Selasa, 19 Mei 2026, pukul : 13:03 WIB
Surabaya
--°C

Pagar Laut Tangerang

KEMPALAN: Kasus kontroversial terkait pagar laut sepanjang 30,16 kilometer di wilayah pesisir Tangerang, Banten, menjadi sorotan publik belakangan ini. Bukan hanya karena skalanya yang besar dan melibatkan biaya fantastis—diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar—tetapi juga karena polemik hukum dan kebijakan di baliknya.

Persoalan ini menjadi ujian penting bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto: apakah kebijakan negara mampu berdiri kokoh di atas landasan hukum dan keadilan sosial, atau justru terombang-ambing oleh tekanan politik dan kepentingan tertentu.

Kisruh ini bermula dari tindakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang melakukan penyegelan terhadap pagar laut tersebut, disertai ancaman pembongkaran dalam waktu 20 hari sejak 10 Januari 2025.

Presiden Prabowo bahkan memerintahkan pengerahan 600 personel TNI Angkatan Laut untuk memastikan penegakan hukum berjalan tegas. Namun, di tengah upaya tersebut, muncul sikap berbeda dari Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono yang meminta penundaan pembongkaran, dengan alasan perlunya kajian lebih mendalam.

Ketidaksinkronan ini mengindikasikan kelemahan dalam koordinasi antar kementerian, yang seharusnya solid dalam mengambil keputusan strategis.

Pengamat hukum dan politik, Pieter C. Zulkifli, menilai situasi ini mencerminkan potensi tarik-menarik kepentingan di balik kebijakan publik. “Persoalan ini menjadi cerminan apakah kebijakan negara berjalan di atas prinsip hukum atau justru karena tekanan pihak tertentu,” tegasnya.

Interpretasi Regulasi

Secara hukum, perdebatan ini mengacu pada beberapa regulasi penting. Pasal 1 Ayat (4) Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) No. 5 Tahun 1960 mendefinisikan tanah sebagai permukaan bumi, tubuh bumi di bawahnya, serta yang berada di bawah kolom air. Artinya, perairan pesisir, danau, dan sungai termasuk dalam pengertian tanah. Namun, untuk kawasan perairan, terdapat tumpang tindih regulasi antara UUPA dan peraturan khusus di bidang kelautan.

Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Kelautan dan Perikanan menegaskan bahwa pendirian, penempatan, atau pembongkaran bangunan di laut berada di bawah kewenangan KKP. Pasal 8 ayat (3) PP ini secara rinci mengatur bahwa bangunan di atas, di kolom air, maupun di dasar laut, termasuk dalam objek pengaturan negara.

Namun, munculnya Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) dan Sertifikat Hak Milik (SHM) di wilayah pesisir tersebut menimbulkan tanda tanya besar.

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, kemudian mencabut sertifikat-sertifikat tersebut setelah melakukan pemeriksaan dokumen yuridis dan fisik.

Meski langkah ini mendapat apresiasi dari sebagian pihak, ada juga yang mengkritik sebagai tindakan emosional yang kurang memahami kompleksitas hukum pertanahan di wilayah pesisir.

“Langkah Nusron dalam mencabut sertifikat sangat berlebihan dan berisiko menimbulkan kontroversi baru. Seharusnya, keputusan diambil setelah kajian hukum yang komprehensif,” ujar Zulkifli.

Benarkah Terkait PIK 2?

Kasus ini semakin rumit dengan munculnya spekulasi mengenai keterkaitannya dengan Proyek Strategis Nasional (PSN) era Presiden Joko Widodo, khususnya proyek perluasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2.

Meski pihak pengembang membantah keterlibatan mereka, publik tetap curiga, mengingat skala proyek dan nilai ekonominya yang tinggi.

Dalam konteks ini, transparansi pemerintah menjadi kunci. Data dari Kementerian ATR/BPN menunjukkan bahwa sejak 2020, terdapat peningkatan signifikan dalam penerbitan sertifikat lahan di kawasan pesisir, terutama di wilayah-wilayah yang dekat dengan proyek infrastruktur besar. Hal ini menimbulkan kecurigaan bahwa ada oknum yang memanfaatkan celah hukum demi kepentingan pribadi atau kelompok.

Siapa Dirugikan?

Di luar aspek hukum dan politik, yang sering terlupakan adalah dampak sosial bagi masyarakat pesisir.

Pembangunan pagar laut ini diduga mengganggu akses nelayan lokal ke wilayah tangkap tradisional mereka.

Data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten mencatat penurunan hasil tangkapan ikan sebesar 15% sejak 2023 di wilayah tersebut, yang berdampak langsung pada pendapatan lebih dari 3.000 keluarga nelayan.

Ironisnya, proyek yang diduga bertujuan untuk melindungi kawasan pesisir dari abrasi justru menimbulkan “abrasi sosial”—menggerus kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. “Keputusan politik yang tidak mempertimbangkan suara rakyat kecil bisa menjadi bumerang bagi legitimasi pemerintah,” kata Zulkifli.

Kasus pagar laut Tangerang ini adalah ujian nyata bagi pemerintahan Prabowo Subianto.

Di tengah berbagai spekulasi dan tekanan, pemerintah perlu memastikan bahwa hukum tetap menjadi panglima.

Keputusan yang diambil harus berdasarkan kajian hukum yang komprehensif, bukan sekadar respons terhadap opini publik atau tekanan kelompok tertentu.

Presiden Prabowo harus menunjukkan bahwa kepemimpinannya mampu menegakkan keadilan sosial sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945.

Sebagai negara hukum, Indonesia harus memastikan bahwa kebijakan publik berjalan sesuai prinsip rule of law, bukan rule by law.

Mengutip pernyataan almarhum Baharuddin Lopa yang relevan dengan situasi ini: “Banyak yang salah jalan tetapi merasa benar karena banyak teman suka melakukan kesalahan. Beranilah menjadi benar meskipun sendirian.”

Di tengah berbagai spekulasi, satu hal yang pasti: kepercayaan publik adalah aset terpenting dalam demokrasi.

Pemerintah harus bijak dalam mengambil keputusan, memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil berpihak pada kebenaran, keadilan, dan kepentingan rakyat.

Jika tidak, pagar laut ini bukan hanya menjadi simbol fisik pembatas, tetapi juga metafora tentang batas kepercayaan publik terhadap pemerintahnya.

Jatim Tetapkan Status Darurat PMK, Ini Imbauan Pj. Gubernur Adhy

SURABAYA-KEMPALAN: Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono menetapkan status keadaan darurat bencana non alam akibat penyakit mulut dan kuku (PMK) atau Foot and Mouth Disease di seluruh wilayah Jatim.

Status tersebut sesuai Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 100.3.3.1/31/013/2025 tentang Status Keadaan Darurat Bencana Non Alam Akibat Penyakit Mulut dan Kuku di Provinsi Jawa Timur, yang dikeluarkan pada 23 Januari 2025.

“Status keadaan darurat diberlakukan hingga tidak ditemukan lagi PMK atau tidak menjadi masalah Kesehatan ternak pada wilayah Kabupaten/Kota di Jatim atau sesuai rekomendasi pejabat Otoritas Veteriner Provinsi Jawa Timur,” kata Adhy, di Surabaya, Sabtu (1/2).

Di Jatim, total kasus PMK yang telah terlaporkan mulai dari 1 Desember 2024 s/d 30 Januari 2025 sebanyak 18.721 kasus. Dengan rincian, ternak yang masih sakit sebanyak 10.670 ekor (57%), ternak sembuh atau mengalami recovery sebanyak 6.616 ekor (35%) dan 984 ekor ternak mati (5,1%).

Sementara, secara Nasional PMK juga telah terjadi peningkatan kasus di 8 Provinsi yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat, Banten, Lampung, Aceh, dan NTB.

“Rata-rata peningkatan kasus PMK di Jatim telah mencapai 350 ekor/hari dari sebelumnya hanya 10 kasus/hari. Secara epidemiology peningkatan kasus telah mencapai 2 kali standar deviasi rataan kasus selama satu tahun terkahir,” katanya.

Berkaitan dengan peningkatan tersebut, Adhy mengimbau kepada Bupati/Walikota untuk segera melakukan tindakan pengendalian PMK secara holistik dan bekesinambungan.

“Kami juga mengimbau kepada Bupati/Walikota untuk segera menyediakan sharing anggaran guna mempercepat proses pengendalian PMK berupa penyediaan operasional petugas vaksinasi dan pengobatan,” tegasnya.

Serta pembelian peralatan medis pendukung vaksinasi dan pengobatan. Selain itu juga untuk pembelian obat dan vaksin.

“Secara operasional akan kami terbitkan Surat Edaran Gubernur tentang Percepatan Pengendalian PMK di Jawa Timur yang di tujukan kepada Bupati/Walikota,” pungkasnya.

Adapun pelaksanaan pengendalian dan penanggulangan PMK pada ternak diantaranya dengan isolasi hewan sakit berbasis kandang/desa dengan memperhatikan luas penyebaran penyakit, dan mengobati ternak sakit dan vaksinasi pada ternak  sehat. Mendata profil peternakan di tiap wilayah termasuk populasi ternak yang berisiko serta lokasinya (by name by address), dan menutup sementara pasar hewan jika diperlukan atau sesuai rekomendasi Pejabat Otoritas Veteriner setempat.

Selanjutnya, menugaskan dokter hewan untuk melakukan pengawasan terhadap ternak yang diperjualbelikan di pasar hewan, serta meningkatkan monitoring kesehatan hewan, pengawasan lalu lintas hewan dan produknya, serta pembinaan kepada peternak untuk melakukan pelaporan jika menemukan ternak sakit atau mati dengan disertai atau tanpa tanda klinis yang mengarah pada PMK.  (Dwi Arifin)

Hadiri Haul Akbar Sulthonul Auliya di Bangil, Khofifah: Keteladanan Syekh Abdul Qodir Al Jailani R.A. Jadi Referensi Program MBG

PASURUAN-Gubernur Jatim Terpilih Khofifah Indar Parawansa hadir dalam hangatnya majelis Haul Akbar Sulthonul Auliya Assyaikh Abdul Qodir Al Jailani dan Al Habib Abdullah bin Sholeh Assegaf serta santunan 2.487 anak yatim di Majelis Maulid Watta’alim Roudhotussalaf Sepanjang Jalan Utara Masjid Agung Bangil, Minggu kemarin.

Terlebih dalam majelis ini juga turut hadir Habib Umar bin Hamid Al Jaylani yang merupakan cicit Syekh Abdul Qodir Al Jaylani dari Makkah dan juga Pendiri Majelis Watta’lim Raudatussalaf Habib Umar Bin Abdullah Bin Sholeh Assegaf.

Dikatakan Khofifah, majelis yang dihadiri oleh ribuan warga masyarakat Bangil ini membuktikan betapa cintanya masyarakat Indonesia pada Sulthonul Auliya Syekh Abdul Qodir Al Jailani.

“Kira-kira bulan Desember lalu, ada sebuah survei yang mengambil sampel di wilayah ASEAN. Survei tersebut di lakukan oleh Prof. Dr. KH. Ghozali Said Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya dan tim yang menyatakan bahwa masyarakat ASEAN memiliki dua sosok hamba Allah yang amat dicintai . Yang pertama adalah Rasulullah Muhammad SAW dan yang kedua adalah Syekh Abdul Qodir Al Jailani R.A. ,” tegas Khofifah.

Kecintaan pada Syekh Abdul Qadir Al Jailani menurut survei tersebut tak lain karena ajarannya yang kuat antara lain dalam membangun kesalehan sosial. Ulama besar yang juga raja dari para waliyullah (sulthonul auliya’) tersebut mengembangkan ajarannya di Baghdad dan menyebarkan ajaran Islam melalui keteladanan yang beliau lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

“Ajaran Syekh Abdul Qodir Al Jailani telah menjadi referensi kehidupan komunitas muslim tak hanya di Indonesia, ASEAN tapi juga di penjuru dunia,” tegasnya.

Khofifah pun pernah melakukan ziarah langsung ke makam Syekh Abdul Qodir Al Jailani di Baghdad dan melihat langsung keteladanan beliau yang lestari selama hampir 900 tahun. Yaitu memberikan makanan untuk dhuafa dan fuqoro di Baghdad sebanyak dua kali sehari. Yaitu setiap pukul 10.00 pagi dan pukul 17.00 sore.

Porsi yang diberikan bahkan tidak hanya untuk satu orang melainkan satu keluarga. Khofifah bahkan mendapat kesempatan untuk menuangkan sendiri nasi juga sayur dan lauk pauk ke wadah-wadah besar serupa ember pada para penerima.

“Pengalaman ini pernah saya ceritakan pada Bapak Presiden Prabowo Subianto setelah beliau terpilih dan sebelum dilantik. Hal ini saya ceritakan karena beliau punya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dan ternyata Bapak Prabowo menyatakan bahwa beliau sudah pernah ke dapur umum Syekh Abdul Qodir Al Jailani di Baghdad secara langsung,” ujarnya.

“Artinya bahwa MBG ini referensinya bukan hanya soal pemenuhan gizi, penurunan stunting dan juga peningkatan IQ tapi juga referensi spiritual dan kesalehan sosial yang diteladankan oleh Syekh Abdul Qodir Al Jailani RA.,” ujar Khofifah.

Di akhir pihaknya pun mengapresiasi kegiatan santunan sebanyak 2.487 anak yatim yang menjadi rangkaian kegiatan haul akbar hari ini. Pihaknya berdoa agar kelak di hari akhir santunan anak yatim ini diganjar Allah dengan keberkahan yang membukakan pintu-pintu syurga di akhirat.

“Sebagaimana hadist Rasulullah, beliau mengibaratkan barang siapa yang gemar menyantuni dan memperhatikan anak yatim maka diibaratkan dua jari telunjuk dan tengah yang saling berdekatan antaranya dengan Rasulullah di surganya Allàh kelak,” pungkas Khofifah.

Pemprov Jatim dan DKI Jakarta Sepakat Perkuat Sinergi Pembangunan Daerah

Pj. Gubernur Jatim Adhy Karyono (kanan) dan Pj. Gubernur DKI Jakarta, Teguh Setyabudi.

SURABAYA-KEMPALAN: Penjabat (Pemprov Jatim dan DKI Jakarta Sepakat Perkuat Sinergi Pembangunan Daerahmelakukan Penandatanganan Adendum Kesepakatan Bersama Antara Pemprov Jatim dan Pemprov DKI Jakarta di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat (31/1).

Penandatanganan adendum berdasarkan kesepakatan bersama nomor: 100.3.7.1/17/KSB/011.3/2025 tanggal 31 Januari 2025 ini bertujuan untuk memperkuat sinergi di berbagai bidang yang sebelumnya telah terjalin dengan baik.

“Pertemuan hari ini merupakan bentuk upaya nyata untuk menguatkan sinergi program kerjasama di berbagai bidang antara Pemprov Jatim dan DKI Jakarta,” ujar Adhy.

“Pada prinsipnya tentu ini sangat penting karena kerjasama antar daerah itulah kunci untuk bisa mengendalikan inflasi dengan baik. Semoga pertemuan ini bisa berdampak positif bagi Jawa Timur maupun DKI Jakarta,” harapnya menambahkan.

Kerjasama Pemprov Jatim dan DKI Jakarta sendiri telah terjalin sejak tanggal 3 juni 2021 dan akan berakhir pada 3 juni 2026. Adhy menyebut, ke depannya kerja sama akan dikembangkan seiring dengan kebutuhan antara kedua daerah. Maka dari itu, diperlukan beberapa penyesuaian dalam kesepakatan bersama tersebut.

“Di antaranya bidang pangan, pengembangan pertanian, peternakan, dan perdagangan, peluang penanaman modal, pariwisata dan ekonomi kreatif, SDM, kehutanan, koperasi dan UMKM, serta bidang lainnya yang terkait urusan pemerintahan,” terang Adhy.

Adhy menambahkan, Jawa Timur bisa menjadi partner kerjasama lantaran memiliki beberapa kelebihan di berbagai sektor. Dari sisi ekonomi, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tumbuh positif sebesar 4,91 persen pada triwulan III tahun 2024.

“Jawa Timur juga mampu mengendalikan tingkat inflasi sesuai sasaran nasional 2,5+1 persen. Dimana, pada Desember 2024, inflasi Jatim sebesar 1,51 persen (y-on-y) dan didukung dengan kinerja investasi yang tumbuh signifikan,” terangnya.

Lebih lanjut, Adhy juga menjelaskan Jawa Timur mampu mempertahankan posisi sebagai produsen padi terbesar di Indonesia selama empat tahun berturut- turut sejak 2020 hingga 2023. Sedangkan berdasarkan angka sementara Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi Jatim tahun 2024 mencapai 9,23 juta ton-gkg atau setara 5,32 juta ton beras,

“Ini berkontribusi sebesar 17,52 persen terhadap produksi padi nasional,” ucapnya.

Dalam kesempatan ini, Adhy menyampaikan bahwa Pemprov Jatim juga meluncurkan program korporasi petani. Melalui program tersebut, ia berharap daya tawar terhadap tengkulak dan daya saing petani bisa meningkatkan.

“Program ini juga sekaligus sebagai alternatif solusi meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus mengendalikan inflasi pangan,” katanya.

Sementara di sektor peternakan, lanjut Adhy, Jawa Timur konsisten menjadi gudang ternak nasional. Sapi perah Jatim berkontribusi 62 persen terhadap populasi sapi perah nasional dan sapi potong Jatim berkontribusi 28 persen terhadap populasi sapi potong nasional.

“Populasi sapi Jawa Timur pun yang terbanyak di Indonesia,” terangnya.

Banyaknya populasi sapi yang ada di Jawa Timur ini, kata Adhy, membuat Pemprov Jatim terus berupaya untuk menekan wabah yang sedang mengancam. Seperti halnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Lumpy Skin Disease (LSD). Vaksinasi pun terus digencarkan.

“Saat ini telah dilaksanakan vaksinasi PMK sebanyak 14,7 juta dosis atau 95 persen dari target vaksinasi 15,4 juta dosis. Meski begitu secara nasional Jawa Timur tetap menempati peringkat I untuk populasi sapi,” jelasnya.

Tak berhenti di situ, untuk mempertahankan status tersebut, Jawa Timur menjalankan implementasi rencana aksi road map exit strategy PMK. “Hasilnya kejadian penyakit PMK di Jawa Timur telah dapat dikendalikan,” tegasnya.

Lebih dari itu, Adhy mengungkapkan di tahun anggaran 2025, ia mengimbau agar dinas peternakan mengalokasikan kebutuhan obat, vaksin, semen beku, N2 cair untuk kawin suntik/inseminasi buatan (IB).

Saat ini, pemerintah pusat dan provinsi telah mengalokasikan anggaran untuk fasilitasi vaksinasi, obat, vasilitasi IB. “Hanya saja masih belum mencukupi dari kebutuhan,” katanya.

Adhy menyebut beberapa hal tersebut dapat menjadi gambaran untuk menindaklanjuti kerja sama bidang penguatan dan komoditas pangan. Menurutnya Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional pun membutuhkan pasar agar tidak terjadi over suply.

“Dan InssyaAllah ini akan terjadi kebermanfaatan bagi kedua belah pihak tadi bukan hanya produknya tetapi juga pelayanan peningkatan kapasitas bagaimana kelembagaan bagaimana teknologi yang berkaitan dengan peternakan,” jelasnya.

Di sisi lain, Adhy menyambut baik kerja sama bisnis yang melibatkan PT. Food Station Tjipinang Jaya (BUMD Jakarta) dengan mitra bisnis Jatim yaitu UD. Sahabat Tani, Kontak Tani Nelayan Andalan Jawa Timur dan BUMD Jatim Graha Utama (JGU).

“Kami optimis, kerjasama antara Jawa Timur dengan DKI Jakarta mampu semakin harmonis dan potensi kerja sama yang lebih luas dapat digali lebih dalam lagi,” harapnya.

Sementara itu, Pj. Gubernur DKI Jakarta, Teguh Setyabudi mengatakan, penandatanganan adendum dengan Pemprov Jatim ini penting dilakukannya. Karena sebagian pusat perdagangan dan distribusi, DKI Jakarta membutuhkan suplai yang cukup untuk ketahanan pangan dan mengendalikan inflasi.

“Ini memang sangat strategis dalam rangka kita meningkatkan ketahanan pangan, ini juga sesuai dengan arahan Bapak Presiden Prabowo, dimana kita betul-betul ketahanan pangan harus kita tingkatkan dan kita pertahankan,” ungkapnya.

“Kita juga harus menuju swasembada pangan dan DKI Jakarta sangat butuh kerjasama ini,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Pemkot Surabaya  Dukung Pergantian Sistem PPDB Jadi SPMB di 2025

Kepala Dispendik Kota Surabaya Yusuf Masruh.

SURABAYA-KEMPALAN: Pemkot Surabaya  mendukung pergantian sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menjadi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) pada tahun ajaran 2025 yang dilakukan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya Yusuf Masruh mengatakan, Pemkot Surabaya siap mengikuti arahan terkait transisi sistem penerimaan siswa baru yang akan mulai diberlakukan. Menurutnya, pergantian sistem dilakukan sebagai upaya memberikan layanan pendidikan terbaik bagi semua masyarakat.

“Pada intinya kami siap (menerapkan sistem baru), nanti sosialisasi akan gencar dilakukan agar informasinya menyebar kepada semua masyarakat,” kata Yusuf, Jumat (31/1).

Yusuf memastikan, adanya perubahan sistem yang ditetapkan tidak akan menganggu proses pembelajaran hingga penerimaan siswa baru di Kota Pahlawan.

“Saya sudah mendapatkan laporan terkait perubahan PPDB menjadi SPMB, sistem zonasi diganti menjadi domisili. Sepertinya, hampir sama dengan sistem kemarin hanya mungkin presentasenya sedikit berubah menyesuaikan aturan daerah masing-masing,” paparnya.

Kendati demikian, Yusuf menjelaskan bahwa pihaknya sedang menunggu Petunjuk Teknis (Juknis) resmi dari Kemendikdasmen. Setelah itu, akan dilakukan pertemuan dengan berbagai pihak untuk menyusun skema turunan terkait SPMB yang akan dijalankan di Kota Surabaya.

“Ketika pedoman dari pusat turun langsung akan dilakukan rapat dengan praktisi, dewan pendidikan dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) cabang Surabaya untuk menyesuaikan presentase supaya sesuai dengan kondisi Kota Surabaya,” terang Yusuf.

Tak lupa, Yusuf mengimbau kepada seluruh orang tua agar tidak cemas terkait perubahan sistem yang akan diterapkan. Disamping itu, pendaftaran siswa baru tetap bisa dilakukan dengan bantuan sekolah.

“Diharapkan orang tua memantau informasinya, karena nanti pastinya akan disosialisasikan secara pararel lewat media sosial atapun media massa. Orang tua siswa tetap bisa mendaftar lewat pihak sekolah,” harapnya.

Seperti diketahui, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti memperkenalkan SPMB sebagai penganti PPDB. Ada empat jalur pendaftaran yang akan diterapkan dalam sistem baru itu.

Pernyataan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti saat menghadiri Forum Konsultasi Publik terkait Rancangan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah tentang Sistem Pemerimaan Murid Baru di Jakarta, Kamis (30/1). (Dwi Arifin)

Pemkot Surabaya Gelar Kya-Kya Chunjie Fest 2025

SURABAYA-KEMPALAN: Pemkot Surabaya berkolaborasi dengan para pedagang kuliner Kya-Kya menggelar acara ‘Kya-Kya Chunjie Fest 2025’ pada tanggal 1-2 Februari bertempat di sepanjang Jalan Kembang Jepun, Surabaya. Acara tersebut ditujukan untuk menyemarakan dan memperingati Tahun Baru Imlek 2576.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga, serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya Hidayat Syah mengatakan, dalam nuansa Imlek kali ini pihaknya menghadirkan perayaaan yang bisa dinikmati seluruh warga Surabaya. Selain, bazar makanan berbagai hiburan khas Imlek juga turut dihadirkan.

“Mulai dari Barongsai, Leang Leong, Wayang Potehi, Musik Kecapi, Music, penampilan disk jockey (DJ) hingga Fun Games akan ditampilkan secara bergantian selama dua hari,” kata Hidayat, Jumat (31/1).

Acara yang dimulai pada pukul 18.00 WIB, lanjut Hidayat, didukung oleh kelompok masyarakat Tionghoa yang tinggal atau berdomisili di Kota Pahlawan. “Seperti penampilan Wayang Potehi yang didukung oleh masyarakat sekitar dan beberapa hiburan lainnya,” katanya.

Ia menjelaskan, berlangsung acara tersebut juga didukung oleh swadaya pedagang kuliner Kya-Kya Kembang Jepun. Mereka ingin menghadirkan nuansa pecinan dalam perayaan Imlek 2025, sekaligus memberikan pengalaman berbeda bagi para pengunjung Kya-Kya.

“Acara ini juga merupakan inisiatif dari para pedagang. Karena itu, kami mendukung penuh dengan menyediakan MC hingga sarana dan prasarana yang diperlukan selama acara berlangsung,” terangnya.

Selain merayakan Imlek, Hidayat menambahkan bahwa kegiatan dilakukan juga sebagai upaya menjaga, merawat dan mengembangkan kawasan wisata Kota Lama khususnya wilayah Pecinan, Kya-Kya.

“Acara ini bertujuan untuk meramaikan Kya-Kya dalam nuansa Imlek, serta meningkatkan daya tarik wisata sebagai langkah konservasi kawasan Kota Lama,” tambahnya.

Tak ketinggalan, Hidayat mengajak seluruh masyarakat Kota Surabaya dan sekitarnya untuk ikut memeriahkan Kya-Kya Chunjie Fest 2025. Para orang tua yang datang diimbau untuk mengawasi dan memperhatikan anak-anaknya. Selanjutnya, para pengunjung juga diimbau untuk menjaga barang bawaanya masing-masing, serta menjaga kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya.

“Silakan hadir untuk memeriahkan Kya-Kya Chunjie Fest 2025. Ayo datang dan ramaikan Kota Lama Surabaya karena itu tempat bersejarah dari abad ke-18,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Sat Binmas Polresta Sidoarjo Gelar Curhat Bersama Warga

SIDOARJO-KEMPALAN: Sat Binmas Polresta Sidoarjo menggelar forum silaturahmi dengan masyarakat melalui Curhat Kamtibmas di Desa Gisik Cemandi, Kecamatan Sedati dan di Kecamatan Candi Sidoarjo, Jumat (31/1/2025).

Hadir dalam kegiatan Curhat Kamtibmas tersebut Kasat Binmas Polresta Sidoarjo Kompol Madya Wiraaji Kusuma, Kanit Binpolmas AKP Eko Yulianto, Kanit Binkamsa AKP Kusbandini, Bhabinkamtibmas, perangkat desa dan perwakilan warga.

Curhat Kamtibmas Polresta Sidoarjo sebagai upaya diskusi Polri bersama perangkat desa dan masyarakat, guna mewujudkan situasi kamtibmas di wilayah Kabupaten Sidoarjo tetap aman dan kondusif.

Kasat Binmas Polresta Sidoarjo Kompol Madya Wiraaji Kusuma menyampaikan kepada warga, bahwa keamanan dan kondusifitas wilayah di sekitar kita harus terus dijaga bersama-sama. “Baik polisi dan warga senantiasa berkolaborasi untuk saling menjaga kamtibmas di wilayah sekitar kita. Apabila ada potensi gangguan kamtibmas warga jangan takut melapor ke Polisi, TNI, perangkat desa, RT/RW untuk dapat segera teratasi problemnya,” pesannya.

Selain itu, pada kesempatan ini Kompol Madya juga menghimbau warga untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem dalam sepekan ini. Antisipasi terjadinya hujan deras, angin kencang hingga gelombang tinggi air laut.

“Bagi warga yang bermata pencaharian sebagai nelayan dihimbau untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem. Begitu pula bagi warga diharapkan hindari dulu berwisata di kawasan pesisir pantai atau dataran tinggi,” katanya. (Muhammad Tanreha)

Diwawancara CNA Singapura, Khofifah Sosialisasikan Jatim Sebagai Gerbang Baru Nusantara

SURABAYA-Gubernur Jawa Timur Terpilih Khofifah Indar Parawansa mulai menyosialisasikan Jatim Gerbang Baru Nusantara.

Dalam wawancara dengan media asing Channel News Asia (CNA) yang berpusat di Singapura, Khofifah menjelaskan banyak tentang potensi dan keunggulan Jatim sebagai penyokong utama kebutuhan pangan nasional, pusat industri manufaktur dan hub Indonesia wilayah barat dan timur melalui gerbang baru nusantara.

Di kesempatan ini, Khofifah menegaskan bahwa Jawa Timur adalah provinsi dengan produksi padi tertinggi di Indonesia. Setiap tahun produksi beras di Jawa Timur surplus.

“Di tahun 2024 produksi beras Jatim 5,33 juta ton. Sebelumnya di tahun 2023 produksi beras Jatim 5,61 juta ton, ada sedikit penurunan akibat pengaruh el nino dimana seluruh daerah memang mengalami penurunan produksi padi,” kata Khofifah, Jumat (31/1/2025).

“Di tahun 2025, impor beras direncanakan dihentikan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menargetkan panen 2025 mencapai 32 juta ton untuk mewujudkan Indonesia bebas impor beras. Dengan kontribusi Jawa Timur, kami optimis target ini dapat terwujud karena Jatim konsisten surplus produksi beras, bahkan saat produksi menurun,” ujarnya.

Dalam periode kedua Khofifah siap untuk mewujudkan program yang mendukung ketahanan pangan. Dengan program Jatim Agro, sebagai salah satu janji kampanye, pihaknya memiliki program Youth Agrifuture-Hub yang bertujuan meningkatkan produktivitas pertanian dengan memfasilitasi dan mendorong petani muda (Gen Z dan
Milenial).

Selain itu juga terdapat program Jatim Agro-Hub atau (Lumbung Pangan) untuk memastikan ketersediaan pangan yang cukup.

“Luas penanaman padi di Jawa Timur diproyeksikan meningkat menjadi 193.419 hektare pada Maret 2025. Dalam menyongsong peningkatan produksi, kami juga siap mendorong mekanisasi. Di Ponorogo dan Bangkalan contohnya beberapa kelompok tani sudah mengimplementasikan penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan), seperti traktor modern, transplanter, dan combine harvester,” ujar Khofifah.

Selain padi, produk pertanian unggulan Jatim juga adalah jagung, kedelai, aneka sayuran, juga buah-buahan terutama durian, dan banyak yang lain.

Di bidang peternakan, Jawa Timur juga dapat dikatakan sebagai pemimpin nasional dengan populasi per 2023 Jatim memiliki 5,07 juta ekor sapi potong atau 27,24% dari populasi nasional dan sekitar 314.385 ekor sapi perah.

“Di pemerintahan Prabowo-Gibran saat ini memprioritaskan ketahanan pangan, salah satunya melalui swasembada sapi potong dan sapi perah. Jawa Timur senantiasa mendukung upaya tersebut dengan memberikan yang terbaik untuk meningkatkan kualitas dan populasi sapi. Langkah ini kami tempuh melalui inovasi dan teknologi, seperti rekayasa genetika, inseminasi buatan, dan transfer embrio,” ujar Khofifah.

Lebih lanjut saat ini Pemerintah Pusat juga tengah menggalakkan program MBG untuk seluruh siswa di Indonesia, Jawa Timur pun memastikan siap dengan seluruh potensi ketahanan pangan yang ada sebagai sumper protein untuk menyukseskan program MBG.

“Kami juga mendukung program makan bergizi gratis untuk didukung oleh APBD. Alhamdullilah, di awal tahun, DPRD Jawa Timur sepakat mengalokasikan
400 miliar dari APBD untuk mendukung program Makan Bergizi (MBG). Menurut saya, hal ini sangat penting untuk membantu pemerintah pusat memperluas cakupan penerima manfaat di tahap awal atau untuk infrastruktur dapur sehat,” ujarnya.

Ide sharing APBD tentunya sesuai kemampuan fiskal daerah , dikatakan Khofifah adalah wujud dari semangat gotong royong dalam membangun SDM yang unggul di Jawa Timur dan Indonesia. Melalui sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, menurutnya akan bisa memperluas jangkauan penerima dan mutu gizi serta percepatan penjangkauan. Tentu semuanya harus dilakukan sesuai peraturan perundang undangan yang berlaku.

“Investasi di bidang gizi bukan hanya mengatasi permasalahan kesehatan dan stunting, namun juga berkaitan erat dengan masa depan daerah dan
bangsa. Dengan mendukung MBG, kita bisa melahirkan SDM yang lebih sehat, cerdas, dan produktif di masa depan. UMKM tumbuh serta dapat membuka ruang tenaga kerja,” tegasnya.

Industri Manufaktur Jatim Lampaui Target Nasional

Tak hanya menyampaikan kekuatan Jatim sebagai lumbung pangan nasional, namun Khofifah juga menegaskan kekuatan Jatim di sektor industri manufaktur. Dimana saat ini industri manufaktur Jatim sudah mencapai 35 persen di tahun 2024. Capaian ini melampaui target nasional yang mana pemerintah pusat menargetkan industri manufaktur mencapai 30 persen di tahun 2045.

“Saat ini, Jawa Timur telah memiliki tiga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Pertama, KEK Gresik yang difokuskan pada teknologi dan manufaktur, terutama untuk sumber daya yang dihilirisasi. Kedua, KEK Singhasari di Malang yang difokuskan pada sektor digital. Ketiga, KEK Industri Halal di Sidoarjo,” tegas Khofifah.

Model KEK ini ditegaskannya terbukti cukup berhasil di Jawa Timur. Sebagai contoh, di KEK Gresik, kami berhasil menarik investasi sebesar USD 3 miliar untuk pembangunan smelter PT Freeport.

Kabupaten lainnya juga menyatakan keinginan untuk memiliki KEK di wilayahnya. Salah satunya adalah Kabupaten Bangkalan, yang telah mengajukan permohonan.

“Kami terus mengevaluasi dan mempertimbangkan pengembangan KEK lainnya di Jawa Timur,” tegasnya.

Saat ini provinsi Jawa Timur telah menjadi sentra industri
(industrial hub) baru di Indonesia dan berhasil mengundang banyak investor luar negeri. Untuk membuat Jawa Timur menjadi sentra industri, kami akan terus menonjolkan sisi strategis Jawa Timur terutama dalam mendukung perkembangan Indonesia Timur dan hilirisasi.

Fokus ini sudah berhasil melalui KEK di Gresik yang mendapat realisasi investasi IDR 33,4 triliun atau 50,6 persen dari realisasi seluruh KEK di Indonesia.

“Untuk meningkatkan strategisnya Jatim untuk industri kami akan meningkatkan akses Jatim melalui program Trans Laut Jatim untuk meningkatkan dan membangun pelabuhan-pelabuhan di Jatim penunjang kelancaran distribusi logistik di dalam wilayah Jatim, ke provinsi lainnya serta ke berbagai negara,” ujarnya.

Saat ini, Jatim telah menjadi hub dan menjadi gerbang baru nusantara. Sebab saat ini, dari 32 jalur tol laut di Indonesia Timur, sebanyak 27 diantaranya berangkat dari pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Jawa Timur. Selain itu, Jatim juga adalah 80 persen penyuplai logistik untuk kawasan Indonesa Timur.

“Itulah mengapa kami sangat optimistis untuk menjadikan Jatim sebagai gerbang baru nusantara,” pungkasnya.

Unit Kamsel Satlantas Polresta Sidoarjo Pelatihan PPGD Bersama Senkom

SIDOARJO-KEMPALAN: Untuk membangun solidnya sinergitas Polri dengan Senkom, Unit Kamsel Satlantas Polresta Sidoarjo memberikan pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) pada kecelakaan lalu lintas di Sekretariat Senkom Jalan Letjen. Sutoyo, Waru, Jumat (31/1/2025).

Tujuan daripada pelatihan ini adalah untuk kesepahaman dan saling mengerti terkait penanganan gawat darurat, bagi anggota Senkom di wilayah Kabupaten Sidoarjo.

Sehingga apabila terjadi kejadian darurat, seperti kecelakaan lalu lintas anggota Senkom maupun pihak lainnya dapat memahami apa yang harus dilakukan lebih dahulu terhadap korban.

Kanit Kamsel Satlantas Polresta Sidoarjo Iptu Ali Mubarok menjelaskan, bahwa pihaknya rutin menjalin sinergi dengan berbagai mitra maupun elemen masyarakat. Dalam hal mewujudkan Kamseltibcarlantas. Terlebih lagi saat terjadinya insiden penanganan darurat.

“Selain pelatihan penanganan gawat darurat kami juga mensosialisasikan pentingnya tertib berlalu lintas dengan pihak Senkom Mitra Polri,” ujarnya.

Ketua Senkom Sidoarjo Agus Mintono menyambut baik adanya pelatihan dan sosialisasi PPGD dan tertib berlalu lintas dari Satlantas Polresta Sidoarjo. Melalui kegiatan ini, harapnya dapat saling mengedukasi masyarakat tentang keselamatan dan tertib lalu lintas. (Muhammad Tanreha)

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.