifin/kempalan.com).

SURABAYA-KEMPALAN: Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengajak masyarakat memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada bendera Merah Putih, serta memperkuat komitmen memperbaiki pelayanan publik dalam momentum peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI).

“Kita tahu tidak ada yang sempurna, termasuk insan yang mengabdi di berbagai lini. Karena itu, pemerintah provinsi senantiasa membuka telinga, membuka mata, membuka hati untuk segala masukan perbaikan,” kata Wagub  Emil

Hal itu disampaikan Emil
kepada awak media  usai upacara pengibaran Bendera Merah Putih dalam rangka peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI di halaman Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Minggu (17/8).

Emil mengaku senang sekali melihat pelajar-pelajar yang antusias menyemarakkan perayaan HUT ke-80 RI. Seperti adanya pemuda-pemudi mementaskan tari kolosal, yang menurutnya memadukan semua warna-warna mengenai sejarah Jawa Timur.

Kemudian ada drumband Taruna Brawijaya dari Kediri yang dinilai tampil luar biasa. “Bakatnya betul-betul diasah dan kedisiplinannya benar-benar tinggi,” ujarnya, memuji.

Ditambah lagi dengan ribuan pelajar yang berkenan membentangkan kain Merah Putih sebagai simbul kebanggan terhadap negara. “Penghormatan kepada Merah Putih haruslah setinggi-tingginya, karena untuk mengibarkannya para pahlawan kita sudah mengorbankan darah mereka. Dari pengorbanan itu kita bisa menikmati kemerdekaan Indonesia yang kini sudah berusia 80 tahun,” katanya.

Emil juga menekankan bahwa momentum kemerdekaan harus menjadi pengingat untuk memperkuat rasa manunggal antara pemerintah dan masyarakat.

Menurut dia, capaian pembangunan tidak lepas dari kontribusi berbagai pihak, mulai dari guru, tenaga kesehatan, petani, hingga pekerja lapangan yang setiap hari berjuang demi kemajuan bangsa.

“Kita perlu mengapresiasi guru, tenaga kesehatan, para pekerja infrastruktur, penyuluh pertanian, dan semua yang berjerih payah. Mereka bagian penting dari kemajuan bangsa. Namun kita juga tidak boleh berpuas diri, tantangan selalu ada dan harus dijawab dengan kerja lebih baik lagi,” katanya.

Menanggapi pidato Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang menyinggung capaian kemiskinan nasional, Emil menjelaskan bahwa persentase kemiskinan Jawa Timur sudah menurun hingga berada di angka satu digit.

Meski demikian, jumlah absolutnya tetap besar karena populasi di provinsi ini juga besar. Sebab, kata Emil, persentase penting sebagai ukuran. Pasalnya, kalau kerja tidak diukur sama saja seperti berjalan tanpa peta dan tanpa kompas.

“Kalau strateginya betul, kita genjot. Kalau belum efektif, kita sempurnakan. Tapi ini belum selesai, justru makin menantang,” ujar mantan Bupati Trenggalek dua periode ini.

Emil menjelaskan bahwa strategi pengentasan kemiskinan dilakukan dengan pendekatan by name by address atau identifikasi detail setiap warga miskin sesuai nama dan alamat.

Pendekatan itu, menurutnya, memungkinkan pemerintah memahami tantangan spesifik setiap kelompok, baik petani, pedagang kaki lima, pekerja kota, lansia, maupun warga usia produktif.

Penyesuaian ini, lanjut Emil, membuat penanganan kemiskinan tidak bisa hanya jadi urusan Dinas Sosial. Tetapi seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) harus bergerak bersama.

“Karena itu Presiden sudah menekankan pentingnya Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTKSEN) agar tidak ada perbedaan data antar-dinas,” katanya.

Ia menambahkan, dengan basis data yang tunggal, pemerintah bisa memastikan program benar-benar menyasar warga yang berhak.

“Kalau ada program di satu desa, tapi warga miskin yang terdata tidak mendapat dampak, artinya program belum menyentuh kemiskinan itu sendiri. Ini yang harus diperbaiki,” tandas Emil. (Dwi Arifin)

Ribuan Masyarakat Antusias Ikuti Upacara HUT ke-80 RI Bersama Gubernur Khofifah

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menjadi inspektur upacara pada Peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI di halaman Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Minggu (17/8).

SURABAYA-KEMPALAN:  Ribuan masyarakat Jawa Timur antusias dan khidmat mengikuti Upacara Peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Minggu (17/8).

Bertindak sebagai inspektur upacara Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, memimpin jalannya upacara yang berlangsung khidmat.
Turut hadir Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak, jajaran Forkopimda Jawa Timur, serta Sekdaprov Jatim Adhy Karyono.

Acara yang dihadiri lebih dari 4.000 masyarakat umum dan tamu undangan lintas sektor ini menjadi momentum penting dalam meneguhkan kembali semangat persatuan, kebersamaan, dan nasionalisme warga Jawa Timur.

Gubernur Khofifah mengajak masyarakat untuk merefleksikan makna tema HUT RI ke-80, yaitu “Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”. Ia menegaskan pentingnya merawat optimisme agar semangat persatuan dapat terus menjadi energi kolektif membangun bangsa.

Gubernur Khofifah Indar Parawansa didampingi Wagub Emil Elestianto Dardak menerima penghargaan pemecahan Rekor MURI.

“Makna persatuan adalah refleksi kebangsaan yang inklusif dan partisipatif, diperjuangkan bersama oleh pemimpin dan rakyat Indonesia. Jawa Timur harus menjadi rumah nyaman bagi semua warga bangsa, tanpa memandang suku, agama, budaya, tradisi, dan adat istiadat,” kata Khofifah.

Menurutnya, menjaga persaudaraan dan kerukunan, termasuk toleransi antarumat beragama adalah kunci memperkuat persatuan. Hal ini sejalan dengan Nawa Bhakti Satya, khususnya Jatim Harmoni, yang menempatkan kemajemukan sebagai kekuatan bangsa.

“Jawa Timur harus menjadi rumah yang nyaman bagi seluruh warga bangsa yang beraneka suku, agama, budaya, tradisi, dan adat istiadat,” tegasnya.

Selain itu, Bersatu Berdaulat, kata Khofifah, bermakna semangat yang mencerminkan karakter bangsa Indonesia yang selalu menjunjung tinggi kerukunan antar warga dan gotong royong dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan ‘Rakyat Sejahtera’, merefleksikan komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk menyejahterakan rakyat. Melalui 8 Asta Cita, 17 program prioritas, dan 8 Program Hasil Terbaik Cepat, pemerintah fokus memastikan kesejahteraan masyarakat.

Tari kolosal Tribhuwana.

“Lebih baik pendidikannya, lebih merata ekonominya, lebih modern infrastrukturnya, tinggi kualitas kesehatan, kualitas hidup masyarakat, kualitas pemerintahan dan demokrasinya,” tuturnya.

Lebih lanjut, Indonesia maju menggambarkan cita-cita bersama untuk menjadi negara maju dengan cara meningkatkan daya saing global, pembangunan infrastruktur dan tercapainya visi “Indonesia Emas”.

“Mari kita terus bergerak, bersemangat, dan mencurahkan segala daya upaya mencapai Indonesia Emas 2045,” katanya.

Di akhir, Khofifah menyampaikan terima kasih atas kerja sama dan partisipasi seluruh pihak yang mendukung terwujudnya berbagai kemajuan pembangunan di Jatim. Di antaranya, Pangdam V Brawijaya, Kapolda Jatim, Kajati Jatim, Ketua DPRD Jatim, Panglima Komando Armatim. Sekaligus, juga jajaran Pimpinan Wilayah BI, OJK, dan pimpinan instansi vertikal lainnya.

“Tidak ada lagi ego sektoral. Semua harus bersatu berkolaborasi untuk masa depan Jawa Timur dan Indonesia yang lebih bermartabat ke depannya,” pungkasnya.

Setelah melaksanakan upacara bendera, seluruh peserta dan tamu undangan menikmati berbagai pertunjukan. Di antaranya 300 anak menampilkan tari kolosal Tribhuwana, penampilan drumband dari SMAN 5 Taruna Brawijaya Kediri, dilanjutkan membentuk formasi untuk deville pawai bendera.

Pecahkan Rekor MURI

Ada juga kirab bendera merah putih melintas di depan tamu undangan dan sepanjang Jalan Gubernur Suryo. Total panjang bendera merah putih yang terbentang adalah 14.905,5 meter, dengan pembentang yang terdiri dari 10.686 siswa, 695 guru, dan 402 pegawai Dinas Pendidikan Prov. Jawa Timur.  Sementara sebelumnya bendera merah putih itu dijahit dengan melibatkan 7.547 orang murid dan 1.573 guru.

Kirab bendera merah putih tersebut memecahkan Rekor Dunia Indonesia (MURI) diiringi 2 lagu yang dibawakan oleh Brigita Marice Momotsan asal Papua Barat Daya dari SMA Immanuel Batu yang diakhiri dengan pelepasan balon merah putih dan fire work.

Turut dilakukan penyerahan 12 penghargaan kepada Kacabdin, Kepala Sekolah, Guru, serta Siswa SMAN, SMKN dan SLB di Jawa Timur oleh Gubernur Khofifah didampingi Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak dan Kepala Dinas Pendidikan Jatim Aries Agung Paewai. Serta penyerahan hadiah pakaian terunik kepada lima pemenang dan acara ditutup dengan penampilan Jihan Audi.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Khofifah, Wagub Emil, Forkopimda Jatim, Sekdaprov Jatim Adhy Karyono, peserta dan seluruh undangan yang hadir turut mengikuti Upacara Detik-detik Proklamasi HUT Ke-80 Kemerdekaan RI dari Istana Merdeka secara daring. (Dwi Arifin)

Di Negeri Merdeka Perjuangan Lebih Sulit

Delapan puluh tahun sudah Indonesia berdiri sebagai bangsa merdeka, setelah melalui jalan panjang penuh darah, keringat, dan air mata.

Bung Karno, sang putra fajar, pernah mengucapkan kata-kata yang hingga kini masih terngiang dengan penuh makna: “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Sebuah pesan yang ternyata bukan sekadar retorika sejarah, melainkan nubuat yang terus terasa kebenarannya di setiap babak perjalanan bangsa ini.

Jika kita menoleh ke belakang, perjuangan generasi 1945 memang jelas: mengusir penjajah yang datang dari luar.

Mereka berjuang menghadapi musuh yang kasat mata, membawa senjata, dan menancapkan kekuasaan atas negeri ini.

Tetapi kini, setelah genap delapan dasawarsa merdeka, siapa sesungguhnya musuh bangsa?

Bukan lagi Belanda atau Jepang, melainkan justru sesama anak negeri yang kadang tega menindas rakyatnya sendiri, melanggengkan kekuasaan dengan cara sewenang-wenang, atau melupakan sumpah jabatannya.

Seperti kata pepatah, musuh dalam selimut lebih berbahaya daripada seribu pasukan asing di medan perang.

Realitas hari ini menunjukkan bagaimana “kegaduhan” sering kali menyeruak tanpa permisi di negeri yang digambarkan dalam lagu Koes Plus sebagai tanah surga, “tongkat kayu dan batu jadi tanaman.”

Negeri yang seharusnya gemah ripah loh jinawi justru kerap diwarnai oleh konflik, perpecahan, dan perseteruan antar anak bangsa sendiri.

Alih-alih bersatu untuk memajukan negara, energi bangsa justru terkuras oleh pertarungan kepentingan politik, perebutan kekuasaan, dan praktik korupsi yang merajalela.

Seandainya Bung Karno masih hidup, mungkin ia akan berkata dengan tegas “Lho, betul ta omonganku dulu?” Sebab yang kita saksikan hari ini tak jarang memang benturan antara pemimpin dan rakyatnya sendiri.

Ada pemimpin yang tak paham arti sumpah jabatan, seolah-olah janji di hadapan Tuhan hanyalah formalitas.

Ada pula yang lebih sibuk menjaga kepentingan pribadi atau kelompoknya daripada mengabdi kepada rakyat yang memberi amanah.

Padahal sejarah telah membuktikan bahwa bangsa yang besar hanya bisa bertahan jika pemimpinnya memiliki jiwa besar, kerendahan hati, dan keberanian moral.

Dalam konteks ini, menarik pandangan pakar ilmu politik dari Harvard, Samuel P. Huntington, yang menyebut bahwa tantangan terbesar bagi negara-negara berkembang bukanlah ancaman dari luar, melainkan political decay atau pembusukan politik dari dalam.

Ketika institusi negara lemah, ketika pemimpin gagal memberi teladan, dan ketika hukum hanya tajam ke bawah namun tumpul ke atas, maka rakyat akan merasa berhadapan dengan bangsanya sendiri.

Kata-kata Bung Karno kembali menemukan relevansinya bahwa perjuangan melawan saudara sebangsa jauh lebih sulit dan menyakitkan daripada melawan penjajah asing.

Namun, bukan berarti kita harus tenggelam dalam pesimisme. Justru di sinilah tantangan generasi muda Indonesia menemukan maknanya.

Bung Karno pernah berujar dengan penuh keyakinan: “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.” Pesan ini seakan menjadi wasiat bagi anak bangsa di era modern.

Pemuda tidak lagi dituntut mengangkat bambu runcing, tetapi mengangkat kesadaran, kejujuran, serta integritas dalam menghadapi “penjajahan” baru berbentuk korupsi, kesewenang-wenangan, kebodohan, dan perpecahan.

Generasi muda harus belajar dari sejarah, bukan sekadar mengagungkan romantisme masa lalu.

Mereka perlu berani berkata tidak pada praktik kotor yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Mereka perlu tampil sebagai patriot sejati yang gagah berani melawan arus pragmatisme.

Dalam dunia yang semakin kompleks, pemuda juga ditantang untuk tidak hanya jujur, tetapi juga cerdas, adaptif, dan visioner.

Perjuangan melawan sesama bangsa sendiri mungkin sulit, tetapi bukan mustahil jika ada komitmen bersama untuk membangun bangsa dengan semangat guyub, rukun, dan penuh kesadaran moral.

Dalam banyak hal, perjalanan bangsa ini memang seperti lingkaran. Setelah merdeka, kita dihadapkan lagi pada pertarungan internal yang terus berulang, diantaranya konflik elit politik, kesenjangan sosial, hingga krisis moral.

Tetapi justru karena siklus itu terus ada, kita dituntut untuk menemukan energi baru dalam menghadapi zaman.

Bung Karno mewariskan api semangat, dan api itu hanya akan terus menyala jika dijaga oleh jiwa-jiwa muda yang berani menolak tunduk pada keadaan.

Peringatan 80 tahun kemerdekaan saat kini, memaknai kita layak bertanya, apakah kita sudah benar-benar merdeka? Ataukah kita hanya berpindah dari penjajahan asing menuju penjajahan oleh saudara sebangsa?

Apakah janji kemerdekaan telah dirasakan merata oleh rakyat kecil, atau hanya oleh segelintir orang yang menguasai sumber daya bangsa?

Pertanyaan ini tidak boleh dibiarkan menggantung, karena jawaban sejatinya ada pada tindakan kita hari ini.

Merdeka sejati bukan sekadar bebas dari penjajahan asing, melainkan juga bebas dari penindasan sesama anak negeri.

Merdeka berarti hidup dalam damai, guyub, dan rukun, sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa. Karena itu, mari jadikan peringatan 80 tahun kemerdekaan sebagai momentum untuk merenung, memperbaiki diri, dan memperbaharui komitmen kebangsaan.

Jika tidak, maka kata-kata Bung Karno akan terus menjadi cermin pahit: perjuangan melawan bangsa sendiri adalah perjuangan paling sulit.

Maka, wahai anak muda Indonesia, jadilah patriot sejati. Jangan biarkan semangatmu dikalahkan oleh kegaduhan politik atau godaan pragmatisme. Angkatlah jiwa besar, jujur, dan penuh tafakur.

Sebab hanya dengan cara itulah kita bisa membuktikan bahwa bangsa ini masih layak disebut bangsa besar. Dan hanya dengan cara itu pula kita bisa benar-benar merdeka hingga akhir masa.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-80. Merdeka!

Oleh Bambang Eko Mei

              ******

Hormati Persatuan, Wali Kota Eri Kenakan Baju Adat Minang di HUT ke-80 RI

SURABAYA-KEMPALAN: Ada yang menarik dalam upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia di halaman Balai Kota Surabaya, Minggu (17/8). Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi dan Ketua TP PKK Rini IndriyaniLL tampil kompak mengenakan baju adat khas Minang.

Pemilihan baju adat itu bukan tanpa alasan. Wali Kota Eri menegaskan, setiap momentum HUT RI, ia bersama jajarannya akan berganti-ganti baju adat sebagai simbol keberagaman yang ada di Surabaya.

“Kalau ulang tahun Surabaya saya pasti pakai (pakaian) Cak Suroboyo. Tapi ketika kemerdekaan, maka di Surabaya ketika merebut kemerdekaan bukan hanya orang Surabaya, tapi semua suku ikut bertempur, memperjuangkan, dan mempertahankan kemerdekaan,” kata Eri.

Karena itu, sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman, Wali Kota Eri menegaskan bahwa setiap tahun pada peringatan 17 Agustus, ia akan mengenakan pakaian adat berbeda. “Maka setiap 17 Agustus, kami akan berganti-ganti baju adat sesuai dengan suku yang ada di Surabaya,” tuturnya.

Di momen HUT ke-80 RI, Wali Kota Eri juga mengajak masyarakat untuk memperkuat persatuan sekaligus mengisi kemerdekaan dengan perjuangan dan aksi nyata.

“Karena ulang tahun yang ke-80 ini menunjukkan bahwa Indonesia, khususnya Kota Surabaya harus betul-betul merdeka. Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari putus sekolah, merdeka dari stunting. Selagi itu masih ada, maka sejatinya Surabaya belum merdeka sepenuhnya,” ujar Eri.

Selain itu, Eri juga menyinggung pentingnya peran pemuda dalam mengisi kemerdekaan. Karenanya, ia mendorong para pemuda Surabaya untuk aktif melalui program Kampung Pancasila.

“Dengan semangat kemerdekaan ini, maka Surabaya membentuk Kampung Pancasila yang menggerakkan para pemuda di Surabaya. Di situlah kita mengingat bagaimana pemuda menguatkan para pemimpinnya untuk memproklamasikan kemerdekaan 17 Agustus 1945,” pungkasnya.

Sebagai diketahui, upacara HUT ke-80 RI di Halaman Balai Kota Surabaya, juga diikuti oleh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Surabaya. Setidaknya ada sekitar 3.115 peserta yang terlibat dalam upacara tersebut. Mereka terdiri dari 341 Pasukan Upacara, 615 pendukung upacara, dan 2.159 tamu undangan. (Dwi Arifin)

Waow Keren Rek! Meriahkan HUT RI 80, Pemdes Gredek Sulap Waduk Jadi Arena Lintasan Lomba Prahu Dayung 

GRESIK-KEMPALAN: Waduk Desa Gredek, Kecamatan Duduksampeyan, Kabupaten Gresik yang sebelumnya hanya sebatas penampung air demi memenuhi kebutuhan air bersih di desa setempat, kini berubah menjadi obyek wisata yang dangat fantastis. Selain tampat untuk sekedar kongkow atau nongkrong sambil menikmati indahnya pemandangan desa yang di kelilingi hamparan tambak dan dan persawahan , kini waduk yang berlokasi di desa Gredek Kecamatan  Duduksampean Kabupaten Gresik di sulap menjadi lintasan arena berlomba prahu dayung.

Bertepatan dengan perayaan hari ulang tahun kemerdekaan RI ke 80 pemerintah desa Gredek Kecamatan Duduksampean Kabupaten Gresik menggelar lomba prahu dayung memperebutkan piala Kapolres Gresik. 

Ada dua kategori yang di lombakan yakni kelas  lokal dan kekas nasional. Untuk kelas lokal di khususkan warga masyarakat Gredek . Sedangkan untuk umum atau kelas nasional pesertanya dari berbagai kalangan termasuk para nelayan dan atlet profesional.

Kepala Desa Gredek, M. Bahrul Ghofar, mengungkapkan lomba yang biasanya memperebutkan Piala Bupati ini tahun ini berbeda yaitu dengan menghadirkan Piala Kapolres sebagai bentuk penghormatan pada peringatan HUT Bhayangkara yang beriring dengan peringatan perayaan HUT RI. “Ini apresiasi kami kepada bapak Kapolres Gresik yang luar biasa dalam memberikan pelayanan dan keamanan kepada masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut kepala desa yang berpenampilan low profile ini menjelaskan perlombaan perahu dayung di Gredek ini mulai digelar sejak 2020. Jadi ini untuk tahun ini sudah yang ke lima kalinya sejak ia menjabat sebagai kepala desa. ajang ini tetap menjadi kalender tahunan perayaan kemerdekaan. Tahun ini, sebanyak 24 peserta berkompetisi, termasuk empat tim atlet dari Gresik, Sidoarjo, hingga Jawa Tengah. 

Tak tanggung-tanggung Pemdes Gredek menyiapkan hadiah Fress money dan piala cukup fantastis bagi para juara. Untuk juara pertama senilai Rp15 juta plus trofi, juara kedua Rp10 juta, juara ketiga Rp5 juta, dan juara keempat Rp2,5 juta.

Ghofar menegaskan, selain memeriahkan HUT RI, lomba ini adalah medium untuk menumbuhkan semangat kemerdekaan. “Dari sini, kami ingin semangat kemerdekaan terus mengalir,” katanya.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan )

Meski Bendera Sempat Terbalik, Wali Kota Eri Apresiasi Paskibraka Surabaya

Paskibraka Surabaya saat bertugas di upacara HUT ke-80 RI di Halaman Balai Kota Surabaya; Minggu (17/8).

SURABAYA-KEMPALAN: Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memberikan apresiasi kepada Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Surabaya Tahun 2025. Bahkan, ia secara khusus memberikan arahan dan motivasi kepada Paskibraka usai upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia di Halaman Balai Kota Surabaya, Minggu (17/8).

Wali Kota Eri Cahyadi menilai Paskibraka Surabaya yang terdiri dari pelajar SMA/SMK itu telah berhasil menunjukkan dedikasi dan mental luar biasa saat menjalankan tugas sebagai pengibar bendera Merah Putih.

“Tadi saya sampaikan kepada adik-adik Paskibraka, jangan pernah surut. Ketika ada salah, keliru benderanya, maka tidak dibuka oleh dia. Bagaimana dia tetap tenang, bagaimana teman-temannya mensupport, maka disitulah dia kembali membenarkan bendera itu. Lihat ketika bendera itu dibentangkan, bendera itu tetap Merah Putih,” ujar Wali Kota Eri.

Wali Kota Eri menekankan bahwa ketenangan, kekompakan, dan rasa kekeluargaan adalah kekuatan utama Paskibraka yang bisa menjadi teladan bagi generasi muda. “Kalian tidak ada kesalahan, kalian adalah orang yang luar biasa, kalian memiliki mental yang luar biasa,” tegasnya.

Menurutnya, apabila tidak memiliki mental kuat, Paskibraka Surabaya bisa saja keliru hingga bendera terbalik. Namun, Paskibraka Surabaya berhasil menunjukkan bahwa mereka mampu menghadapi tekanan dengan penuh tanggung jawab.

“Itulah dibutuhkan mental yang bagus, dibutuhkan kebersamaan, dibutuhkan kekeluargaan. Maka saya katakan kepada mereka kalian adalah yang terbaik, dan kalian adalah pilihan orang-orang Surabaya untuk mewakili anak-anak muda Surabaya tingkat SMA/SMK untuk menjadi pengibar bendera,” jelasnya.

Wali Kota Eri juga menegaskan bahwa setiap kekurangan dalam pelaksanaan tugas bukanlah kelemahan. Baginya, hal itu merupakan penguat untuk menjadi pribadi yang lebih baik. “Karena sebuah kekurangan itu adalah keberhasilan atau penguat diri kita untuk menjadi lebih kuat lagi,” imbuhnya.

Selain itu, Wali Kota Eri juga menyampaikan terima kasih kepada para pembina yang telah mendidik Paskibraka Surabaya dengan penuh kesabaran dan dedikasi. “Inilah yang bisa kita ambil contoh anak-anak muda yang luar biasa Paskibraka Surabaya,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Persebaya Sukses Uji Nyali di Mabes Pendekar Cisadane Persita Tangerang dengan Kemenangan 0-1

TANGERANG – KEMPALAN: Arek-arek  green force Persebaya Surabaya sukses melakukan uji nyali di markas besar pendekar Cisadane julukan Persita Tangerang di stadion Indomilk Arena Tangerang. Tim kebanggaan arek-arek Suroboyo Persebaya Surabaya tidak hanya meraih poin penuh tapi kemenangan 1-0 atas Persita menandai bahwa mental bertanding mulai tertata. Gol tunggal kemenangan Persebaya di cetak oleh Fransisco Rivera pada menit ke 23.

Duel Persita Tangerang versus Persebaya di Stadion Indomilk Arena Tangerang ( 16/08) berlangsung sengit. Tuan rumah Persita Tangerang yang berusaha mengobati kegagalan di laga pembuka bermain force. Tampil di hadapan puluhan ribu penonton pendekar Cisadane julukan Persita Tangerang ingin memamerkan ke kedigdayaan. Tapi secara aksi yang dilakukan oleh pendekar Cisadane hanya sebatas ancaman.

sementara itu Persebaya Surabaya juga tak kalah gigihnya. Francisco Rivera dan kawan kawan merespon dengan memberikan perlawanan sengit. Bahkan di menit ke 23 Persebaya Surabaya mampu merobek gawang Persita Tangerang sekaligus membungkam ribuan pendukung tim tuan rumah. Unggul 1-0 Persebaya kian bermain force. Bruno Moreira, Fransisco Rivera cs terus meladeni permainan Persita dengan skema bermain taktis. Meski saling menyerah dan menciptakan peluang tapi semua hanya sebatas ancaman. Babak pertama skor tetap 0-1 untuk Persebaya.

Pada babak kedua, Persita berusaha meningkatkan intensitas serangan untuk mengejar ketertinggalan.

Namun Persita kerap kesulitan menembus lini belakang Persebaya yang rapat dan solid.

Pada menit ke-72 Persita dapat peluang lewat sundulan Andrejic Aleksa usai memanfaatkan situasi sepak pojok.

Namun sundulan Aleksa masih  melenceng di sisi kiri gawang Persebaya yang dikawal Ernando Ari.

 Pada menit ke-80 Persebaya mendapatkan peluang emas saat Bruno Moreira sudah satu lawan satu dengan penjaga gawang Persita. Namun tembakan Bruno bisa ditepis kiper Persita.

Menit ke-88, penyerang Hokky Caraka membuang peluang emas di depan gawang Persebaya usai menyambut umpan silang dari Eber Bessa. Namun, sundulan Hokky Caraka masih melenceng di sisi kiri gawang Persebaya. Hokky tampak  kesal dengan dan kecewa setelah gagal mencetak gol.

Hingga pertandingan berakhir tak ada gol tambahan yang tercipta. Persebaya menang 1-0 atas Persita. Kemenangan ini  tidak hanya sekedar mengobati kegagalan di laga pembuka saat menjamu PSIM Yogyakarta. Tapi juga menandai bahwa mental bertanding arek arek green force Persebaya mulai percaya diri menatap kompetisi kedepan.

Sementara bagi Persita ini kekalahan kedua dari dua laga awal musim ini. Pada pertandingan pertama, Persita kalah telak 0-4 dari Persija.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.