Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsin Emil Dardak ketika menjadi keynote speaker.
SURABAYA-KEMPALAN: Dalam rangka Hari Pers Nasional 2026 dan HUT PWI ke-80, Pengurus Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Provinsi Jawa Timur menggelar acara seminar bertajuk “Peran Perempuan Dalam Mengakses dan Menyebarkan Informasi di Era Digital” di Aula Kantor PWI Jawa Timur, Jalan Taman Apsari 15-17, Surabaya, Jumat (10/4).
Seminar ini dihadiri sekitar 100 orang, termasuk Ikatan Pelukis Wanita Indonesia (IPWI) Jawa Timur. Dengan narasumber keynote speaker Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsin Emil Dardak, Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Provinsi Jawa Timur Sherlita Ratna Dewi Agustin, Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur Sri Untari Bisowarno, dan Wakil Direktur UKW PWI Pusat
Eko Pamuji.
Kali pertama acara dibuka dengan laporan Ketua IKWI Jatim Endang Suprapti menyatakan bahwa wanita memiliki peran penting dalam era media sosial saat ini. Karena wanita adalah khususnya ibu-ibu salah satu panutan dalam keluarga dalam mendidik anak-anak.
“Ibu-ibu harus bisa menyaring informasi yang benar dan tidak hoax untuk anak-anak. Ibu-ibu harus juga bisa membedakan mana informasi yang benar dan hoax umtuk anak-anak.Jadi wanita adalah garda terdepan dalam akses dan menyebarkan informasi untuk keluarga. Saya berharap ibu-ibu juga harus menyaksikan atau akses informasi yang positif positif saja untuk anak-anak,” ujarnya.
Selanjutnya Ketua PWI Jatim Lutfil Hakim giliran menyampaikan sambutannya. Dia mengatakan, di era digital menguasai informasi itu sangat penting.

“Untuk bisa menguasai informasi maka kuasai wartawan. Untuk bisa menguasai wartawan kuasailah istri-istrinya,” katanya sambil bercanda.
Sehingga, lanjut Lutfil Hakim, kedudukan wanita dalam era digital atau informasi ini sangat penting. Menurutnya pengguna medsos di Indonesia khususnya Jawa Timur jumlahnya fifty-fifty antara wanita dan pria.
“Tapi yang terpenting informasi dari ibu lebih dipercaya di mata keluarga. Sehingga ibu-ibu harus juga hati-hati memilih informasi untuk anak-anaknya,” ujar Lutfil.

Giliran keynote speaker Arumi menyampaikan materinya berupa slides. Ternyata ada fakta menarik. Demografi Jawa Timur, jumlah penduduk Jawa Timur pada 2025 sebanyak 42,352 juta, terbagi 21,10 juta penduduk laki-laki dan 21,25 juta penduduk perempuan.
Penetrasi atau pengguna internet di Indonesia pada 2025, yakni 80,66 persen. “Yang menarik, perempuan mendominasi pengguna media sosial sekitar 56,3 persen. Tren dominasi ini sebenarnya sudah terlihat sejak 2021, yakni 52,6% pengguna instagram adalah perempuan,” ujarnya.
Media sosial apa saja yang banyak diakses di Indonesia. “WhatAsp 91,7%, Instagram 84,6%, Facebook 83,0%, Tiktok 77,4%, Telegram 61,6 %, dan Messenger 50,5%, Jadi ibu-ibu harus mengontrol dengan ketat penggunaan medsos untuk anak-anak,” ujar Arumi.
Dalam kesempatan itu, Arumi juga memaparkan bagaimana memilih media yang benar dan hoax dan bagaimana mengatasi informasi hoax.
“Jadi ibu-ibu harus selalu check and recheck informasi yang didapatkan di medsos sebelumnya disebarkan ya,” jelasnya.
Terakhir, Arumi meminta hindari update status real time pada di medsos. “Ini berbahaya. Karena orang bermaksud jahat tahu posisi kita sebenarnya. Jadi saya bila update status di medsos biasanya tidak real time. Ke Bromo pagi, tiba di rumah malam, baru update status di FB,” ujarnya.
Sementara itu, pada diskusi panel, Ketut yang mewakili Dinas Komunikasi dan Informasi Provinsi Jawa Timur mengatakan, ada aplikasi yang bisa mengontrol anak-anak mengakses media sosial. “Coba saja ibu-ibu cari Google,” pintanya.
Sedangkan Sri Untari mengatakan, selain membatasi akses medsos untuk anak-anak, juga penting disertai doa. Sehingga ia selalu berdoa untuk kesuksesan anak-anaknya, karena doa ibu itu lebih mustajab. “Alhamdulilah, anak-anak saya berhasil dan sukses,” ujar Ketua Komisi E DPRD Jatim ini.
Sedangkan Eko Pamuji mengatakan, di era medsos ini kita harus skeptis atau waspada. ”Ibu-ibu, dunia internet di genggaman tangan kita seperti hutan banyak binatang buas. Jadi kita harus tetap waspada bila menerima informasi di medsos. Check and recheck jangan lupa,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi