Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
SURABAYA-KEMPALAN: Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi telah melakukan berbagai inovasi untuk meningkatkan kesejahteraan warga hingga kemudahan berinvestasi.
Ia juga terus mendorong jajaran Pemkot Surabaya turun langsung ke masyarakat. Tujuannya untuk mendengarkan secara langsung apa yang dibutuhkan warga, sehingga pelayanan publik bisa semakin baik ke depannya.
Terbaru. Wali Kota Eri ingin menjadikan Surabaya sebagai “Kota Jasa”. Karena itu, ia meminta kepada jajarannya agar mengutamakan transparansi dalam setiap pelayanan yang berjalan di Kota Surabaya untuk meningkatkan kepercayaan publik.
“Kita itu adalah satu-satunya kota yang pendapatan asli daerahnya (PAD) terbesar di Indonesia, sekitar 75 persen PAD kita. Maka kehidupan kita itu berdasarkan kemampuan kita mencari PAD, ketika mencari PAD maka diperlukan transparansi dan kepercayaan,” kata Wali Kota Eri, Kamis (9/4).
Wali Kota Surabaya yang akrab disapa Cak Eri itu berharap, dengan adanya transparansi secara tidak langsung akan meningkatkan PAD. Agar transparansi itu berjalan, ia menyebutkan, pemkot melakukan digitalisasi dalam setiap pelayanan publik.
“Ketika ada restoran, ketika ada hotel, maka jangan (datang) berdiri di hotel menunggu. Kalau seperti itu kan tidak ada rasa saling percaya. Maksud saya, bagaimana kita punya alat (digital) dan ditaruh di servernya, dan sekarang sudah berjalan untuk restoran yang level 4, lalu hotel bintang 5, 4, dan 3 sudah jalan, sehingga di akhir tahun 2025 PAD kita naik dari hotel itu Rp100 miliar,” sebut Cak Eri.
Cak Eri menyampaikan, adanya transparansi dan digitalisasi di setiap pelayanan publik, secara tidak langsung juga akan meningkatkan kesejahteraan warganya. “Maka yang saya ingin bangun itu adalah ketika kita bisa bersama-sama sejahtera, dan membuat kita sadar bahwa yang mampu itu membantu yang tidak mampu. Dan kepercayaan kita, karena kita Kota Jasa maka semua orang yang berinvestasi di Surabaya ya pakai digitalisasi,” ujarnya.
Tidak hanya menerapkan digitalisasi dalam pelayanan investasi saja, Cak Eri menerangkan, pemkot saat ini juga sedang konsen dengan penerapan digitalisasi parkir atau pembayaran parkir non tunai.
Dirinya mengungkapkan, inovasi pembayaran parkir non tunai sebelumnya diserap dari usulan masyarakat. Saat ini, pembayaran parkir non tunai sedang dilakukan sosialisasi dan rencananya akan mulai diterapkan pada akhir April mendatang.
“Kami konsen terus, karena warga Surabaya yang meminta dan saya juga minta tolong kepada warga Surabaya, hari ini harus berperan kalau bayar (parkir) ya non tunai. Jangan setelah mengusulkan, tapi bayar parkir tetap tunai,” tuturnya.
Cak Eri menambahkan, sistem pembayaran parkir non tunai bukan sekadar untuk memudahkan masyarakat, akan tetapi juga sebagai bentuk transparansi pemkot dalam penyerapan PAD Kota Surabaya. “Maka uang PAD ini lah yang akan kita gunakan untuk kesehatan gratis, pendidikan gratis, untuk pembangunan rumah tidak layak huni (Rutilahu) dibantu oleh warga, sehingga Surabaya ini bisa sejahtera,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi