SURABAYA –KEMPALAN: Standar pendidikan menengah di Jawa Timur baru saja dinaikkan levelnya. SMA Labschool Universitas Negeri Surabaya (Unesa) membuktikan bahwa go international bukan lagi sekadar jargon di brosur sekolah, melainkan realitas yang dipaksa hadir di ruang kelas.
Melalui program eksklusif World Class Educator Series pada Selasa (7/4/2026), SMA Labschool Unesa melakukan langkah “jemput bola” dengan menghadirkan para arsitek pendidikan dari tiga institusi elite dunia: National Dong Hwa University (NDHU) Taiwan, University of Queensland Australia, dan Bond University Australia.
Bukan Sekadar Sosialisasi, Tapi Intervensi Mental
Direktur Badan Pengelola Sekolah Laboratorium (BPSL) Unesa, Prof. Sujarwanto, M.Pd., menegaskan bahwa kehadiran para pakar lintas benua ini adalah bentuk intervensi kurikulum non-formal. Tujuannya satu: meruntuhkan mental inferior siswa dalam persaingan global.
“Kami tidak ingin siswa hanya bermimpi. Kami menghadirkan narasumber internasional agar mereka memegang roadmap atau peta jalan yang nyata. Mereka harus tahu persis bagaimana menembus rigitnya sistem pendidikan di luar negeri,” tegas Prof. Sujarwanto dengan nada optimis.
Bahasa Inggris: Dari Mata Pelajaran Menjadi Senjata

Fenomena menarik terlihat di lapangan. Kepala SMA Labschool Unesa 1, Dewi Purwanti, menyoroti lonjakan drastis minat siswa untuk kuliah ke luar negeri yang dibarengi dengan kemampuan adaptasi bahasa yang luar biasa.
Senada dengan hal itu, Ketua Yayasan, Endah Purnomowati, menilai kepercayaan diri adalah aset termahal yang dimiliki siswa saat ini. “Keberanian mereka berdialog langsung dengan narasumber asing menunjukkan bahwa secara mental, mereka sudah ‘lepas’ dari batas-batas lokal,” ujarnya.
Titik Balik Sang Calon Pemimpin Masa Depan
Respon dari para akademisi dunia pun sangat positif. Mereka mengaku terkejut dengan daya kritis siswa Labschool Unesa yang dinilai di atas rata-rata. Interaksi dua arah yang intens membuktikan bahwa bahasa bukan lagi tembok, melainkan jembatan.
Bagi para siswa, seperti Tamam (Kelas XI), sesi ini adalah momen pencerahan. “Saya jadi paham detail persiapan kuliah di New Zealand, mulai dari adaptasi budaya hingga standar akademik. Sekarang saya jauh lebih yakin untuk mengejar kampus impian di sana,” ungkapnya.
Catatan Penutup: Menjadi Pemain Utama
Langkah SMA Labschool Unesa melalui World Class Educator Series ini mengirimkan pesan kuat kepada publik: bahwa sekolah di daerah pun mampu menyediakan aksesibilitas global sekelas sekolah internasional di ibu kota. Dengan membekali siswa melalui wawasan mendalam dan jejaring internasional, Labschool Unesa memastikan lulusannya tidak hanya menjadi penonton, melainkan pemain utama di panggung global.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi