Rabu, 20 Mei 2026, pukul : 01:29 WIB
Surabaya
--°C

Italia Hadapi Jepang di Final FIVB Volleyball Women’s U 21 World Championship 2025

SURABAYA- KEMPALAN: Partai final Kejuaraan Dunia Voli Putri U-21 FIVB 2025 mempertemukan dua tim raksasa voli dari dua benua. Jepang menjadi wakil Asia yang akan menantang wakil Eropa Italia dalam final yang berlangsung di Jawa Pos Arena, Surabaya, Minggu (17/8/2025), usai keduanya mengalahkan lawan-lawannya di semifinal.

Italia meraih kemenangan meyakinkan atas wakil Amerika Selatan, Brasil di Jawa Pos Arena, Surabaya, Sabtu (16/8/2025). Italia unggul dengan skor 3-0 (25-16, 25-21, 25-19) di semifinal.

Sedangkan Jepang tampil di partai puncak setelah menang 3-0 (25-17, 25-18, 25-13) atas Bulgaria.

Kemenangan dengan skor telak Italia atas Brasil sebenarnya di luar dugaan, mengingat Brasil juga jadi salah satu tim unggulan juara. Meski begitu, pelatih Italia Gaetano Gagliardi merasa kemenangan itu bukanlah sebuah kejutan. 

“Saya pikir pertandingannya lebih sulit. Tapi kami fokus pada pertandingan,” kata Gagliardi. 

“Kami bermain bagus di semua situasi, juga di set ketiga ketika Brasil mencoba bangkit, dan kami dengan sabar menghadapinya, ini hal yang sangat bagus,” lanjut Yamaguchi.

Sementara pelatih Jepang, Hiroyuki Yamaguchi menilai para pemainnya bisa terus menjaga fokus hingga akhir pertandingan. 

“Kami bermain dengan pikiran jernih, dari pertama pemain tampil dengan sangat baik dan berkonsentrasi, jadi kami bisa terus mendominasi pertandingan,” kata Yamaguchi.

Selain itu kekompakan tim juga berperan. “Kami menyerang dan saling melindungi satu sama lain. Itulah mengapa kami bisa memenangkan pertandingan, kami berusaha untuk melakukan yang terbaik, dan pada akhirnya kami bersatu dan kami bisa mengalahkan Bulgaria.” 

Yamaguchi berharap Jepang bisa terus melanjutkan performa apik dalam laga final. “Italia tim yang sangat bagus, jadi akan jadi tantangan bagi kami untuk terus menunjukkan performa terbaik.”

Indonesia Kalah Lima Set Lagi

Sementara itu, tuan rumah Indonesia harus puas menerima kekalahan kelima di Kejuaraan Dunia Voli Putri U-21 FIVB 2025. Skuad Merah Putih menyerah 2-3 (25-22, 15-25, 25-17, 18-25, 5-15) dari Korea Selatan, di Jawa Pos Arena, Surabaya, Sabtu (16/8).

Kekalahan lima set itu adalah yang ketiga bagi Junaida Santi dkk dalam ajang Kejuaraan Dunia Voli Putri U-21 FIVB 2025. 

Sebelumnya, tim asuhan Marcos Sugiyama  itu juga kalah 2-3 dari Serbia dan Puerto Riko di fase Pool A.

Dengan hasil itu, Indonesia harus puas hanya berebut peringkat ke-15. Indonesia akan menantang Puerto Riko kembali. Sabtu (16/8/2025) Puerto RIko menyuerah 0-3 kepada Serbia. Laga yang mempertemukan Indonesia dengan Puerto RIko akan berlangsung di Jawa Pos Arena, mulai pukul 10.00 WIB. 

Hasil Sabtu (16/8/2025):

Lapangan 1, Jawa Pos Arena:

Puerto Riko-Serbia 0-3 (11-25, 21-25, 19-25)

Brasil-Italia 0-3 (16-25, 21-25, 19-25)

Bulgaria-Jepang 3-0 (25-17, 25-18,25-13)

Indonesia-Korea 2-3 (25-22, 15-25, 25-17, 18-25, 5-15)

Lapangan 2, GOR Pancasila:

USA – Kroasia 3-1 (26-28, 25-22, 25-16. 25-16)

Republik Ceko-Thailand 3-2

(25-22, 21-25, 25-19, 19-25, 15-11)

Polandia-Turki 3-2 (25-23, 19-25, 22-25, 25-16, 17-15)

Argentina-Tiongkok 1-3 (12-25, 25-22, 21-25, 22-25)

Lapangan 3, GOR Samator:

Aljazair-Mexico 2-3 (25-16, 25-23, 25-27, 12-25, 12-15)

Tunisia-Mesir 1-3 (25-19, 18-25, 20-25, 19-25)

Dominika-Vietnam 0-3 (19-25, 17-25, 17-25)

Kanada-Chili 3-1 (25-12, 23-25, 25-21, 25-21).

Jadwal Minggu (17/8/2025):

Lapangan 1, Jawa Pos Arena:

Jam 10.00 WIB: INDONESIA-Puerto Rico (peringkat 15-16)

Jam 13.00 WIB: Tiongkok-Polandia  (peringkat 5-6)

Jam 16.00 WIB: Brasil-Polandia (peringkat  3-4)

Jam 17.00 WIB: Italia-Tiongkok (peringkat 1-2)

Lapangan 2, GOR Pancasila:

Jam 10.00 WIB: Thailand-Kroasia  (peringkat 11-12)

Jam 13.00 WIB: Argentina-Turki  (peringkat 7-8)

Jam 16.00 WIB: Korea-Serbia (peringkat 13-14)

Jam 19.00 WIB: Republik Ceko-USA (peringkat 9-10).(Ambari Taufiq M Fasichullisan))

Tasyakuran HUT RI, Wali Kota Eri Ajak Kaum Muda Terus Berjuang

Acara Tasyakuran HUT ke-80 RI di depan rumah dinas wali kota, Jalan Sedap Malam, Sabtu (16/8).

SURABAYA-KEMPALAN: Pemkot Surabaya menggelar tasyakuran Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia (RI) bersama anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Surabaya dan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Pahlawan bertempat di depan rumah dinas wali kota, Jalan Sedap Malam, Sabtu (16/8). Acara ini merupakan momen refleksi dan semangat dari para pejuang kepada generasi muda.

Dalam sambutannya, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan bahwa kemerdekaan sejati belum sepenuhnya tercapai. Ia menyoroti tantangan yang masih dihadapi Surabaya, seperti kemiskinan, stunting, dan kesenjangan sosial. Menurutnya, hal-hal tersebut adalah ‘penjajahan’ modern yang harus dilawan.

“Hari ini, kalau eyang-eyang sudah berjuang sejak 1945 untuk memerdekakan bangsa, tapi hari ini Kota Surabaya masih ada kemiskinan, stunting, dan kesenjangan sosial. Maka sejatinya arti dari perjuangan yang direbut oleh eyang-eyang ini belum sepenuhnya terjadi di Kota Surabaya,” ujar  Eri.

Pada momen malam kemerdekaan ini, Wali Kota yang akrab disapa Cak Eri mengajak seluruh pemuda, khususnya anggota Paskibraka, untuk menjadi garda terdepan dalam mewujudkan ‘Kampung Pancasila’. Proyek ini digagas oleh Pemkot Surabaya bersama Forkopimda sebagai upaya untuk mengatasi masalah sosial secara tuntas.

“Jangan pernah banyak berpikir, jangan banyak teori. Tapi bagaimana kita bisa merebut, meraih kesempatan itu untuk mewujudkan kemerdekaan. Maka hari ini kita akan wujudkan ‘Kampung Pancasila’. Dimana kampung Pancasila itu tidak ada lagi yang tidak sekolah, tidak ada lagi yang miskin, tidak ada lagi yang stunting,” tegas Cak Eri.

Ia juga mengajak masyarakat, terutama kaum muda, untuk terus berjuang tanpa gentar. “Kalau ada yang menghalangi kita, lihat perjuangan beliau (para veteran). Jangan pernah mundur, kita harus berani. Itulah ciri khas arek-arek Suroboyo,” imbuhnya. 

Sementara itu, Ketua LVRI Kota Surabaya Eyang Kol. Laut (Purn) Gitojo membawa hadirin menyelami sejarah dengan menceritakan kembali detik-detik penting menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Ia memaparkan kronologi mulai dari bom Hiroshima dan Nagasaki hingga keputusan Jepang untuk menyerah tanpa syarat.

Eyang Gitojo menceritakan bagaimana perbedaan pendapat antara golongan muda dan golongan tua dalam menentukan kapan proklamasi harus dibacakan. Golongan muda yang dipimpin oleh Chairul Saleh dan Wikana mendesak agar kemerdekaan segera diproklamasikan setelah Jepang menyerah, khawatir akan datangnya penjajah baru. Sementara itu, Soekarno dan Hatta menginginkan Proklamasi dipersiapkan melalui sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). 

“Dari golongan muda ini tetap ngotot harus merdeka. Karena kalau kita tidak merdeka, kita akan dijajah kembali,” kenang Eyang Gitojo. 

Ia menjelaskan, perdebatan inilah yang berujung pada peristiwa Rengasdengklok, di mana para pemuda mengamankan Soekarno dan Hatta untuk meyakinkan mereka. Penceritaannya yang gamblang berhasil membangkitkan kembali rasa syukur atas perjuangan para pendahulu. Ia menutup kisahnya dengan pesan bahwa setelah proklamasi, tantangan belum usai. 

“Untuk itu, kita bersama-sama khususnya generasi muda harus mempertahankan kemerdekaan dengan menghadapi segala tantangan yang ada,” pungkasnya. 

Sebagai diketahui, pada acara malam tirakatan juga dilakukan  penyerahan piagam penghargaan dari LVRI kepada Wali Kota Surabaya sebagai bentuk apresiasi atas perhatian luar biasa Pemkot Surabaya terhadap para veteran. 

Tak hanya itu, acara juga diakhiri dengan pemotongan tumpeng dan pemberian bantuan kepada para veteran, simbol rasa hormat dan terima kasih atas jasa-jasa baik mereka. (Dwi Arifin)

Polemik CCTV Parkir Clear, Bapenda Surabaya dan Apkrindo Tentukan Titik Pemasangan

Plt Kepala Diskominfo Kota Surabaya M Fikser (kiri) foto bersama dengan Ketua Umum APKRINDO Jawa Timur Ferry Setiawan usai menggelar pertemuan, Jumat (15/8).

SURABAYA-KEMPALAN: Pemkot Surabaya menegaskan bahwa pemasangan kamera Closed Circuit Television (CCTV) di lokasi usaha hanya terbatas di pintu masuk halaman tempat usaha. Kebijakan ini ditujukan untuk memberikan rasa aman bagi pengusaha maupun pengunjung, sekaligus meningkatkan transparansi jumlah kendaraan yang terparkir.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Surabaya M Fikser mengatakan bahwa pemkot telah menggelar pertemuan dengan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (APKRINDO) Jawa Timur Ferry Setiawan, Jumat (15/8). Pertemuan ini untuk diskusi bersama terkait lokasi titik rencana pemasangan CCTV.

“Di dalam pertemuan itu dijelaskan bahwa CCTV yang kita rencanakan pemasangan adalah CCTV yang di halaman tempat usaha,” ujar Fikser, Sabtu (16/8).

Fikser menjelaskan bahwa tujuan pemasangan CCTV adalah untuk keamanan dan ketertiban. Ia mengakui bahwa untuk menggerakkan ekonomi Surabaya, tentu pemkot tidak bisa bekerja sendiri.

“Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, pemerintah juga tidak bisa sendiri. Karena itu, pemerintah juga melibatkan semua stakeholders, dalam hal ini pengusaha,” jelasnya.

Karenanya, Fikser menegaskan bahwa CCTV tidak akan menyoroti aktivitas di dalam restoran. Selain di pintu masuk halaman tempat usaha, nantinya CCTV juga akan dipasang di jalan.

“Jadi nanti ada yang di jalan, ada yang di halaman usaha untuk keamanan. Nah, untuk yang halaman itu juga untuk menghitung pajak kendaraan dan tidak mengubah apapun,” bebernya.

Ia menyebut bahwa Pemkot Surabaya hanya menerima 10 persen pajak kendaraan bermotor. Sementara 90 persen tetap masuk ke pengusaha. “Jadi kalau ada yang bayar (parkir) Rp2.000, ke pemkot cuma Rp200. Begitupun kalau orang bayar (parkir) Rp5.000, 10% nya Rp500, ke pemkot,” jelasnya.

Ia menambahkan, dana yang diperoleh dari pajak ini kemudian yang digunakan untuk membiayai pendidikan, BPJS Kesehatan, dan sebagainya. “Jadi ketika kita jelaskan kepada Apkrindo Jatim, Pak Ferry setuju, dia menyadari, oh seperti itu. Jadi dipikir kita itu pasang CCTV di dalam restoran, tidak,” ungkap Fikser.

Selain itu, pihaknya juga memastikan tidak akan mengganggu privacy tempat usaha. Bahkan, pemasangan CCTV di pintu masuk halaman tempat usaha juga sepenuhnya menjadi tanggungjawab Pemkot Surabaya.

“Di halaman itu pun juga kita tidak mengubah apapun, tidak mengambil listrik dari pengusaha, semuanya dari kita. Dan dari pertemuan itu, Pak Ferry pun juga menyetujui,” jelas Fikser.

Karena itu, Fikser menyatakan bahwa persoalan surat edaran pemasangan CCTV yang diterima para pengusaha sebenarnya sudah selesai.

“Artinya, memang dari sisi ini kita juga sudah melakukan sosialisasi. Mudah-mudahan dengan pertemuan kemarin, pemerintah kota dengan Pak Ferry ini sudah bisa clear,” harapnya.

Sementara itu, Ketua Umum APKRINDO Jawa Timur Ferry Setiawan menyatakan dukungannya terhadap rencana pemasangan CCTV yang dilakukan Pemkot Surabaya di area parkir.

APKRINDO mendukung pemasangan CCTV di area parkir. Kami mendukung pemkot untuk menaikkan PAD (Pendapatan Asli Daerah) untuk pembangunan kota,” ujar Ferry.
Hal senada disampaikan Kepala Bidang Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Parkir, Pajak Reklame, Pajak Hiburan, Pajak Penerangan Jalan, dan Pajak Air Tanah Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Surabaya, Ekkie Noorisma.

Ia menegaskan bahwa CCTV hanya dipasang di lokasi usaha wajib pajak yang menjadi objek pajak daerah, seperti tempat usaha. “Area pemasangan CCTV terbatas pada area parkir untuk memberikan keamanan bagi pengunjung serta menghitung jumlah kendaraan yang terparkir pada area parkir dalam proses perhitungan pajak parkir,” kata Ekkie.

Selain itu, Ekkie juga memastikan bahwa pemasangan CCTV bukan pada area private business, utamanya kasir. Bahkan, ia mengungkap jika Bapenda Surabaya bersama Perangkat Daerah (PD) terkait dan APKRINDO, akan bersama-sama meninjau langsung titik-titik rencana pemasangan CCTV. “Untuk rumah pribadi warga bukanlah objek pemasangan CCTV,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa pemasangan CCTV bertujuan untuk memberikan rasa aman bagi pengusaha serta pengunjung, sekaligus meningkatkan transparansi jumlah kendaraan yang terparkir. “Hal ini dilaksanakan dalam rangka mendukung sistem pemungutan pajak daerah yang lebih adil dan akuntabel,” pungkasnya.

Sebagai informasi, kewenangan Bapenda Surabaya dalam pemasangan CCTV telah diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.

Selain itu, landasan hukum juga tercantum dalam Peraturan Daerah (Perda) Surabaya Nomor 7 Tahun 2023 serta Peraturan Wali Kota (Perwali) Surabaya Nomor 33 Tahun 2024. (Dwi Arifin)

76 Anggota Paskibraka Jawa Timur Dikukuhkan, Ini Pesan Gubernur Khofifah

Gubernur Khofifah Indar Parawansa memberi selamat kepada anggota Paskibraka Jawa Timur yang telah dikukuhkan

SURABAYA-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengukuhkan 76 Anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Tingkat Provinsi Jawa Timur Tahun 2025 di Halaman Gedung Negara Grahadi Surabaya, Sabtu (16/8) sore.

Acara pengukuhan ini juga dihadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono, Ketua DPRD Jatim H.M. Musyafak Rouf, para Forkopimda beserta Kepala Perangkat Daerah Provinsi Jatim.

Secara khusus, Gubernur Khofifah berpesan kepada 76 anggota Paskibraka yang baru saja dikukuhkan untuk melaksanakan tugas mulia ini dengan baik sesuai dengan ikrar yang disebutkan.

“Alhamdulillah baru saja kita mengikuti Pengukuhan Paskibraka Tahun 2025 pada peringatan HUT RI yang ke-80. Insya Allah tugas mulia ini saudara laksanakan besok pagi tanggal 17 Agustus 2025 dan besok sore saat penurunan bendera,” kata Khofifah.

“Ini tugas mulia. Tugas yang menjadi sebuah penghormatan bagi anak-anak semua juga bagi keluarga yang mengantarkan putra-putrinya sebagai kader bangsa seperti yang telah diucapkan dalam Ikrar. Laksanakan tugas dengan baik,” tambahnya.

Dikatakannya, anggota Paskibraka mendapat kepercayaaan, amanat dan kehormatan dari pemerintah untuk mengibarkan bendera pusaka.

Untuk itu, Khofifah berharap, para anggota Paskibraka Jatim menjaga dan meneguhkan dedikasi terbaik, membangun karakter kuat untuk pengabdian masyarakat, bangsa dan negara serta tanah air Indonesia.

“Anak-anak semua sudah melakukan seleksi yang cukup ketat, disiplin dan berdedikasi. Oleh karena itu jagalah kepercayaan ini, amanat masyarakat bangsa dan negara. Berikan dedikasi terbaik,” imbuhnya.

“Kita melihat ananda Elysia Khansa sebagai Pemimpin Upacara yang sudah disiapkan dengan sangat baik. Ini adalah proses membangun niat dan komitmen bersama bahwa kita ingin membangun negeri ini dengan baik,” sambungnya.

Khofifah menambahkan, ada proses yang harus terus dilakukan, yakni proses berbenah bersama dan proses memperbaiki bersama.

Kepada orang tua anggota Paskibraka, Khofifah menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan yang diberikan serta memohon do’a demi kelancaran tugas Upacara Peringatan Kemerdekaan RI Tahun 2025 esok hari.

“Terima kasih kepada semua orang tua yang sudah berkesempatan hadir hari ini. Mohon doa panjenengan. Mudah-mudahan putra putri panjenengan yang mendapatkan tugas sebagai Anggota Paskibraka Provinsi Jatim bisa menjalankan amanah dengan tanggung jawab, baik dan lancar,” terangnya.

“Selamat betugas kepada anak-anakku. Kamipun akan memberseiringi proses yang besok akan dilaksanakan. Kami mohon juga untuk membersamai anak-anak dengan do’a. Sukses dan bisa memberikan yang terbaik untuk masyarakat bangsa dan negara,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Tim Pengendali Inflasi Sukses Kendalikan Harga Beras di Surabaya

SURABAYA-KEMPALAN: Pemkot Surabaya mengambil langkah proaktif untuk mencegah kenaikan harga beras, memastikan pasokan tetap stabil dan terjangkau bagi warga. Melalui kerja sama dengan berbagai pihak, Pemkot Surabaya berupaya keras menjaga kestabilan harga bahan pokok, terutama beras.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan bahwa Pemkot memiliki Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang secara khusus bertugas menjaga harga agar tidak melonjak. 
“Tim ini bekerja sama dengan Bulog dan berbagai pihak terkait untuk mengendalikan harga,” kata Wali Kota Eri, Jumat (15/8).

Menurut Wali Kota Eri, Pemkot Surabaya tidak khawatir mengenai pasokan beras karena sudah menjalin kerja sama dengan daerah-daerah penghasil beras. 
“Selama pasokan dari daerah lain terus terkirim sesuai dengan nota kesepahaman (MOU) yang ada, Insya Allah pasokan di Surabaya akan aman,” jelasnya.

Sementara itu,  Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan (Dinkopumdag) Surabaya Febrina Kusumawati menambahkan bahwa timnya fokus pada sisi harga. 

Ia menekankan bahwa Pemkot Surabaya akan terus memantau situasi dan bekerja sama dengan semua pihak terkait untuk memastikan harga beras di kota tetap terkendali.

“Kami berkoordinasi dengan Bulog, para supplier, dan BPS untuk memantau harga pasar secara rutin. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi kenaikan harga yang drastis,” imbuh Febri, sapaan akrabnya.

Febri juga menjelaskan pentingnya melakukan verifikasi informasi dari pedagang. “Kami mendapat laporan adanya kenaikan harga sekitar Rp500 hingga Rp1000 per kilogram, tetapi setelah kami cek, stok beras Bulog masih memadai dan harganya stabil. Jika Bulog bisa menjaga pasokan, seharusnya tidak ada gejolak harga,” jelasnya.

Terkait dugaan adanya beras oplosan, Febri menegaskan bahwa timnya belum menemukan bukti di lapangan. 

“Dugaan seperti ini harus dibuktikan melalui uji laboratorium. Kita tidak bisa hanya berasumsi. Hasil uji lab akan menjadi dasar untuk mengambil tindakan,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Dilepas Gubernur Khofifah, 25 Wanala UNAIR Gabung Tim Ekspedisi 80 Gunung Arjuno

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama Tim Wanala Unair.

SURABAYA-KEMPALAN: Sebanyak 25 mahasiswa pencinta alam (Wanala) Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya bergabung dengan Tim Ekspedisi 80 Gunung Arjuno yang dikomandani Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur Jumadi. Tim ini akan menjalankan misi pendakian ke Gunung Arjuno untuk memperingati HUT ke-80 Republik Indonesia  17 Agustus tahun 2025.

Dalam kesempatan ini Gubernur Khofifah bersama rektor UNAIR melepas Tim Wanala UNAIR dari Gedung Rektorat Kampus C UNAIR Surabaya, Jumat (15/8). Selanjutnya, hari ini mereka bergabung dengan Tim Ekspedisi 80 Gunung Arjuno untuk mengibarkan bendera merah putih dan melakukan penanaman pohon di Puncak Gunung Arjuno.

Gubernur Khofifah berpesan agar mereka memegang filosofi yang diajarkan Sunan Kalijaga  bahwa Urip iku Urup. Artinya hidup itu seharusnya bermanfaat dan memberikan kebaikan bagi orang lain, seperti api yang menyala dan memberikan terang serta kehangatan.

Melalui kegiatan tersebut, gubernur menyebut bahwa tim mahasiswa pencinta alam, Wanala UNAIR tengah bersiap mencetak sejarah. Pasalnya dalam misi pendakian dalam rangka HUT ke-80 Kemerdekaan RI ini mereka tidak hanya mendaki, tetapi juga menanam bibit Cemara Gunung dan Eukaliptus.

Gubernur Khofifah Indar Parawansa saat melepas Tim Wanala INAIR untuk bergabung dengan Tim Ekspedisi 80 Gunung. Arjuno

“Kita bersiap untuk membuat sejarah dari apa yang kita tanam nanti ada cemara gunung, ada eukaliptus. Harapannya akan muncul sumber air kehidupan,” ujarnya.

Sebanyak 10 bibit pohon cemara gunung diserahkan Khofifah secara simbolis kepada tiga perwakilan Wanala UNAIR untuk di tanam di Gunung Arjuno. Juga dilakukan penyerahan bendera merah putih dan bendera UNAIR.

Dua tanaman ini, lanjut Khofifah, memiliki akar yang kuat sehingga dapat membantu menjaga kestabilan tanah, mencegah erosi, terutama di daerah lereng atau perbukitan. Selain itu juga dinilai mampu menciptakan sumber air baru.

“Mudah-mudahan nanti dalam waktu yang tidak  lama sudah bisa menjadi sumber air, kita memberikan kehidupan pada yang lain,” katanya.

Lebih lanjut, Khofifah mengatakan bahwa memberikan kehidupan ini dimaksudkan bahwa apa yang ditanam saat ini akan memberikan dampak positif bagi alam, lingkungan dan masyarakat yang ada di lereng Gunung Arjuno.

“Sesuai pesan Sunan Bonang bahwa Urip iku gawe urup, kita hidup untuk memberi kehidupan yang lain,” terangnya.

Di kesempatan ini Khofifah juga berpesan kepada 25 orang mahasiswa UNAIR yang tergabung dalam Wanala Tim Ekspedisi 80 UNAIR Gunung Arjuno ini suatu saat untuk melihat kembali apa yang ditanam saat ini. Karena akan muncul kebanggaan tersendiri apabila yang ditanam bisa memberikan manfaat bagi alam dan masyarakat.

“Suatu saat kalau mendaki lagi ke Arjuno cek yang ditanam ini menjadi penting untuk mengecek apa yang sudah ditanam bagaimana tumbuh kembangnya,” katanya.

Khofifah berharap  ekspedisi ini akan menjadi tambahan bagi UNAIR sebagai kampus yang berdampak. Sebagaimana citra UNAIR saat ini dimana Times Higher Education menempatkan UNAIR pada peringkat 9 dunia sebagai Universitas yang berdampak.

“Kita sedang membuat sejarah baru bagi kebesaran UNAIR, yang mendapatkan apresiasi bahwa University impact UNAIR ini luar biasa diakui dunia, ini akan menambah jajaran prestasi, kontribusi dan pengabdian Universitas Airlangga. UNAIR luar biasa nomer 9 dunia, luar biasa, nomer 2 Asia nomer 1 ASEAN luar biasa, tentu menjaganya tidak sederhana,” terangnya.

Sebagai informasi Tim Ekspedisi 80 Gunung Arjuno UNAIR ini terdiri 15 mahasiswi dan 10 mahasiswa UNAIR yang telah melalui pemeriksaan kesehatan dan dinyatakan sehat untuk dapat melakukan pendakian. Seusai jadwal tim ini akan mulai berangkat mendaki Gunung Arjuno pada 16 Agustus pagi hari ini.

“Selamat jalan  pagi ini  mereka jalan mudah-mudahan semua lancar sehat sukses,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Nyali Persebaya Diuji “Pendekar Cisadane” Persita di  Stadion Indomilk Tangerang 

TANGGERANG -KEMPALAN :  Arek-arek green force Persebaya Surabaya akan melakoni pertandingan tandang ke kandang pendekar Cisadane julukan Persita Tangerang di stadion Indomilk markas Persita pada Sabtu 16 Agustus 2025.

Duel tim terluka ini bakal menjadi pembuktian seberapa siapnya kedua tim dalam kompetisi paling bergengsi di tanah air, Indonesia super League 2025.

Persebaya Surabaya datang ke markas pendekar Cisadane julukan Persita dengan kondisi tidak nyaman. Tim kebanggaan arek-arek Suroboyo ini dalam kondisi terluka akibat mengawali laga kandang di kandang sendiri stadion Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya di permalukan tim promosi PSIM Yogyakarta dengan skor 0-1. 

Nah dalam kondisi seperti ini pelatih Eduardo Perez diuji nyalinya apakah ia seorang Pelatih handal. Perez sendiri bertandang ke markas pendekar Cisadane julukan Persita Tangerang membawa komposisi tim yang sangat ideal. 

Ernando Ari Sutaryadi, Bruno Moreira, Fransisco Rivera, Leo Lelis , Malik Risaldi, Tony Firmansyah, Rahmat Irianto, dan juga Ichsan Baihaqi bisa jadi kekuatan utama tim Persebaya untuk mengembalikan marwah Persebaya sebagai tim besar yang selalu di nanti prestasinya.

Seperti di ketahui dalam beberapa pertemuan antara Persebaya vs Persita Tangerang selalu sulit di prediksi. Bahkan Persita Tangerang selalu menyulitkan tim lawan ketika main di kandang termasuk menjamu Persebaya Surabaya.

Pada kompetisi tahun ini dengan di sokongan pemain asing yang glamor tentu akan menjadi pembeda dan sulit di prediksi. 

Sementara itu Persita Tangerang mengawali kompetisi Indonesia super league juga tidak sempurna kala bertandang ke markas Persija Jakarta. Pendekar Cisadane di bantai Persija Jakarta dengan skor telak 4-0. Nah sebagai tuan rumah jelas Persita Tangerang tak ingin malu di kandang. 

Head coach Carlos Pena selain focus perbaikan timnya sendiri juga memperhatikan tim lawan. Pelatih asal Spanyol tentu sudah punya penangkal bagaimana cara mematikan pemain Persebaya asal negara Balkan plus pemain CONMEBOL dan CONCACAF.(Ambari Taufiq/ M Fasichullisan)

HUT ke-80 RI, Khofifah dan Ribuan Masyarakat Jatim Sholawat Bersama Habib Syech

SURABAYA-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa  bersama ribuan masyarakat  khusyu dalam gelaran dzikir, doa,  dan sholawat untuk mensyukuri 80 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Gelaran ini dipimpin langsung Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf di Halaman Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat (15/8) malam.

Tak hanya Gubernur Khofifah, Wakil Gubernur (Wagub) Jatim Emil Elestianto Dardak, Forkopimda Jatim, Sekdaprov Jatim Adhy Karyono, Kepala OPD dan BUMD Pemprov Jatim, tampak khusyuk bersama Syekhermania dari berbagai daerah di Jatim mengikuti seluruh rangkaian dzikir dan sholawat.

Suara khas Habib Syech diiringi Ahbaabul Musthofa menambah kekhusyukan lantunan Sholawat Sykhermania yang menggema. Beberapa nasyid yang dilantunkan antara lain Sholawat Asygil, Lir Ilir, Kisah Sang Rosul, Padang Bulan, Turi Putih, dan lainnya.

Dalam sambutannya, Khofifah mengatakan bahwa lantunan sholawat , doa, dan dzikir ini merupakan sarana memperkuat syukur atas nikmat kemerdekaan Indonesia yang telah memasuki tahun ke-80.

“Mudah-mudahan dalam nikmat kemerdekaan ini, Allah anugerahkan bangsa Indonesia baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur,” ujar Khofifah.

Orang nomor satu di Jatim ini melanjutkan, bangsa yang baik adalah bangsa yang tetap dan selalu bersyukur atas kemerdekaannya. Tidak hanya sebatas mengenang jasa para pahlawan pendahulu, tapi juga mengisi kemerdekaan dengan berbagai hal positif.

“Semoga masyarakat Jatim tetap guyup rukun, setiap tahun ditambahkan kesolehan kita, ibadah kita, dan keikhlasan kita serta terus memberikan pengabdian terbaik untuk masyarakat, bangsa dan negara,” pesannya.

Tradisi pelantunan sholawat, dan dzikir setiap rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan RI-80 ini bukan kali pertama di Jawa Timur. Sejak kepemimpinan periode pertama, Khofifah secara khusus membuka rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan dengan dzikir, doa, dan bersholawat. 

“Harapannya, makin banyak sholawat yang dibaca semoga makin teduh hati kita, makin sejuk Jawa Timur dan makin damai Indonesia,” ungkap Khofifah.

Selama kurang lebih dua jam, Khofifah dan ribuan masyarakat melantunkan dzikir , doa, dan sholawat mendoakan kebaikan dan keselamatan bangsa Indonesia khususnya Provinsi Jawa Timur agar terhindar dari segala bencana dan musibah.

“Mudah-mudahan 80 tahun Kemerdekaan Indonesia ini Allah makin limpahkan keberkahan untuk bangsa Indonesia, barokah untuk Jawa Timur dan kita semua,” katanya.

Senada dengan Gubernur Khofifah, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf juga mengajak seluruh masyarakat utamanya di Jawa Timur, untuk tidak lupa selalu bersyukur atas kenikmatan kemerdekaan yang dimiliki hingga saat ini.

Habib Syech bahkan secara khusus berterima kasih kepada Gubernur Khofifah karena telah memilih untuk mengawali rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan dengan lantunan sholawat.

“Buat Jawa Timur terus bersholawat. Bismillah Allah akan menurunkan rahmat khususon kepada Jawa Timur,” ucap Habib Syech.

“Mari kita tingkatkan iman, taqwa, rasa persaudaraan dan kerjasama untuk terus membangun Jawa Timur,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Perempuan Jawa, Era Kebebasan, dan Tik Tok

Oleh:
Faiz Rafdillah
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi
Universitas Sahid Jakarta

DI BALIK layar ponsel, tubuh-tubuh muda perempuan menari mengikuti irama pop global. Sekilas, ini hanyalah hiburan ringan: lambaian tangan, goyangan pinggul, senyuman manis diiringi lagu viral. Namun ketika seorang gadis bersanggul dan berkebaya tampil dalam joget yang memancing kontroversi, ruang komentar pun gaduh. Ada yang memuji kebebasan, ada pula yang mencaci: “Lho, kowe kuwi wong Jowo, kok ngono tumindake?”

Di era TikTok yang menyamaratakan gaya hidup, berjoget tak lagi sekadar hiburan. Ia menjadi simbol kebebasan, validasi, dan bahkan afirmasi identitas. Namun bagi sebagian perempuan Jawa, kebebasan itu berbenturan dengan nilai budaya tempat mereka tumbuh, alusing budi, empu rasa, dan ajining diri.

Dalam tradisi Jawa, perempuan diajarkan untuk eling lan waspada, menjaga sikap, dan tahu tempat. Maka, setiap gerak tubuh di ruang digital bisa dianggap menyalahi kodrat sosial yang diwariskan.

Lantas, apakah mereka berjoget sekadar untuk hiburan, atau sedang memperjuangkan ruang untuk dilihat dan didengar? Apakah ini bentuk perlawanan terhadap nilai lama, atau negosiasi antarbudaya yang senyap? Ketika jari menari di layar, budaya yang kita kenal bisa terguncang, atau justru bertransformasi.

Budaya Jawa dan Konstruksi
Perempuan Ideal

Di tengah derasnya modernitas, budaya Jawa masih memegang konstruksi kuat tentang perempuan: lemah lembut, tahu malu, berbudi, dan menjaga martabat keluarga. Nilai seperti ajining diri soko lathi, ajining raga soko busana menjadi pondasi moral perempuan sejak dini. Ini bukan semata bentuk pengekangan, tapi cara menjaga harmoni dan tata krama.

Namun di media sosial, tafsir atas “martabat” menjadi lebih cair. Perempuan yang menari di TikTok, berbicara lantang, dan mengekspresikan tubuhnya langsung bersinggungan dengan nilai tersebut. Ada yang melihatnya sebagai pembebasan, ada pula yang menilainya sebagai hilangnya identitas kultural.

Dalam komunikasi antarbudaya, ketegangan ini mencerminkan pertemuan dua sistem nilai: budaya lokal yang kolektif, dan media baru yang individualistik. TikTok sebagai ruang ekspresi digital tak mengenal batas budaya. Tapi masyarakat, terutama yang menjunjung nilai lokal, menilainya dari lensa adat dan sopan santun.

Joget di TikTok kini menjadi bahasa sosial. Ia menyampaikan pesan, menarik perhatian, dan menegaskan eksistensi. Bagi anak muda, ini adalah cara membentuk identitas di dunia maya. Namun dalam konteks Indonesia, khususnya Jawa, joget dahulu adalah bagian dari pertunjukan yang teratur, punya panggung dan tata waktu. Kini, ia bisa muncul di kamar, teras, bahkan sawah, ruang publik dan privat melebur.

Perempuan muda Jawa yang dahulu diajarkan untuk nyadhong rasa (menahan diri), kini memiliki panggung sendiri untuk bicara lewat tubuh. Ini menimbulkan gesekan: sebagian masyarakat menganggap joget TikTok merusak citra perempuan, apalagi jika gerakannya sensual atau busananya terbuka. Namun banyak pula yang membela sebagai hak atas tubuh dan ekspresi sah.

TikTok menjadi arena tarik-menarik antara norma dan ekspresi, adat dan modernitas, lokal dan global. Di pusaran itu, perempuan Jawa bukan lagi penonton, mereka aktor utama yang sedang menulis ulang narasi tubuh, budaya, dan martabatnya.

Budaya dan Media Digital:
Konflik atau Evolusi?

Pertemuan budaya tradisional dan media digital bukan sekadar konflik nilai, tapi medan dialektika. Budaya tak pernah diam, dan media baru bukan hanya hiburan, tapi arena evolusi kultural. Apakah kita menyaksikan keruntuhan norma atau lahirnya bentuk baru budaya?

Dalam perspektif komunikasi antarbudaya, ini disebut cultural convergence: pertemuan dan percampuran nilai. Ketika budaya Jawa yang menjunjung tata krama bertemu logika algoritma, yang mengejar engagement, viralitas, dan ekspresi bebas, terjadi benturan sekaligus pembaruan.

Apakah perempuan Jawa yang berjoget kehilangan identitasnya? Atau justru sedang mengartikulasikan eksistensinya di tengah zaman? Tak ada jawaban tunggal. Budaya bukan monumen; ia bergerak. Lewat media digital, budaya bisa diperluas, dijangkau, bahkan diredefinisi oleh generasi yang hidup bersamanya.

Namun tak bisa diabaikan, media sosial bekerja dengan logika yang keras. Validasi datang dari jumlah suka, komentar, dan berbagi. Maka tak heran jika banyak perempuan muda terjebak dalam siklus konten yang mengundang perhatian. Joget yang dulu untuk diri sendiri, kini menjadi alat bertahan di hadapan algoritma. Gerakan sensual atau busana mencolok lebih dianggap “layak tayang” dibanding yang biasa.

Di sinilah terjadi negosiasi antara budaya algoritma dan nilai komunal. Tradisi yang dibentuk oleh kebersamaan harus berhadapan dengan sistem digital yang menilai berdasarkan angka. Ini bukan hanya tentang budaya dan teknologi, tetapi tentang bagaimana perempuan, terutama dari latar budaya seperti Jawa, menavigasi dirinya sendiri, audiens, dan sistem digital.

Apakah tubuh mereka hanya sekadar konten? Atau justru sedang mengklaim panggung yang selama ini tak tersedia? Lagi-lagi, jawabannya tak Tunggal, hanya ruang tafsir yang terus terbuka.

Apa yang dianggap tabu di satu budaya bisa lumrah di tempat lain. Tapi di era digital, batas-batas ini makin kabur. Joget di TikTok mungkin tampak sepele, tapi menyimpan dinamika: antara nilai lama dan tuntutan baru, antara hasrat eksistensi dan beban identitas.

Kita perlu bijak dalam menilai. Tidak gegabah menghakimi, tapi juga tak abai terhadap dampaknya. Media digital bukan musuh, begitu pun tradisi. Yang dibutuhkan adalah kesadaran kritis bahwa setiap tindakan, termasuk berjoget di TikTok, menyimpan tafsir yang lebih dalam dari yang tampak.

Dan bagi perempuan Jawa yang kini menari di depan kamera, mungkin itu bukan sekadar gerakan tubuh. Tapi sebuah narasi: bahwa mereka pun berhak tampil, bersuara, dan menentukan identitas mereka sendiri. Meski jalannya tidak selalu mudah. (*)

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.