JAKARTA & SIDOARJO –KEMPALAN : Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) menjadi saksi bisu sebuah anomali sepak bola yang menggetarkan dunia. Dalam laga final FIFA Series 2026, Timnas Indonesia tampil melampaui logika saat menghadapi raksasa Eropa, Bulgaria. Meski papan skor berakhir 0-1 untuk kemenangan tipis tim tamu, narasi pertandingan bercerita jauh lebih besar daripada sekadar angka.
Indonesia, yang awalnya diprediksi pengamat akan menjadi “bulan-bulanan” kualitas kelas dunia Bulgaria, justru membalikkan keadaan di atas lapangan hijau. Skuad Garuda menguasai jalannya laga dengan statistik penguasaan bola mencapai 55% berbanding 45%. Tekanan demi tekanan yang dilancarkan anak asuh pelatih John Herdman memaksa Bulgaria bermain defensif di sebagian besar babak kedua.
Gema Nasionalisme di Lapangan Mako Brimob Medaeng Waru Sidoarjo

Euforia luar biasa ini tak hanya terasa di Senayan. Jauh di Sidoarjo, Jawa Timur, atmosfer stadion “dipindahkan” secara magis ke Lapangan Mako Brimob Medaeng, Waru. Ratusan prajurit Kompi 4 Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Jatim menggelar nonton bareng (nobar) yang jauh dari kesan santai.
Nobar yang diinisiasi oleh Komandan Kompi (Danki) AKP Setiawan, S.H., ini disulap layaknya tribun sungguhan. Sebelum peluit kick-off dibunyikan, para prajurit berdiri tegak dengan sikap sempurna, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan suara menggelegar yang memecah kesunyian malam di kawasan Medaeng.
Instruksi Danki: Ambil Hikmah dari Lapangan Hijau

AKP Setiawan menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar hiburan pelepas penat. Ia sengaja menginstruksikan seluruh anggotanya untuk menonton dengan penuh penghayatan guna menebalkan rasa nasionalisme.
“Saya perintahkan anggota untuk melihat perjuangan pemain di lapangan sebagai cerminan tugas kita. Ada disiplin, ada kerja sama tim, dan yang terpenting adalah kegigihan membela kehormatan bendera Merah Putih di dada,” tegas AKP Setiawan saat ditemui di sela-sela riuhnya dukungan para anggotanya.
“Tribun” Medaeng: Dari Yel-Yel hingga Taktik Ala Herdman
Uniknya, suasana nobar ini terasa sangat emosional. Para prajurit tak henti-hentinya meneriakkan yel-yel suporter layaknya mereka berada di garis depan tribun SUGBK. Bahkan, tak jarang para anggota Brimob ini mendadak menjadi “pelatih dadakan”.
Instruksi-instruksi taktis hingga teriakan lantang ala pelatih John Herdman kerap terdengar dari tempat duduk saat pemain Indonesia membangun serangan. Mereka menganalisis pergerakan pemain dengan serius, menunjukkan kedekatan emosional yang mendalam antara aparat keamanan dan tim nasional.
Meski hasil akhir tidak memihak pada Indonesia, kekalahan 0-1 dari Bulgaria malam itu diterima dengan kepala tegak. Di Mako Brimob Medaeng, perjuangan 11 pemain di lapangan telah berhasil menjalankan misi lain yang tak kalah penting: menyalakan kembali api nasionalisme yang membara di sanubari para Bhayangkara negara.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi