Rabu, 20 Mei 2026, pukul : 01:32 WIB
Surabaya
--°C

Di Negeri Merdeka Perjuangan Lebih Sulit

Delapan puluh tahun sudah Indonesia berdiri sebagai bangsa merdeka, setelah melalui jalan panjang penuh darah, keringat, dan air mata.

Bung Karno, sang putra fajar, pernah mengucapkan kata-kata yang hingga kini masih terngiang dengan penuh makna: “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Sebuah pesan yang ternyata bukan sekadar retorika sejarah, melainkan nubuat yang terus terasa kebenarannya di setiap babak perjalanan bangsa ini.

Jika kita menoleh ke belakang, perjuangan generasi 1945 memang jelas: mengusir penjajah yang datang dari luar.

Mereka berjuang menghadapi musuh yang kasat mata, membawa senjata, dan menancapkan kekuasaan atas negeri ini.

Tetapi kini, setelah genap delapan dasawarsa merdeka, siapa sesungguhnya musuh bangsa?

Bukan lagi Belanda atau Jepang, melainkan justru sesama anak negeri yang kadang tega menindas rakyatnya sendiri, melanggengkan kekuasaan dengan cara sewenang-wenang, atau melupakan sumpah jabatannya.

Seperti kata pepatah, musuh dalam selimut lebih berbahaya daripada seribu pasukan asing di medan perang.

Realitas hari ini menunjukkan bagaimana “kegaduhan” sering kali menyeruak tanpa permisi di negeri yang digambarkan dalam lagu Koes Plus sebagai tanah surga, “tongkat kayu dan batu jadi tanaman.”

Negeri yang seharusnya gemah ripah loh jinawi justru kerap diwarnai oleh konflik, perpecahan, dan perseteruan antar anak bangsa sendiri.

Alih-alih bersatu untuk memajukan negara, energi bangsa justru terkuras oleh pertarungan kepentingan politik, perebutan kekuasaan, dan praktik korupsi yang merajalela.

Seandainya Bung Karno masih hidup, mungkin ia akan berkata dengan tegas “Lho, betul ta omonganku dulu?” Sebab yang kita saksikan hari ini tak jarang memang benturan antara pemimpin dan rakyatnya sendiri.

Ada pemimpin yang tak paham arti sumpah jabatan, seolah-olah janji di hadapan Tuhan hanyalah formalitas.

Ada pula yang lebih sibuk menjaga kepentingan pribadi atau kelompoknya daripada mengabdi kepada rakyat yang memberi amanah.

Padahal sejarah telah membuktikan bahwa bangsa yang besar hanya bisa bertahan jika pemimpinnya memiliki jiwa besar, kerendahan hati, dan keberanian moral.

Dalam konteks ini, menarik pandangan pakar ilmu politik dari Harvard, Samuel P. Huntington, yang menyebut bahwa tantangan terbesar bagi negara-negara berkembang bukanlah ancaman dari luar, melainkan political decay atau pembusukan politik dari dalam.

Ketika institusi negara lemah, ketika pemimpin gagal memberi teladan, dan ketika hukum hanya tajam ke bawah namun tumpul ke atas, maka rakyat akan merasa berhadapan dengan bangsanya sendiri.

Kata-kata Bung Karno kembali menemukan relevansinya bahwa perjuangan melawan saudara sebangsa jauh lebih sulit dan menyakitkan daripada melawan penjajah asing.

Namun, bukan berarti kita harus tenggelam dalam pesimisme. Justru di sinilah tantangan generasi muda Indonesia menemukan maknanya.

Bung Karno pernah berujar dengan penuh keyakinan: “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.” Pesan ini seakan menjadi wasiat bagi anak bangsa di era modern.

Pemuda tidak lagi dituntut mengangkat bambu runcing, tetapi mengangkat kesadaran, kejujuran, serta integritas dalam menghadapi “penjajahan” baru berbentuk korupsi, kesewenang-wenangan, kebodohan, dan perpecahan.

Generasi muda harus belajar dari sejarah, bukan sekadar mengagungkan romantisme masa lalu.

Mereka perlu berani berkata tidak pada praktik kotor yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Mereka perlu tampil sebagai patriot sejati yang gagah berani melawan arus pragmatisme.

Dalam dunia yang semakin kompleks, pemuda juga ditantang untuk tidak hanya jujur, tetapi juga cerdas, adaptif, dan visioner.

Perjuangan melawan sesama bangsa sendiri mungkin sulit, tetapi bukan mustahil jika ada komitmen bersama untuk membangun bangsa dengan semangat guyub, rukun, dan penuh kesadaran moral.

Dalam banyak hal, perjalanan bangsa ini memang seperti lingkaran. Setelah merdeka, kita dihadapkan lagi pada pertarungan internal yang terus berulang, diantaranya konflik elit politik, kesenjangan sosial, hingga krisis moral.

Tetapi justru karena siklus itu terus ada, kita dituntut untuk menemukan energi baru dalam menghadapi zaman.

Bung Karno mewariskan api semangat, dan api itu hanya akan terus menyala jika dijaga oleh jiwa-jiwa muda yang berani menolak tunduk pada keadaan.

Peringatan 80 tahun kemerdekaan saat kini, memaknai kita layak bertanya, apakah kita sudah benar-benar merdeka? Ataukah kita hanya berpindah dari penjajahan asing menuju penjajahan oleh saudara sebangsa?

Apakah janji kemerdekaan telah dirasakan merata oleh rakyat kecil, atau hanya oleh segelintir orang yang menguasai sumber daya bangsa?

Pertanyaan ini tidak boleh dibiarkan menggantung, karena jawaban sejatinya ada pada tindakan kita hari ini.

Merdeka sejati bukan sekadar bebas dari penjajahan asing, melainkan juga bebas dari penindasan sesama anak negeri.

Merdeka berarti hidup dalam damai, guyub, dan rukun, sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa. Karena itu, mari jadikan peringatan 80 tahun kemerdekaan sebagai momentum untuk merenung, memperbaiki diri, dan memperbaharui komitmen kebangsaan.

Jika tidak, maka kata-kata Bung Karno akan terus menjadi cermin pahit: perjuangan melawan bangsa sendiri adalah perjuangan paling sulit.

Maka, wahai anak muda Indonesia, jadilah patriot sejati. Jangan biarkan semangatmu dikalahkan oleh kegaduhan politik atau godaan pragmatisme. Angkatlah jiwa besar, jujur, dan penuh tafakur.

Sebab hanya dengan cara itulah kita bisa membuktikan bahwa bangsa ini masih layak disebut bangsa besar. Dan hanya dengan cara itu pula kita bisa benar-benar merdeka hingga akhir masa.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-80. Merdeka!

Oleh Bambang Eko Mei

              ******
forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.