Solusi awal adalah tidak adanya Prabowo dan Gibran. Lebih baik reformasi lagi dengan menata ulang kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak ada harapan untuk melanjutkan pemerintahan model penjajahan oligarkis.
Oleh: M Rizal Fadillah
KEMPALAN: Kesabaran menunggu keberanian Presiden Prabowo Subianto untuk menjalankan aspirasi rakyat sudah hampir habis. Ternyata Prabowo itu penakut dan selalu berlindung di balik mitos strategi.
Penyakit NPD dan megalomania semakin melengkapi inkonsistensi tindakannya. Secara bertahap kepercayaan sirna. Desakan makzulkan Gibran Rakabuming Raka untuk memperkuat posisi Prabowo menjadi sia-sia. Kini yang lebih realistis adalah makzulkan Prabowo – Gibran.
Publik telah membaca bahwa Prabowo itu Presiden yang berat, tidak mampu dan gagal. Berpasangan dengan Gibran, jelas jauh dari ideal. Paket antara ketuaan dan kemudaan. Kepikunan dan kekanak-kanakan. Tidak menjadi kerjasama yang saling memperkuat melainkan memperlemah. Simbiosis parasitisma.
Memakzulkan Prabowo Gibran itu konstitusional, artinya syarat dan mekanisme diatur dalam Pasal 7 dan Pasal 8 UUD 1945. Rakyat tidak perlu khawatir berbicara mengenai pemakzulan atau impeachment atas keduanya.
Tidak ada kekosongan kekuasaan akibat pemakzulan. Jelas semua diatur pola dan tindak lanjut. Prabowo sendiri menyadari adanya aspirasi pemakzulan atas dirinya dengan menunjuk kepada mekanisme Soekarno, Soeharto, dan Gus Dur.
Memang Prabowo Gibran mendesak untuk dimakzulkan karena:
Pertama, keduanya dihasilkan dari Pemilu curang lewat cawe-cawe Presiden Joko Widodo ketika itu. Tapi, keduanya merasa pilihan rakyat murni. Pertobatan tidak dilakukan.
Kedua, tidak akan mampu melepaskan diri dari ketergantungan pada Jokowi, baik pengaruh di kabinet, aparat, maupun pengusaha. Prabowo seperti kerbau dicocok hidung.
Ketiga, buta tuli dari suara dan aspirasi rakyat. Evaluasi MBG, keluar BOP, ganti Kapolri, tindak tegas KKN, atau stop pemborosan birokrasi dianggap lalu dan tidak perlu.
Keempat, bergerak menuju otoritarian dan pelanggengan oligarki. Heroisme itu sebatas omon-omon dan retorika. Lain kata dengan perbuatan. Kultur munafik dibangun.
Kelima, tidak ada perbaikan ekonomi, kesejahteraan masyarakat stagnan bahkan merosot, daya beli semakin rendah, pengangguran dahsyat. Krisis global tambah memperburuk ekonomi nasional. Prabowo bukan solusi tapi bagian dari masalah itu sendiri.
Solusi awal adalah tidak adanya Prabowo dan Gibran. Lebih baik reformasi lagi dengan menata ulang kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak ada harapan untuk melanjutkan pemerintahan model penjajahan oligarkis.
Kini menguat aspirasi untuk memakzulkan Prabowo Gibran. Que sera sera, what ever will be will be.
*) Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi