TEHERAN-KEMPALAN: Konon, gencatan senjata yang baru saja diberlakukan di Timur Tengah justru dimanfaatkan oleh Amerika Serikat untuk menggelar operasi logistik masif.
Data pelacak penerbangan menunjukkan lebih dari 70 pesawat angkut berat C-17 dan C-5 milik AS bolak-balik mengangkut peralatan militer ke sejumlah pangkalan di kawasan Teluk, Israel, Yordania, Arab Saudi, dan Kuwait, tepat setelah jeda pertempuran diumumkan.
IndepthNTB menyebut, para analis mencatat dalam satu hari saja puluhan penerbangan kargo C-17 menuju Israel. Total lebih dari 70 pesawat angkut berat terdeteksi dalam periode jeda gencatan senjata pertama.
Fakta ini menunjukkan bahwa yang terjadi adalah pengisian ulang pasukan (resupply), bukan penarikan mundur (withdrawal).
Muatan yang diangkut mencakup amunisi, perlengkapan tempur, sistem pertahanan Patriot, serta suku cadang untuk pesawat yang baru saja menjalani enam pekan operasi tempur intensif.
Pentagon secara terbuka menyatakan bahwa pasukan AS akan tetap siaga dan dapat melanjutkan operasi dengan kecepatan serta ketepatan yang sama jika negosiasi gagal. Pernyataan yang lebih blak-blakan justru telah disampaikan langsung oleh Presiden Donald Trump.
“Semua kapal, pesawat, dan personel militer AS, dengan tambahan amunisi serta persenjataan akan tetap berada di tempatnya dan di sekitar, Iran,” tulis Trump dalam pernyataan yang dinilai sebagai bagian yang seharusnya tidak diucapkan (the quiet part) dari strategi AS.
“Kesimpulan para pengamat: AS menggunakan jeda dua minggu ini untuk memuat ulang persenjataan, bukan untuk menenangkan situasi,” tulis The. Wall Street Journal.
Meski negosiasi berlangsung sungguhan, namun persiapan untuk babak kedua jika perundingan gagal juga berlangsung dalam skala penuh. Negosiasi 21 jam yang berlangsung di Islamabat, tak menghasilkan kesepakatan. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi