Rabu, 20 Mei 2026, pukul : 14:17 WIB
Surabaya
--°C

In Memoriam Adi Sutarwijono: Sosok Politisi Demokratis, Tak Masalah Kiriman Beritanya soal Pilpres 2024 Ditolak

SURABAYA-Ketua DPRD Kota Surabaya Adi Sutarwijono atau Awi meninggal dunia, Selasa (10/2). Politisi PDI Perjuangan itu menghembuskan nafas terakhir karena menderita sakit kanker hati.

Sebelumnya, Ketua DPRD Surabaya Adi Sutarwijono dikabarkan menjalani perawatan di rumah sakit secara intensif di Jakarta. Awi sapaan akrabnya itu tengah berjuang melawan kanker hati yang dideritanya.

Jenazah Awi akan disemayamkan di rumah duka Grand Heaven Surabaya. Saat ini keluarga sedang mengurus administrasi di RS, setelah selesai akan dikremasi di Grand Heaven Surabaya.

Pengalaman pribadi penulis, Adi Sutarwijono adalah sosok politisi demokratis, walaupun terhadap orang yang berbeda pandangan politik dengannya. Penulis masih ingat pada saat pemilihan presiden 2024,  Adi Sutarwijono mengirimkan materi-materi berita terkait pilpres 2024. Penulis sampaikan, “Maaf Pak Adi, kalau soal pilpres saya tidak bisa ambil.” “Iya Mas,” jawab Adi Sutarwijono.

Penolakan penulis tidak menyebabkan Adi Sutarwijono menghentikan pengiriman berita dan komunikasinya dengan penulis. Konten-konten lain yang tidak terkait pilpres 2024 tetap diberikannya kepada penulis. Selamat jalan Pak Adi Sutarwijono. Tuhan Sang Maha Kasih kiranya memberikan kekekalan dan peristirahatan bersama kasih-Nya. (Freddy Mutiara)  

Liverpool Krisis Bek Kanan, Begini Kata Arne Slot

SUNDERLAND-KEMPALAN: Liverpool FC mengalami permasalahan klasik jelang menantang Sunderland AFC di Stadium of Light, Sunderland, Kamis dini hari WIB (12/2).

Permasalahan klasik tersebut adalah krisis bek kanan. Itu setelah salah satu bek kanan andalannya, Dominik Szoboszlai, harus absen dalam laga tersebut lantaran terkena kartu merah saat dipecundangi Manchester City, Minggu (8/2).

Ketika Szobo (sapaan akrab Szoboszlai) terkena kartu merah, dua bek kanan LFC lainnya Jeremie Frimpong dan Conor Bradley mengalami cedera. Frimpong yang cedera hamstring, Bradley cedera lutut.

Padahal, baik Frimpong ataupun Bradley sama-sama memiliki posisi asli sebagai bek kanan. Berbeda dengan Szobo yang posisi aslinya sebagai gelandang serang. Curtis Jones dan Joe Gomez jadi dua opsi tersisa sebagai bek kanan.

’’Joe belum pernah berlatih bersama kami. Aku mengharapkannya hadir hari ini (Selasa, Red) untuk kali pertama,’’ sebut tactician LFC Arne Slot, dilansir di laman Evening Standard.

’’Jika Joe belum siap sebagai starter, maka kami kehilangan empat pemain starter yang pernah bermain sebagai bek kanan. Curtis (Jones) dan (Wataru) Endo juga pernah main di posisi ini, jadi kita sudah punya enam bek kanan berbeda,’’ lanjut Slot.

BACA JUGA: Arne Slot Buktikan Liverpool Bisa Menang Tanpa Mo Salah

Sepeninggal Trent Alexander-Arnold yang angkat koper dari LFC ke Real Madrid, musim panas lalu, klub berjuluk The Reds itu memang berganti-ganti pemain di posisi bek kanan.

Selain Szobo, Bradley, Frimpong, Jones, dan Gomez, juga ada Jarell Quansah yang juga bermain sebagai bek kanan. Bedanya, Quansah baru bermain sekali sejak era Slot.

Sejatinya, LFC juga punya satu lagi opsi bek kanan. Yaitu bek kanan yang berusia 22 tahun, Calvin Ramsay. Musim ini, Ramsay baru sekali bermain saat ajang Piala Liga. Slot tidak mengecilkan peran Ramsay untuk jadi opsi bek kanan pada laga lawan Sunderland itu.

’’Aku telah memilih pemain lain sampai sekarang, dan itulah juga yang akan aku lakukan besok (Kamis dini hari WIB, Red),’’ tegas pelatih berdarah Belanda itu. (YMP)

Antisipasi Virus Nipah, Warga Surabaya Diminta Terapkan PHBS

Sekda Kota Surabaya Lilik Arijanto. (Foto: Ist)

SURABAYA-KEMPALAN: Pemkot Surabaya resmi menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 400.7.7.1/3316/436.7.2/2026 tentang Kewaspadaan Terhadap Penyakit Virus Nipah. Kebijakan ini dikeluarkan sebagai langkah antisipatif untuk meningkatkan kewaspadaan dini serta upaya pencegahan bersama terhadap potensi masuknya penyakit menular tersebut ke wilayah Kota Surabaya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Surabaya Lilik Arijanto mengatakan, penerbitan SE ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/C/445/2026 tertanggal 30 Januari 2026.

Menurutnya, meskipun hingga saat ini belum terdapat laporan kasus konfirmasi Penyakit Virus Nipah pada manusia di Indonesia, seluruh pihak tetap diminta untuk meningkatkan kewaspadaan.

“Berdasarkan informasi dari Kementerian Kesehatan, sampai saat ini belum ada laporan kasus Virus Nipah pada manusia di Indonesia. Namun kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan, mengingat kedekatan geografis dan tingginya mobilitas penduduk dengan negara-negara yang pernah melaporkan kejadian penyakit tersebut,” kata Lilik, Selasa (10/2).

Ia menambahkan, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa Virus Nipah pernah ditemukan pada kelelawar buah di Indonesia. Kondisi ini dinilai berpotensi menjadi sumber penularan apabila tidak diantisipasi dengan langkah pencegahan yang tepat oleh masyarakat.

Dalam SE tersebut dijelaskan bahwa Virus Nipah merupakan penyakit menular yang dapat berpindah dari hewan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh Virus Nipah yang secara alami terdapat pada kelelawar buah. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, hewan perantara, maupun melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.

Lilik menyebutkan, gejala yang dapat timbul akibat infeksi Virus Nipah cukup beragam, mulai dari demam, sakit kepala, nyeri otot, lemas, batuk, pilek, sakit tenggorokan, mual, muntah, diare, nyeri perut, hingga gangguan pernapasan atau penurunan kesadaran pada kondisi yang lebih berat. Gejala tersebut dapat muncul beberapa hari hingga beberapa minggu setelah seseorang terpapar virus.

“Gejala awal sering kali mirip flu biasa, sehingga masyarakat tidak boleh menganggap remeh. Apalagi jika memiliki riwayat kontak dengan hewan atau perjalanan ke wilayah yang pernah melaporkan kasus Virus Nipah,” katanya.

Dalam edaran tersebut, Pemkot Surabaya juga memaparkan sejumlah kondisi yang dapat meningkatkan risiko penularan, antara lain mengonsumsi nira atau air aren mentah yang langsung diambil dari pohon, kontak dengan air liur atau urin hewan yang terkontaminasi, mengonsumsi buah yang telah tergigit kelelawar, melakukan aktivitas berburu kelelawar, hingga beraktivitas di sekitar pasar hewan liar atau perkebunan buah.

“Selain itu, risiko juga meningkat bagi masyarakat yang memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara yang pernah melaporkan kasus Virus Nipah, seperti India, Bangladesh, Singapura, dan Filipina, serta bagi mereka yang melakukan kontak erat dengan orang yang diduga terinfeksi,” ujar dia.

Untuk mencegah penyebaran penyakit, Pemkot Surabaya mengimbau masyarakat agar tidak mengonsumsi nira atau air aren mentah dan memastikan nira dimasak hingga matang sebelum dikonsumsi. Masyarakat juga diminta mencuci dan mengupas buah sebelum dikonsumsi, membuang buah yang terdapat bekas gigitan hewan, serta hanya mengonsumsi daging ternak yang dimasak hingga matang dan tidak mengonsumsi hewan yang sakit.

“Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sangat penting, mulai dari mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, menerapkan etika batuk dan bersin, hingga menggunakan masker apabila sedang mengalami gejala sakit,” jelasnya.

Ia juga menegaskan pentingnya menghindari kontak langsung dengan hewan ternak seperti babi dan kuda yang sakit atau diduga terinfeksi. Apabila terpaksa melakukan kontak, masyarakat diwajibkan menggunakan alat pelindung diri sesuai protokol kesehatan. Selain itu, masyarakat diminta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan selalu merujuk pada sumber resmi pemerintah untuk menghindari hoaks.

“Kalau ada gejala yang mengarah ke Virus Nipah, segera periksa ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Deteksi dini sangat penting untuk mencegah penularan lebih luas,” tegasnya.

Tidak hanya masyarakat, Pemkot Surabaya juga meminta seluruh perangkat daerah, camat, dan lurah untuk meningkatkan kewaspadaan di wilayah masing-masing. Langkah yang ditekankan antara lain melakukan pemantauan aktif terhadap potensi risiko kesehatan, mendukung penyebarluasan informasi yang benar kepada masyarakat, serta menggerakkan peran RT/RW, kader, dan tokoh masyarakat dalam upaya kewaspadaan dini.

Disamping itu, warga juga diimbau untuk meningkatkan kebersihan lingkungan melalui kerja bakti dan pengawasan terhadap area yang berpotensi menjadi habitat hewan penular, seperti pohon buah yang sering menjadi tempat tinggal kelelawar.

Jika ditemukan informasi atau kejadian yang berpotensi mengarah pada Penyakit Virus Nipah, diharapkan segera dilaporkan secara berjenjang melalui puskesmas setempat dan Dinas Kesehatan.

“Seluruh jajaran di tingkat wilayah harus siap memfasilitasi tim kesehatan dari Dinas Kesehatan atau puskesmas dalam melakukan pelacakan dan penyelidikan epidemiologi apabila diperlukan tindakan intervensi kesehatan,” tandasnya. (Dwi Arifin)

Lewat Annual Gathering 2026, ITS Satukan Langkah Pimpinan dan Sivitas

Surabaya-Untuk lebih menyatukan langkah menuju institusi yang lebih baik, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menyelenggarakan Annual Gathering 2026 dengan konsep Town Hall sebagai forum pertemuan terbuka antara pimpinan dan sivitas ITS, Selasa (10/2). Mengusung tema Pimpinan Menyapa, Sivitas Bicara, kegiatan yang digelar di Grha Sepuluh Nopember ITS ini menandai komitmen bersama menuju ekosistem kampus yang inklusif, kolaboratif, dan berdampak.

ITS selalu menyediakan ruang di mana pimpinan dan sivitas dapat saling menyapa, saling mendengar, dan saling memahami. Dengan hadirnya pimpinan tiga pilar tertinggi ITS, yaitu Rektor, Ketua Senat Akademik, dan Ketua Majelis Wali Amanat (MWA), ITS berkomitmen untuk mewujudkan kepemimpinan partisipatif yang melibatkan seluruh sivitas dalam menentukan arah pengembangan ITS ke depan.

Dalam pidatonya, Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD memaparkan bahwa forum ini bertujuan untuk memastikan seluruh elemen di lingkungan ITS melangkah dalam arah dan gerak yang sama. Tujuan tersebut diwujudkan melalui ruang dialog antarsivitas sekaligus pemaparan target kinerja ITS tahun 2026 sebagai pijakan dalam menjalankan agenda institusi.

Bambang menekankan pentingnya penguatan energi kolektif agar setiap upaya kerja dilakukan dengan lebih cerdas dan terarah. Menurutnya, potensi besar yang dimiliki sivitas perlu dihimpun menjadi kekuatan bersama yang mampu menghasilkan perubahan bagi institusi dan masyarakat. “Kesatuan langkah akan menentukan seberapa jauh dampak yang dapat kita hasilkan bersama,” tegas Guru Besar Teknik Mesin ITS tersebut mengingatkan.

Sejalan dengan itu, arah gerak institusi diprioritaskan pada penguatan ITS sebagai perguruan tinggi yang tangguh, berdampak, dan mendunia. Bambang menegaskan bahwa prioritas tersebut ditopang oleh infrastruktur fisik dan teknologi informasi yang andal serta tata kelola sumber daya yang profesional. “Kami ingin memastikan fondasi kelembagaan yang kuat agar setiap langkah pengembangan memberikan manfaat nyata,” imbuhnya optimistis.

Menurut Bambang, tujuan dan program strategis tersebut diarahkan untuk menghasilkan lulusan unggul dan siap bersaing. Lelaki kelahiran Yogyakarta tersebut menekankan bahwa kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor penentu agar kontribusi institusi dapat menembus tingkat internasional. “Seluruh inisiatif ini dirancang agar ITS semakin berkontribusi pada kemajuan bangsa di tingkat global,” ucapnya.

Dalam mendukung capaian tersebut, Ketua Senat Akademik ITS Prof Dr Ir Adi Soeprijanto MT menegaskan bahwa senat akademik juga memegang peran kunci dalam mendukung capaian institusi dengan mengawasi penyelenggaraan kegiatan akademik. “Komitmen ini diwujudkan melalui evaluasi terhadap mutu akademik, pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, dan kepatuhan terhadap regulasi,” papar Guru Besar Teknik Elektro ITS ini.

Selaras dengan Adi, Ketua MWA ITS Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD turut menyatakan kesiapannya untuk menjaga arah kebijakan institusi. Guru Besar Teknik Sipil ITS ini menjelaskan bahwa kewenangan MWA tersebut mencakup penetapan nilai dan norma, penentuan arah strategis, dan pengangkatan serta evaluasi pimpinan. “Peran kami (MWA) menjadi penopang agar setiap keputusan strategis tetap selaras dengan visi ITS,” urai mantan Rektor ITS yang biasa disapa Probo ini.

Dalam rangkaian kegiatan annual gathering ini, Rektor ITS juga menyerahkan beberapa penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi sivitas ITS selama 2025. Momentum Rector Awards ini mempertegas keselarasan langkah ITS dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Di antaranya adalah poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, poin ke-16 terkait Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh, serta poin ke-17 yaitu Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Melalui apresiasi tersebut, ITS mendorong terciptanya budaya kolaboratif antarsivitas.

Sulfikar Amir: APBN adalah Amanah Kesejahteraan Rakyat, Bukan Instrumen Belanja Politik

JAKARTA– Gerakan Rakyat secara resmi mengumumkan 10 poin rekomendasi strategis hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I pada 17-18 Januari 2026, di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta Pusat (Jakpus), untuk ditujukan kepada pemerintah.

Rekomendasi tersebut mencakup berbagai aspek fundamental, mulai dari perbaikan sistem politik hingga akuntabilitas keuangan negara.

Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan dalam rekomendasi eksternal itu mengenai komitmen pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Gerakan Rakyat menyoroti pentingnya menjaga integritas anggaran agar tidak disalahgunakan untuk kepentingan pragmatis.

“Anggaran negara adalah amanah rakyat untuk kesejahteraan bersama, bukan instrumen belanja politik. Pengelolaan anggaran yang bijak berarti memastikan kebutuhan rakyat, dari pelayanan publik hingga perlindungan sosial terpenuhi secara berkelanjutan,” tegas Sulfikar Amir dalam pernyataannya, dikutip Senin (9/2/2026).

Gerakan Rakyat memandang bahwa efektivitas anggaran sangat bergantung pada ketajaman prioritas pemerintah. Oleh karenanya, pengalokasian dana harus diarahkan pada sektor-sektor yang mampu memberikan dampak ekonomi jangka panjang bagi masyarakat luas.

Dengan begitu, Sulfikar mendesak pemerintah agar melakukan evaluasi mendalam terhadap setiap program kerja yang berjalan. “Tajamkan prioritas belanja negara pada sektor produktif, evaluasi berkala program pemerintah, dan dukung transparansi anggaran yang melibatkan publik,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Gerakan Rakyat menegaskan bahwa kemajuan bangsa bergantung pada kemampuan negara dan masyarakat bekerja sama untuk memperkuat demokrasi, menegakkan keadilan sosial, serta menjamin hak dasar setiap warga. Rekomendasi eksternal ini dapat menjadi kompas perjuangan bersama “untuk rakyat, oleh rakyat, dan demi masa depan Indonesia yang berdaulat dan berkeadilan”.

“Oleh karena itu pandangan kami terus menatap bersama rakyat dan juga bergerak dalam urat jadi kemajuan bangsa,” tutup Sulfikar.

Sejarah Surabaya yang Hilang atau Dihilangkan, Achmad Hidayat: Bangun Peradaban dari Api Perjuangan

SURABAYA-Perjalanan Panjang Kota Surabaya sejak bernama Ujung Galuh hingga saat ini harus dirangkai dalam literasi ilmiah dan pencatatan yang utuh sebagai dasar edukasi bagi generasi penerus dalam menjaga rel pembangunan Kota Pahlawan.

Kota Surabaya sampai saat ini dominan identik sebagai Kota Pahlawan karena Pertempuran 10 November 1945 dan Kisah “Sawunggaling” yang mendunia karena perjalanan kehidupannya.

Di atas itu selain Kemenangan Raden Wijaya dalam mengusir tentara Tar- Tar di Ujung Galuh dengan semboyannya yang membumi “Satyam Eva Jayate” kebenaran pasti akan menang, ternyata ada kisah yang belum didicatatkan secara komprehensif.

Wajah Toleransi dibentuk sebagai peradaban yang harmoni dengan berbagai macam suku, agama, ras bisa bergandengan tangan pada Era Ki Ageng Supo “Sunan Bungkul” dilanjutkan dengan Sunan Ampel.

Panji Wiryakrama pada Abad ke 16 menjalin aliansi Politik dengan Raja Pajang Sultan Hadiwijaya dengan menikahi putrinya. Kedudukan dan legitimasi sebagai Adipati Surabaya semakin kokoh dengan status menantu Raja Pajang, Adipati Surabaya dan Mampu mengkoordinir Brang Wetan (Jawa Timur) saat ini.

Kelak Panji Wiryakrama memiliki keturunan bergelar Panembahan Jayalengkara yang mampu menahan hegemoni Mataram era Sultan Agung dalam pengepungan panjang Surabaya.

Kisah Panembahan Jayalengkara jarang didalami, dilakukan observasi ilmiah dan peninggalannya padahal sarat akan nilai sejarah sebagai bekal membangun peradaban.

Pusat kekuasaan Surabaya pada era Panembahan Jayalengkara yang bertahta 1601-1625 terletak di Wilayah Bungkul. Daerah Bungkul sendiri adalah kawasan strategis karena merupakan hulu dua sungai besar di Surabaya yaitu Kali Mas dan Kali Jagir.

“Ini kan perlu didalami oleh Pemerintah Kota, para sejarawan, budayawan dan peneliti agar kita tidak kepaten Obor. Seperti pesan Bung Karno agar kita tidak sekali- sekali melupakan sejarah”, kata tokoh Surabaya Achmad Hidayat.

Dirinya juga mengaitkan dengan penemuan makam kuno di wilayah Darmo 12 Tahun lalu bertuliskan Jawa kuno dan batu nisan menyerupai mahkota dalam kawasan Bungkul yang sekarang menjadi restoran dan hilang tanpa jejak.

“Kalau ada makam kuno itu merupakan jejak sejarah vital, di area Bungkul apa masih ada kaitan dengan sunan bungkul atau peradaban era Panembahan Jayalengkara. Harus menjadi perhatian kita semua”, tegasnya

Ia juga meminta agar pengampu kepentingan bisa memperhatikan pesan Presiden Prabowo Subianto agar kepala daerah dan lintas sektor bisa menjaga , merawat dan melestarikan bangunan cagar budaya.

“Bangun peradaban dengan api perjuangan para pendahulu kita, seperti pesan Bung Karno warisi apinya bukan abunya”, imbuhnya.

Sosialisasi Empat Pilar, LaNyalla Ajak Generasi Muda Maknai Pancasila sebagai Navigasi Kehidupan Bangsa

SURABAYA, Anggota MPR RI yang juga anggota DPD RI daerah pemilihan Jawa Timur, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, menyoroti cara pandang generasi muda terhadap Pancasila yang dinilainya kian memprihatinkan. Ia menilai, melemahnya pemahaman tersebut menjadi sinyal serius bagi masa depan ideologi bangsa.

Hal itu diungkapkannya saat kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR dengan tema “Pancasila Sebagai Navigasi Generasi Muda” yang digelar di Surabaya, Selasa (10/2/2026).

LaNyalla mencontohkan fenomena yang belakangan ramai di media sosial, salah satunya tayangan YouTube yang menampilkan wawancara acak dengan siswa di sekolah. Dalam tayangan tersebut, sejumlah siswa tidak mampu menyebutkan sila-sila Pancasila secara lengkap dan berurutan. “Yang membuat miris adalah ada beberapa siswa yang tidak hafal Pancasila,” ujar LaNyalla.

Kondisi tersebut diperkuat oleh hasil survei Setara Institute pada Mei 2023 terhadap siswa SMA di lima kota besar di Indonesia. Salah satu temuan menyebutkan bahwa 83,3 persen responden menganggap Pancasila bukan ideologi permanen dan bisa diganti.

Menurut Ketua DPD RI periode 2019–2024 tersebut, temuan itu menunjukkan bahwa sebagian generasi muda tidak lagi memandang Pancasila sebagai sesuatu yang sakral. “Artinya, generasi muda mungkin tidak menganggap Pancasila sebagai karya para pendiri bangsa yang bersifat final, melainkan sebagai kesepakatan yang harus terus dibuktikan manfaatnya dalam kehidupan nyata,” katanya.

Ia menjelaskan, ada sejumlah faktor yang memengaruhi persepsi tersebut. Faktor pertama adalah kesenjangan nilai antara teks Pancasila dan realitas yang dirasakan anak muda. “Sila kelima bicara keadilan, tapi yang mereka lihat justru korupsi dan ketimpangan ekonomi,” ujarnya.

Faktor kedua adalah cara penyampaian Pancasila yang dinilai kurang relevan dengan kehidupan generasi muda. LaNyalla menilai pendekatan yang terlalu teoritis dan formal membuat Pancasila terasa jauh dari persoalan nyata, seperti mencari pekerjaan dan tantangan hidup anak muda.

Selain itu, paparan ideologi global melalui media sosial juga turut membentuk cara pandang generasi muda. “Mereka terpapar liberalisme, hedonisme, hingga paham keagamaan ekstrem yang sering menawarkan solusi instan atas masalah sosial,” kata LaNyalla.

Ia menegaskan, kondisi tersebut merupakan persoalan serius bagi bangsa. “Fenomena banyaknya generasi muda yang tidak memahami, bahkan tidak hafal Pancasila, adalah warning atau alarm bagi bangsa,” tegasnya.

LaNyalla mengibaratkan Pancasila sebagai navigasi kehidupan berbangsa. “Dalam bahasa gaulnya, Pancasila itu Google Map untuk kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan, nilai-nilai Pancasila tidak bertentangan dengan agama. “Kalau agama itu tuntunan universal, Pancasila adalah panduan hidup berbangsa dan bernegara, dan keduanya tidak saling bertentangan,” kata LaNyalla.

Lebih lanjut, ia menjabarkan penerapan Pancasila dalam kehidupan generasi muda sehari-hari, mulai dari integritas dalam bekerja sebagai wujud sila pertama, hingga empati dan adab di ruang digital sebagai cerminan sila kedua.

“Sila ketiga itu tentang kolaborasi dan networking, sila keempat tentang keterbukaan dalam berdiskusi, dan sila kelima tentang etos kerja. Adil itu dimulai dari kontribusi terbaik yang kita berikan,” ujarnya.

Menurut LaNyalla, generasi muda tidak harus menjadi politisi untuk mengamalkan Pancasila. “Kalian cukup menjadi mahasiswa yang jujur, pelajar yang berprestasi tanpa menjatuhkan orang lain, dan pengguna media sosial yang berakal sehat. Itulah Pancasila dalam tindakan. Jadilah generasi yang cerdas secara digital, tapi juga kokoh secara moral,” tukas LaNyalla.

LaNyalla juga mengingatkan generasi muda agar selalu berfikir kritis dan tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial. Ia menilai media sosial kerap menyajikan informasi yang belum tentu benar dan dapat menyesatkan jika tidak disikapi secara kritis.

Pandangan senada disampaikan Sekretaris Jenderal DPW Pemuda Pancasila Jawa Timur, M. Diah Agus Muslim. Ia menilai media sosial dalam lima tahun terakhir telah menjadi referensi utama yang paling mudah diakses oleh masyarakat, khususnya generasi muda.

Ia menjelaskan, banyak pengguna media sosial berhenti pada informasi yang dibaca sekilas tanpa melakukan pendalaman atau pengecekan lanjutan. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat generasi muda langsung berhadapan dengan berbagai persoalan dan nilai-nilai baru tanpa bekal pemahaman yang memadai.

“Akibatnya, batas antara yang benar dan yang salah menjadi kabur. Dulu, yang benar terlihat benar dan yang salah kelihatan salah. Sekarang, semuanya seolah abu-abu,” ujarnya.

Ia mengakui, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. “Kalau generasi kami dulu, relatif lebih jelas mana yang benar dan mana yang salah. Sekarang, tekanannya jauh lebih berat,” ujarnya.

“Ini tidak mudah, tapi harus dihadapi bersama. Generasi muda perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, generasi muda harus kembali ke Pancasila, menjadikan Pancasila sebagai navigasi kehidupan bangsa agar tidak mudah terpengaruh oleh arus informasi yang menyesatkan,” pungkasnya.(*)

Politik yang Datang dengan Sandal Jepit

Saya mengenal nama Sahrin Hamid jauh sebelum saya benar-benar mengenal orangnya. Bukan dari ruang seminar, bukan dari panggung diskusi elit, apalagi dari baliho politik. Nama itu pertama kali singgah di ingatan saya dari pola-pola gerakan demonstrasi menjelang runtuhnya Orde Baru, sekitar 1997–1998. Masa ketika politik tidak dibicarakan dengan pendingin ruangan, tetapi dengan teriakan, keringat, dan risiko.

Sahrin Hamid adalah bagian dari generasi itu, generasi yang menjadikan jalanan sebagai ruang belajar, spanduk sebagai buku teks, dan represi sebagai ujian ideologis. Sahrin bergerak di Bandung, lalu berpindah ke Jakarta, mengikuti denyut perlawanan yang kala itu tidak memberi banyak pilihan selain bergerak atau diam. Bagi sebagian orang, diam bukanlah opsi.

Namun, politik seperti hidup, tidak selalu mempertemukan kita dengan seseorang di waktu yang sama ketika namanya lebih dulu dikenal.  Saya baru benar-benar “berjumpa” dengan Sahrin Hamid secara nyata bertahun-tahun kemudian, tepatnya tahun 2003, dalam sebuah konteks yang sama sekali berbeda, kongres organisasi anak muda.

Suatu hari, seorang kawan lama, Aswar Jaya akrab kami sapa Ajay, menelpon.  Ajay menyampaikan rencana pelaksanaan Kongres pertama Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN) di Samarinda. Dalam percakapan itu, Ajay menyebut satu nama, Sahrin Hamid.

Nama yang terasa akrab di telinga, tetapi jujur saja, saya belum pernah saya duduk dalam satu meja diskusi, belum pernah bercengkrama, apalagi ngopi bareng.

Tapi politik seringkali bekerja seperti itu, kita lebih dulu mengenal reputasi, baru kemudian mengenal manusia.

Singkat cerita, kami berangkat dari Manado, Sulawesi Utara, menghadiri agenda tersebut. Setibanya di lokasi, barulah saya tahu bahwa Sahrin Hamid yang disebut Ajay lewat telepon itu adalah calon Ketua Umum yang akan “dimuluskan” jalannya oleh kawan-kawan.

Dalam hati saya bergumam sederhana bahwa, jika niatnya baik, maka kewajiban kita adalah mendukung. Prinsip itu masih saya pegang sampai hari ini dalam politik maupun dalam hidup.

Forum kongres memanas. Dinamika khas organisasi pemuda terjadi, tarik-menarik kepentingan, representasi wilayah, dan ego yang kadang mendahului substansi. Saya saat itu dipercaya sebagai pimpinan delegasi, dan kami dari Manado bersepakat bahwa harus ada perwakilan kami yang duduk sebagai pimpinan sidang.

Kami berhasil mendorong Muzakir Boven yang akrab kami sapa Bang Polo, untuk memimpin sidang. Keputusan itu memicu dinamika lanjutan. Delegasi Papua menginginkan hal serupa. Forum memanas, suara meninggi, dan pada titik tertentu, kusambar tongkat dudukan pengeras suara (mic) lalu melayang ke meja sidang yang ditempati bang Polo cuap-cuap.

Sidang pun diputuskan diskors sementara.

Di situlah momen yang sampai hari ini masih saya ingat dengan jelas. Ruangan yang sebelumnya riuh mendadak hening. Para kandidat masuk, di antara mereka, Sahrin Hamid hadir dengan penampilan yang dalam standar politik kekinian nyaris “tidak lazim”, Sahrin hadir dengan kaos, celana jeans dan sandal jepit.

Sementara kandidat lain (Andi Harun) hadir dengan kemeja rapi, celana bahan, sepatu kinclong. Secara visual, kontras itu nyaris simbolik.

Anehnya, justru di situlah saya merasa bangga. Dalam dunia politik yang sering terlalu sibuk memoles citra, Sahrin hadir apa adanya. Ia tidak sedang mempersiapkan diri untuk panggung; ia datang karena keadaan memanggil. Dalam situasi darurat, ia tidak berpikir soal penampilan fisik melainkan Sahrin hadir sebagai dirinya sendiri.

Bagi saya, itu bukan soal gaya. Itu soal watak politik.

Akhirnya, Kongres II BM PAN yang dilaksanakan pada 16–19 Mei 2003 di Samarinda, Kalimantan Timur, menetapkan Sahrin Hamid sebagai Ketua Umum.  Sebuah keputusan yang lahir dari proses yang tidak steril, tidak sunyi, tetapi nyata seperti politik seharusnya.

Waktu berjalan. Sahrin kemudian menjadi Anggota DPR RI. Komunikasi kami tetap terjaga, komunikasi lebih sering lewat telpon. Nada suaranya selalu ringan, diselingi tawa, dan hampir selalu ditutup dengan kalimat yang sama: “Salam buat semua kawan dan saudara di sana. Doakan kita semua sehat dan sukses.”

Kalimat sederhana, tapi jujur. Tidak dibuat-buat. Tidak terasa sebagai politisi yang sedang “menjaga jarak”.

Terakhir, saya mendapat kabar bahwa Sahrin Hamid kini memimpin sebuah partai baru bernama Partai Gerakan Rakyat, dengan sikap politik yang konsisten mendukung sahabatnya, Anies Rasyid Baswedan.

Bagi saya, konsistensi adalah mata uang langka dalam politik. Sahrin, sejauh yang saya kenal, adalah orang yang setia pada garis keyakinannya, bukan pada angin kekuasaan.

Harapan saya sederhana, sekaligus besar bahwa semoga apa yang diimpikan Sahrin Hamid bisa terwujud. Karena saya mengenalnya sebagai orang yang istiqomah memperjuangkan kebaikan, bahkan ketika jalannya tidak selalu nyaman.

Saya percaya, ia akan terus berjalan sampai keadilan benar-benar terasa, dan kesejahteraan orang banyak tidak lagi sekadar jargon kampanye.

Selamat bekerja, Sahrin. Doa kami selalu bersamamu.

Disampaikan oleh Aktivis Manado, Baso Affandi, 23 Januari 2026

Gubernur Khofifah Tasyakuran HPN 2026 Bersama Jurnalis Jatim

Gubernur Khofifah Indar Parawansa menyerahkan potongan tumpeng kepada Ketua Pokja Wartawan Grahadi Fatimatuz Zahro..

SURABAYA–KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menggelar tasyakuran Hari Pers Nasional (HPN) 2026 secara sederhana  bersama para jurnalis di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (9/2). Acara berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan, sekaligus sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi insan pers dalam membangun  Jawa Timur.

Hadir dalam kegiatan tersebut Pokja Wartawan Grahadi, Pokja Wartawan Indrapura, Pokja Wartawan Polda Jawa Timur, Pokja Wartawan Hukum (Wankum), serta Komunitas Media Pengadilan Kejaksaan (Kompak). Sejumlah Kepala Perangkat Daerah di lingkungan Pemprov Jatim juga turut hadir mendampingi Gubernur Khofifah.

Momentum tasyakuran ditandai dengan potong  tumpeng dan makan  bersama serta  ramah tamah antara Gubernur Khofifah dan para jurnalis yang selama ini menjadi mitra strategis pemerintah dalam menyampaikan informasi publik kepada masyarakat.

Dalam suasana akrab, Khofifah menyapa dan menyalami satu per satu wartawan yang hadir. Selain itu juga terdapat momen pemberian kue tart kepada jurnalis senior yang telah mengabdikan diri di dunia jurnalistik lebih dari 30 tahun  serta jurnalis  paling yunior sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi panjang mereka.

Khofifah menegaskan bahwa pers memiliki peran penting sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

“Pers memiliki peran strategis sebagai mitra pemerintah sekaligus jembatan komunikasi yang efektif antara pemerintah dan masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, di tengah dinamika sosial dan derasnya arus informasi digital, kehadiran jurnalisme profesional semakin dibutuhkan. Pers diharapkan terus menjaga profesionalisme, memperkuat literasi publik, serta menghadirkan narasi yang menyejukkan.

“Selamat Hari Pers Nasional 2026. Terima kasih atas kerja keras insan pers yang terus menjaga ruang publik tetap sehat dan mencerahkan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Pokja Wartawan Grahadi Fatimatuz Zahro menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Gubernur Khofifah yang secara konsisten setiap tahun menyempatkan diri memperingati Hari Pers Nasional bersama para jurnalis di Jawa Timur, khususnya Pokja Grahadi.

“Kami menyampaikan terima kasih atas perhatian Ibu Gubernur yang setiap tahun menyelenggarakan tasyakuran HPN. Ini menjadi bukti nyata kepedulian dan perhatian Gubernur Khofifah kepada insan pers di Jawa Timur. Semoga sinergi yang terbangun terus terjaga dengan baik,” ungkapnya.

Menurutnya, profesi jurnalis menuntut kerja keras, ketangguhan, serta dedikasi tinggi. Jurnalis, lanjutnya, tidak mengenal jam kerja tetap dan sering kali harus bekerja melampaui waktu normal, terutama ketika terjadi peristiwa-peristiwa penting atau kejadian luar biasa.

“Dalam kondisi tertentu, jurnalis bahkan kerap mempertaruhkan keselamatan demi menghadirkan informasi bagi publik. Namun, prinsip kami tetap satu, tidak ada berita yang seharga dengan nyawa,” kata perempuan yang karib dipanggil Ima ini.

Ima juga menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terjalin baik antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan insan pers. Menurutnya, keterbukaan dan dukungan para narasumber, khususnya Kepala Perangkat Daerah, sangat membantu jurnalis dalam memperoleh informasi yang akurat dan berimbang.

“Alhamdulillah, selama ini teman-teman jurnalis dapat memperoleh informasi dan berita melalui komunikasi yang baik dengan para narasumber di lingkungan Pemprov Jatim,” jelasnya.

Ke depan, Ima menilai tantangan dunia jurnalistik semakin kompleks, terutama dengan berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (AI), termasuk berbagai platform yang mampu menghasilkan narasi secara instan. Meski demikian, ia meyakini bahwa teknologi tidak akan mampu menggantikan sensitivitas, intuisi, dan etika yang dimiliki jurnalis profesional.

“Ini menjadi tantangan tersendiri bagi insan pers. Namun kami yakin, kecerdasan buatan tidak akan mampu mengalahkan sensitivitas dan nurani jurnalis dalam menulis berita,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.